Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Purbaya Pastikan Panda Bond Tak Dipakai Biayai Utang Proyek Whoosh
Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan dana hasil penerbitan perdana Panda Bond tidak akan digunakan untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, melainkan untuk menutup defisit APBN.
  • Pemerintah masih mematangkan skema pendanaan khusus di luar APBN untuk menyelesaikan kewajiban utang proyek Whoosh agar beban fiskal negara tetap terkendali.
  • Pemerintah China menyatakan pembahasan restrukturisasi pembiayaan proyek Whoosh dengan Indonesia masih berlangsung dan berjalan positif melalui komunikasi intensif antar kementerian terkait.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pak Purbaya bilang uang dari Panda Bond tidak dipakai buat bayar utang kereta cepat Whoosh. Uang itu mau dipakai buat bantu keuangan negara. Utang Whoosh nanti dibayar pakai cara lain yang masih disiapkan. Pemerintah China juga lagi bicara sama Indonesia supaya urusan utang kereta itu bisa selesai dengan baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan dana hasil penerbitan perdana Panda Bond tidak akan digunakan untuk membiayai penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Menurut Purbaya, dana yang dihimpun melalui Panda Bond akan digunakan untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara itu, penyelesaian kewajiban utang proyek Whoosh akan menggunakan skema pendanaan tersendiri.

"Ini kan untuk nutup defisit kita. Nanti ke depan apakah pakai itu, nanti kita lihat seperti apa. Whoosh nanti enggak, skemanya belum saya kasih tahu kan," ujar Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Pemerintah Indonesia menerbitkan Panda Bond perdana di pasar obligasi domestik China pada Kamis (23/7/2026). Surat utang berdenominasi yuan atau renminbi (RMB) tersebut menjadi instrumen baru yang digunakan pemerintah untuk memperoleh pembiayaan dari investor di China.

1. Pemerintah minimalkan penggunaan APBN untuk selesaikan utang Whoosh

Potret Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh (kcic.co.id)

Purbaya menegaskan pemerintah berupaya meminimalkan penggunaan APBN dalam penyelesaian kewajiban utang proyek tersebut.

"Whoosh itu walaupun APBN di pemerintah, tapi kan kita kecilkan semaksimal mungkin dana APBN yang dipakai untuk bayar Whoosh. Itu dikelola oleh kami," katanya.

Namun, Purbaya belum bersedia mengungkapkan mekanisme maupun sumber pendanaan yang akan digunakan untuk menyelesaikan utang proyek tersebut.

2. Pemerintah masih mematangkan skema pembiayaan utang whoosh

Ilustrasi anggaran atau APBN. (IDN Times/Aditya Pratama)

Saat ditanya apakah pembiayaan akan berasal dari APBN, Purbaya membantahnya. Ia mengisyaratkan pemerintah akan memanfaatkan berbagai instrumen pembiayaan di luar APBN, termasuk melalui Special Mission Vehicle (SMV).

"Enggak, kan saya punya banyak SMV," katanya.

Purbaya menambahkan, pemerintah masih mematangkan skema pembiayaan tersebut agar beban fiskal tidak sepenuhnya ditanggung APBN.

3. Pemerintah China sebut pembahasan utang whoosh masih berjalan

ilustrasi mencatat utang (freepik.com/rawpixel.com)

Sebelumnya, Pemerintah China memastikan pembahasan terkait restrukturisasi pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) masih berjalan dengan pihak Indonesia. Meski belum mengungkapkan rincian hasil negosiasi, Beijing menyebut proses yang berlangsung saat ini bergerak ke arah positif.

Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan, isu yang dibahas bukanlah utang China kepada Indonesia, melainkan kewajiban pembayaran kepada bank pembangunan yang menjadi kreditur proyek tersebut.

“Itu bukan utang. Itu adalah uang yang kami miliki kepada bank pembangunan yang memberikan pinjaman kepada proyek Whoosh,” kata Wang Lutong kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut dia, komunikasi dengan kementerian dan pihak terkait di Indonesia terus dilakukan untuk memastikan pembahasan berjalan lancar. “Kami menjaga kontak yang sangat erat dengan pihak-pihak terkait dan kementerian di sini. Semuanya berjalan dengan baik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah klaim pemerintah Indonesia, restrukturisasi utang proyek kereta cepat itu telah diselesaikan dan tinggal menunggu pengumuman resmi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article