Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Resmi, Vietnam dan Filipina Naik Kelas Jadi Negara Menengah Atas
ilustrasi warga Vietnam (pexels.com/Kirandeep Singh Walia)
  • Bank Dunia menetapkan Vietnam dan Filipina naik status menjadi negara berpenghasilan menengah atas setelah PNB per kapita mereka melampaui ambang batas 4.636 dolar AS pada 2025.
  • Status baru ini membatasi akses kedua negara terhadap pendanaan internasional bersubsidi, namun pemerintah tetap fokus pada agenda pembangunan domestik di tengah tantangan global.
  • Pakar ekonomi menilai kenaikan klasifikasi mencerminkan meningkatnya kemandirian fiskal dan kemampuan Vietnam serta Filipina dalam memenuhi kebutuhan sumber daya secara mandiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Bank Dunia menetapkan Vietnam dan Filipina sebagai negara berpenghasilan menengah atas berdasarkan pembaruan data yang dirilis pada Rabu (1/7/2026). Klasifikasi terbaru tersebut dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor global terhadap stabilitas sekaligus prospek ekonomi kedua negara di Asia Tenggara.

Dengan perubahan itu, lima ekonomi terbesar di kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina, kini seluruhnya berada pada kelompok negara berpenghasilan menengah atas atau lebih tinggi. Vietnam sebelumnya berada di kategori berpenghasilan menengah bawah sejak 2009, sedangkan Filipina bertahan di kelompok yang sama sejak akhir dekade 1980-an.

1. Kenaikan pendapatan mendorong perubahan klasifikasi

ilustrasi portofolio pendapatan negara (pexels.com/Artem Podrez)

Dilansir Vietnam Law Magazine, lonjakan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita sepanjang 2025 menjadi dasar perubahan klasifikasi tersebut. Vietnam membukukan PNB per kapita sebesar 4.970 dolar AS (setara Rp89,3 juta), sedangkan Filipina mencapai 4.850 dolar AS (setara Rp87,1 juta), atau sama-sama melampaui batas minimum Bank Dunia untuk kategori menengah atas sebesar 4.636 dolar AS (setara Rp83,3 juta). Pencapaian itu ditopang oleh pertumbuhan berbasis ekspor di Vietnam dan perluasan diversifikasi industri di Filipina.

Untuk periode 2026, kedua negara memiliki proyeksi yang berbeda. Vietnam tetap membidik pertumbuhan ekonomi dua digit setiap tahun mulai 2026 melalui reformasi regulasi bisnis serta pembangunan infrastruktur berskala besar. Di sisi lain, Filipina menurunkan target pertumbuhan ekonomi 2026–2030 akibat tekanan eksternal berupa ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dampak cuaca ekstrem El Nino.

2. Perubahan status membatasi akses pembiayaan

ilustrasi warga Vietnam (pexels.com/HONG SON)

Status baru tersebut membuat pemerintah Vietnam dan Filipina menghadapi akses yang lebih terbatas terhadap pendanaan pembangunan internasional maupun pinjaman bersubsidi berbunga rendah. Selama ini, fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pengelolaan pemulihan bencana, dan berbagai program bantuan sosial.

Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, menyampaikan pemerintah tetap berpegang pada agenda pembangunan domestik di tengah berbagai tantangan.

“Meskipun ada guncangan global dan domestik, kami telah dengan gigih mengejar pertumbuhan inklusif, memperkuat fondasi dasar, dan tetap berada di jalur agenda pembangunan kami,” kata Balisacan, dikutip Straits Times.

3. Pakar menilai kemandirian ekonomi meningkat

Bendera Filipina (unsplash.com/XT7 Core)

Ekonom Kepala di Union Bank of the Philippines, Ruben Carlo Asuncion, menilai kenaikan klasifikasi tersebut mencerminkan meningkatnya kemampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan dan sumber dayanya sendiri, termasuk dari sisi fiskal.

“Poin utamanya adalah, semakin Anda naik tangga klasifikasi mereka berarti Anda lebih mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan serta sumber daya sendiri sebagai sebuah bangsa, termasuk bagian fiskal,” kata Asuncion.

Bank Dunia juga mencatat Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka naik ke kelompok negara berpenghasilan menengah atas, sementara Togo berpindah dari kelompok berpenghasilan rendah ke menengah bawah. Secara keseluruhan, lembaga itu melaporkan porsi negara berpenghasilan rendah di dunia turun menjadi 11 persen dari 30 persen pada 1987.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article