Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Gaji Besar, Ini Faktor Utama Hilangkan Kecemasan akan Uang

Bukan Gaji Besar, Ini Faktor Utama Hilangkan Kecemasan akan Uang
ilustrasi cemas, khawatir (magnific.com/Drazen Zigic)
Share Article

Banyak orang berpikir bahwa gaji besar adalah solusi utama untuk menghilangkan rasa cemas soal keuangan. Logikanya memang terdengar masuk akal karena penghasilan yang lebih tinggi dianggap mampu memenuhi semua kebutuhan. Namun, hasil survei terbaru justru menunjukkan bahwa kenyataannya gak sesederhana itu, lho.

Ada faktor lain yang ternyata jauh lebih berpengaruh terhadap rasa aman secara finansial dibanding nominal gaji bulanan. Jika selama ini kamu merasa semakin besar penghasilan seharusnya semakin tenang, temuan ini mungkin bisa mengubah cara pandangmu tentang uang.

1. Kekayaan bersih ternyata lebih berpengaruh daripada gaji

ilustrasi wealth
ilustrasi wealth (vecteezy.com/pornphan suriyakhamwong)

Survei terhadap 1.875 orang dewasa di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Acorns menemukan bahwa kenaikan pendapatan gak otomatis membuat tingkat kecemasan finansial menurun secara signifikan. Sebaliknya, rasa tenang lebih banyak dirasakan oleh mereka yang memiliki net worth atau kekayaan bersih yang lebih tinggi. Kekayaan bersih sendiri merupakan selisih antara total aset yang dimiliki dengan seluruh utang yang masih harus dibayar.

Data survei menunjukkan bahwa 51 persen responden dengan penghasilan di bawah 20 ribu dolar AS (sekitar Rp358 juta) per tahun mengaku mengalami kecemasan finansial. Sementara itu, pada kelompok dengan penghasilan antara 60 ribu dolar AS hingga 80 ribu AS (sekitar Rp1,07 miliar hingga Rp1,43 miliar) per tahun, angkanya masih mencapai 46 persen. Perbedaan tersebut gak terlalu besar, sehingga menunjukkan bahwa kenaikan gaji saja belum tentu mampu memberikan rasa aman terhadap kondisi keuangan.

2. Utang dan minimnya aset bisa membuat rasa cemas semakin besar

ilustrasi utang
ilustrasi utang (vecteezy.com/Dilok Klaisataporn)

Hasil survei juga memperlihatkan bahwa kondisi kekayaan bersih memiliki hubungan yang jauh lebih kuat dengan kecemasan finansial. Sebanyak 65 persen responden yang memiliki kekayaan bersih negatif atau jumlah utangnya lebih besar daripada aset mengaku merasa cemas terhadap kondisi keuangannya. Sebaliknya, persentase tersebut jauh lebih rendah pada mereka yang memiliki aset tanpa utang maupun kekayaan bersih positif.

Terapis keuangan Aja Evans menjelaskan bahwa seseorang dengan kekayaan bersih rendah biasanya memiliki pilihan yang lebih sedikit ketika menghadapi keadaan darurat. Artinya, ketika terjadi hal yang tak diinginkan, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak, mereka gak memiliki cukup aset yang bisa digunakan sebagai sumber dana. Kondisi inilah yang akhirnya membuat rasa khawatir terhadap uang menjadi semakin besar.

3. Rasa aman finansial lebih penting daripada besarnya penghasilan

ilustrasi rileks, tenang
ilustrasi rileks, tenang (vecteezy.com/Viorel Kurnosov)

Menurut Aja Evans, kecemasan finansial sebenarnya lebih berkaitan dengan rasa aman dibanding besarnya angka di rekening. Seseorang bisa saja memiliki gaji tinggi, tapi tetap merasa takut jika sewaktu-waktu kehilangan pekerjaan atau gak mampu menghadapi situasi darurat. Perasaan itulah yang akhirnya memicu stres berkepanjangan.

Hal tersebut juga diperkuat oleh kondisi ekonomi saat ini. Inflasi yang terus meningkat membuat banyak orang bergantung pada kartu kredit maupun pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, sebagian pekerja bahkan mulai menggunakan tabungan pensiun mereka demi mendapatkan dana tunai. Meski penghasilan besar dapat membantu mengurangi tekanan tertentu, rasa cemas tetap bisa muncul apabila beban utang juga ikut meningkat.

4. Kecemasan soal uang bisa memengaruhi cara kamu mengambil keputusan

ilustrasi susah tidur (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi susah tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Erika Rasure, Chief Financial Wellness Advisor di Beyond Finance, menjelaskan bahwa beban emosional akibat masalah keuangan dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan yang jernih. Ketika pikiran dipenuhi rasa khawatir tentang uang, seseorang cenderung kesulitan mempertimbangkan berbagai pilihan secara objektif. Akibatnya, keputusan yang diambil justru berisiko memperburuk kondisi keuangan.

Rasure juga menjelaskan bahwa tekanan akibat utang gak hanya berdampak pada kondisi finansial. Beban tersebut dapat terbawa ke kualitas tidur, hubungan dengan keluarga maupun pasangan, pekerjaan, hingga kesehatan fisik. Dengan kata lain, kecemasan finansial bukan hanya soal angka di rekening, tapi juga bisa memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

5. Jangan mengambil keputusan keuangan saat sedang panik

ilustrasi berpikir (pexels.com/Budgeron Bach)
ilustrasi berpikir (pexels.com/Budgeron Bach)

Survei Acorns juga menunjukkan bahwa kecemasan finansial dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang memiliki penghasilan maupun kekayaan cukup besar. Sebanyak 43 persen responden dengan kekayaan bersih antara 500 ribu dolar AS hingga 800 ribu dolar AS (sekitar Rp8,95 miliar hingga Rp14,33 miliar) masih mengaku mengalami kecemasan finansial. Bahkan, sekitar 24 persen responden dengan kekayaan bersih lebih dari US$800.000 (lebih dari Rp14,33 miliar) juga merasakan hal yang sama.

Melihat kondisi tersebut, Aja Evans menyarankan agar seseorang tidak mengambil keputusan keuangan ketika sedang stres atau berada dalam kondisi krisis. Menurutnya, keputusan yang dibuat saat emosi sedang gak stabil cenderung hanya berfokus pada solusi jangka pendek. Erika Rasure juga menyarankan agar kamu lebih dulu menenangkan diri, lalu memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan sebelum menentukan langkah finansial berikutnya.

Memiliki gaji tinggi memang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup, tapi bukan jaminan seseorang akan terbebas dari kecemasan finansial. Kondisi kekayaan bersih, besarnya utang, ketersediaan aset, serta rasa aman terhadap masa depan ternyata memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.

Karena itu, selain berusaha meningkatkan penghasilan, kamu juga perlu membangun kondisi keuangan yang lebih sehat dengan mengelola utang, memperbanyak aset, dan menyiapkan dana darurat. Dengan begitu, rasa tenang yang kamu cari bukan hanya berasal dari besarnya gaji, tapi juga dari fondasi keuangan yang lebih kuat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More