ilustrasi ekonomi global (pexels.com/Monstera Production)
Selain itu, posisi investasi portofolio dan investasi lainnya juga menurun seiring pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo. Pelemahan harga saham domestik serta penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah, turut memengaruhi penurunan KFLN.
"Perkembangan PII Indonesia pada kuartal I-2026 masih menunjukkan kondisi yang sehat dan mendukung ketahanan eksternal nasional," tegasnya.
Hal ini tercermin dari rasio kewajiban neto PII terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 15,5 persen pada kuartal I-2026, lebih rendah dibandingkan 18,9 persen pada kuartal IV-2025.
Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia masih didominasi instrumen jangka panjang dengan porsi mencapai 92,5 persen, terutama dalam bentuk investasi langsung yang dinilai lebih stabil terhadap gejolak pasar keuangan global.
Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global yang berpotensi mempengaruhi prospek PII Indonesia. Bank sentral juga menegaskan akan memperkuat bauran kebijakan serta mempererat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga ketahanan sektor eksternal dan memitigasi risiko yang berasal dari kewajiban neto PII terhadap perekonomian nasional.