Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PII Indonesia Menguat, Kewajiban Neto Susut Jadi 227,6 Miliar Dolar
ilustrasi investasi (magnific.com/rawpixel.com)
  • Kewajiban neto PII Indonesia turun jadi 227,6 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026 karena penurunan KFLN lebih besar dibanding AFLN.
  • Aset finansial luar negeri tercatat 556,7 miliar dolar AS, turun tipis akibat berkurangnya cadangan devisa dan penguatan dolar AS terhadap mata uang lain.
  • KFLN menurun ke 784,3 miliar dolar AS, namun investasi langsung tetap surplus dan rasio kewajiban neto terhadap PDB turun ke 15,5 persen, menandakan ketahanan eksternal terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat perbaikan pada kuartal I-2026 yang tercermin dari kewajiban neto PII Indonesia turun menjadi 227,6 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026, dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar 273,4 miliar dolar AS.

"Penurunan kewajiban neto tersebut terjadi karena penyusutan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dibandingkan penurunan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN)," ucap Kepala Departemen Komunikasi (DKom) BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

1. Posisi aset finansial luar negeri capai 556,7 miliar dolar AS

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Triyan).

Ia menjelaskan, posisi aset finansial luar negeri (AFLN) Indonesia pada akhir kuartal I-2026 tercatat sebesar 556,7 miliar dolar AS atau turun 0,4 persen secara kuartalan dari 559,1 miliar dolar AS pada akhir kuartal IV-2025.

BI menjelaskan, penurunan AFLN terutama dipengaruhi oleh berkurangnya posisi cadangan devisa seiring kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Selain itu, pelemahan harga aset dan penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara penempatan aset turut menekan posisi AFLN, meskipun aset investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya masih mencatat peningkatan," ucapnya.

2. KFLN kuartal I tercatat sebesar 784,3 miliar dolar AS

ilustrasi investasi (unsplash.com/Leeloo The First)

Di sisi lain, Denny menjelaskan, posisi KFLN Indonesia turun lebih dalam. Pada akhir kuartal I-2026, KFLN tercatat sebesar 784,3 miliar dolar AS atau turun 5,8 persen secara kuartalan dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai 832,6 miliar dolar AS.

Menurut BI, penurunan tersebut terutama disebabkan melemahnya nilai instrumen keuangan domestik. Meski demikian, aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio tetap terjaga.

"Kinerja investasi langsung tetap membukukan surplus yang mencerminkan terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik," ungkapnya.

3. BI pastikan kondisi PII kuartal I masih terjaga

ilustrasi ekonomi global (pexels.com/Monstera Production)

Selain itu, posisi investasi portofolio dan investasi lainnya juga menurun seiring pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo. Pelemahan harga saham domestik serta penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah, turut memengaruhi penurunan KFLN.

"Perkembangan PII Indonesia pada kuartal I-2026 masih menunjukkan kondisi yang sehat dan mendukung ketahanan eksternal nasional," tegasnya.

Hal ini tercermin dari rasio kewajiban neto PII terhadap produk domestik bruto (PDB) yang turun menjadi 15,5 persen pada kuartal I-2026, lebih rendah dibandingkan 18,9 persen pada kuartal IV-2025.

Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia masih didominasi instrumen jangka panjang dengan porsi mencapai 92,5 persen, terutama dalam bentuk investasi langsung yang dinilai lebih stabil terhadap gejolak pasar keuangan global.

Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global yang berpotensi mempengaruhi prospek PII Indonesia. Bank sentral juga menegaskan akan memperkuat bauran kebijakan serta mempererat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga ketahanan sektor eksternal dan memitigasi risiko yang berasal dari kewajiban neto PII terhadap perekonomian nasional.

Editorial Team

Related Article