Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Riset Paramadina-INDEF: Ojol Serap 2,91 Juta Tenaga Kerja
Pengemudi Ojol mendatangi Kantor Gubernur DIY, Selasa (29/8/2023). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Riset Paramadina-INDEF mencatat ojek online menyerap 2,91 juta tenaga kerja langsung dan berperan sebagai penyangga lapangan kerja bagi pekerja urban berkeahlian rendah hingga menengah.
  • Kehadiran ojol memicu penciptaan tambahan 2,62 juta pekerjaan tidak langsung di sektor UMKM, logistik, dan ekonomi digital, dengan total dampak tenaga kerja mencapai 5,53 juta orang.
  • Sektor ojek online menambah Rp565 triliun ke PDB Indonesia serta meningkatkan konsumsi rumah tangga dan upah riil, sekaligus menekan inflasi melalui efisiensi distribusi dan biaya transaksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Paramadina Public Policy Institute (PPPI) dan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) merilis riset terbaru terkait ojek online (ojol).

Dalam hasil riset berjudul Mewujudkan Ekosistem Ojek Online yang Menyejahterakan, Berkelanjutan, dan Berkeadilan, kehadiran ojol telah menyerap 2,91 juta tenaga kerja di Indonesia.

Dari jumlah pengemudi tersebut, sekitar 900 ribu tenaga kerja merupakan pengemudi dengan kategori produktifitas sedang-tinggi, sekitar 1,5 juta yang yang tidak masuk dalam kategori tersebut tetapi menarik penumpang minimal satu kali dalam sebulan, dan sisanya adalah pengemudi yang menarik kurang dari satu kali dalam satu bulan.

Besaran angka tersebut menandakan sektor ojek online menjadi alternatif lapangan kerja dengan hambatan masuk rendah, terutama bagi pekerja urban berkeahlian rendah hingga menengah atau korban PHK, sehingga berfungsi sebagai employment buffer ketika pasar kerja formal terbatas.

“Dampak terhadap tenaga kerja, hitungan kami, dari 2,9 juta pengemudi, artinya dampak langsung, ada sekitar hampir 1 juta pengemudi dengan kategori produktivitasnya sedang dan tinggi,” kata Peneliti INDEF, Rizal Taufikurahman dalam peluncuran riset tersebut di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

1. Beri dampak tidak langsung dalam bentuk penciptaan 2,62 juta lapangan kerja

Tim perwakilan Go-To selfie bareng para ojol Gojek. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Hasil riset menunjukkan, kehadiran ojol memberikan dampak tidak langsung bagi perekonomian Indonesia, yakni dalam bentuk penciptaan 2,62 juta lapangan kerja.

Penyerapan ini berasal dari aktivitas ekonomi yang muncul akibat layanan ojek online, termasuk pekerja UMKM kuliner, admin pesanan, kurir toko, pemasok bahan baku, logistik mikro, hingga jasa kemasan dan digital marketing.

Artinya setiap pengemudi tidak hanya menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga memicu penciptaan pekerjaan tambahan di sektor lain, khususnya perdagangan, makanan-minuman dan ekonomi digital.

“Inilah yang kemudian totalnya rekrut tenaga kerja atau multiplier terhadap tenaga kerja, hitungan kami dari dampak langsung dan dampak tidak langsung di angka 5,53 juta orang,” ucap Rizal.

2. Beri tambahan senilai Rp565 triliun ke PDB Indonesia

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Hasil riset menunjukkan kehadiran ojol memberi tambahan nilai terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sekitar Rp565 triliun. Angka itu terdiri dari dampak langsung senilai Rp169 triliun, dan dampak tidak langsung, baik ojek online roda dua dan taksi online roda empat, yang mencapai Rp396 triliun. Artinya, lebih dari separuh kontribusi berasal dari efek turunan ke sektor lain yang terpicu.

Riset menyatakan, nilai tambah terbesar dari kehadiran ojol bukan dari jasa angkut penumpang, tetapi dari multiplier effect akibat mobilitas dan akses pasar yang lebih mudah dan efisien.

Temuan itu kembali menegaskan bahwa nilai strategis ojek online bukan terletak pada sektor transportasi semata, melainkan pada perannya sebagai pengungkit aktivitas ekonomi lintas sektor.

Besarnya dampak tidak langsung juga mengindikasikan ketergantungan sektor ini pada ekosistem ekonomi berproduktivitas menengah-rendah, dan berbasis konsumsi.

Di sisi lain, dampak langsung sektor ini terhadap pertumbuhan PDB relatif terbatas, yakni hanya sekitar 0,71 persen. Sementara, dampak tidak langsungnya, terutama dari ojek online roda dua (1,13 persen) dan taksi online roda empat (0,53 persen), menegaskan kuatnya efek multiplier ke UMKM, dan konsumsi.

Secara total, dampak sektor itu terhadap PDB mencapai 2,37 persen, yang menunjukkan bahwa nilai ekonomi utama berasal dari efek spillover, bukan aktivitas langsungnya.

3. Meningkatkan pendapatan masyarakat

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Sektor ojek online meningkatkan kinerja makroekonomi, terutama melalui jalur konsumsi. Konsumsi rumah tangga riil meningkat paling besar, 3,26 persen, diikuti kenaikan upah riil 2,37 persen.

Data tersebut menunjukkan, layanan itu memperluas akses masyarakat terhadap barang dan jasa, sekaligus meningkatkan peluang pendapatan, baik bagi pengemudi maupun pelaku usaha kecil yang terhubung dengan platform.

Dampak selanjutnya terlihat pada sisi produksi dan investasi. Pertumbuhan PDB riil meningkat 1,66 persen, nilai tambah ekonomi naik 0,89 persen dan agregat persediaan riil bertambah 4,8 persen.

Ini menunjukkan layanan ojek online menurunkan biaya distribusi, dan mempercepat perputaran barang, sehingga pelaku usaha meningkatkan produksi, dan persediaan. Sebab, efisiensi logistik jarak pendek membuat transaksi lebih cepat dan memperkuat hubungan antara produsen kecil dan konsumen akhir.

Lebih lanjut, kehadiran ojol juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga 0,22 persen, sementara inflasi turun 0,16 persen. Kombinasi itu menunjukkan bahwa ojek online tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja, tetapi juga membantu menekan biaya transaksi, dan distribusi di perkotaan.

Dampaknya, harga barang, dan jasa lebih stabil dimana ojek online berfungsi sebagai mekanisme penurun biaya ekonomi (cost-reducing mechanism) yang memperkuat konsumsi, produksi dan stabilitas harga.

Editorial Team

Related Article