Jakarta, IDN Times - Rencana membuat bensin dari batu bara dinilai belum menjadi pilihan yang lebih ekonomis untuk mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Bensin dari batu bara dinilai masih lebih mahal dibandingkan bensin impor pada harga minyak normal.
Ekonom energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan, pilihan tersebut juga membutuhkan modal lebih besar dibandingkan perluasan kilang dan waktu pengembangannya lebih panjang dibandingkan etanol atau kendaraan listrik.
"Bensin batu bara lebih mahal daripada bensin impor pada harga minyak normal, membutuhkan modal lebih besar daripada perluasan kilang, dan datang lebih lambat daripada etanol atau kendaraan listrik," kata dia kepada IDN Times, Sabtu (26/9/2026).
