Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pinjol Jadi Andalan Belanja, Porsi Pinjaman Konsumtif Meningkat
ilustrasi pinjol (vecteezy.com/Tonefoto grapher)
  • Hingga Mei 2026, 86 persen pinjaman online digunakan untuk kebutuhan konsumtif, naik dari 68 persen pada April 2024; porsi pembiayaan produktif menyusut menjadi 14 persen.
  • Pada Juni 2026, indeks pinjaman mencapai 157,7 dan tumbuh 24,6 persen tahunan, sementara indeks tabungan turun ke 84,8 dengan kontraksi 5,7 persen.
  • Outstanding pinjol mencapai Rp103,7 triliun pada Mei 2026, sedangkan paylater tumbuh paling cepat 53,6 persen secara tahunan, melampaui pinjol dan kartu kredit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tren penggunaan pinjaman online atau pinjol di Indonesia menunjukkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya pinjaman banyak dimanfaatkan sebagai modal usaha atau kegiatan produktif, kini semakin banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Data yang dihimpun IDN Times, hingga Mei 2026 menunjukkan porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif mencapai 86 persen dari total penyaluran pinjaman. Angka tersebut meningkat dibandingkan April 2024 yang sebesar 68 persen.

1. Porsi pinjaman untuk kegiatan produktif makin susut ke posisi 14 persen per Mei 2026

Ilustrasi pinjaman online. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sebaliknya, porsi pinjaman untuk tujuan produktif terus menyusut. Pada April 2024, pembiayaan produktif masih menyumbang 32 persen dari total pinjaman online. Namun, pada Mei 2026 porsinya tinggal 14 persen.

Pergeseran komposisi tersebut mencerminkan semakin besarnya ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dibandingkan sebagai sumber pembiayaan usaha.

Tren tersebut juga mengindikasikan pertumbuhan industri pembiayaan digital kini lebih banyak ditopang oleh permintaan kredit konsumtif. Di tengah tekanan terhadap daya beli, masyarakat memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan, termasuk pinjaman online dan layanan buy now pay later (paylater), untuk menjaga tingkat konsumsi.

2. Indeks pinjaman meningkat, indeks tabungan susut

ilustrasi paylater (IDN Times/Aditya Pratama)

Data hingga Juni 2026 menunjukkan indeks pinjaman meningkat menjadi 157,7, jauh lebih tinggi dibandingkan indeks belanja yang berada di level 115,1. Sebaliknya, indeks tabungan turun menjadi 84,8 dengan basis Januari 2024 sebesar 100.

Secara tahunan, pertumbuhan pinjaman juga tercatat paling tinggi, yakni 24,6 persen. Adapun belanja tumbuh 6 persen, sedangkan tabungan masih terkontraksi 5,7 persen.

Kondisi tersebut mengindikasikan masyarakat mulai mengurangi tabungan untuk mempertahankan daya beli, sekaligus meningkatkan pemanfaatan fasilitas pinjaman. Tren ini menunjukkan konsumsi rumah tangga masih mampu tumbuh, tetapi semakin ditopang oleh pembiayaan berbasis utang atau leverage spending.

Dari sisi jenis pembiayaan, pinjaman online masih mendominasi kredit nonbank. Hingga Mei 2026, outstanding pinjol mencapai sekitar Rp103,7 triliun. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan outstanding kartu kredit yang mencapai Rp43,8 triliun dan paylater sebesar Rp13,2 triliun.

3. Outstanding paylater tumbuh 53,6 persen

ilustrasi paylater (IDN Times/Aditya Pratama)

Meski demikian, layanan paylater mencatat pertumbuhan paling pesat. Outstanding paylater tumbuh 53,6 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan pinjol sebesar 25,7 persen dan kartu kredit 15,6 persen. Selain itu, pola penggunaan pinjaman juga mulai bergeser. Pembiayaan yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif kini semakin mengarah pada kebutuhan konsumtif.

Perkembangan tersebut mengindikasikan tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga masih berlanjut. Masyarakat tetap menjaga konsumsi, tetapi dengan mengorbankan tabungan dan meningkatkan ketergantungan terhadap berbagai instrumen pembiayaan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article