Jakarta, IDN Times - Paramadina Public Policy Institute (PPPI) dan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) merilis riset terbaru terkait ojek online (ojol).
Dalam hasil riset berjudul Mewujudkan Ekosistem Ojek Online yang Menyejahterakan, Berkelanjutan, dan Berkeadilan, kehadiran ojol telah menyerap 2,91 juta tenaga kerja di Indonesia.
Dari jumlah pengemudi tersebut, sekitar 900 ribu tenaga kerja merupakan pengemudi dengan kategori produktifitas sedang-tinggi, sekitar 1,5 juta yang yang tidak masuk dalam kategori tersebut tetapi menarik penumpang minimal satu kali dalam sebulan, dan sisanya adalah pengemudi yang menarik kurang dari satu kali dalam satu bulan.
Besaran angka tersebut menandakan sektor ojek online menjadi alternatif lapangan kerja dengan hambatan masuk rendah, terutama bagi pekerja urban berkeahlian rendah hingga menengah atau korban PHK, sehingga berfungsi sebagai employment buffer ketika pasar kerja formal terbatas.
“Dampak terhadap tenaga kerja, hitungan kami, dari 2,9 juta pengemudi, artinya dampak langsung, ada sekitar hampir 1 juta pengemudi dengan kategori produktivitasnya sedang dan tinggi,” kata Peneliti INDEF, Rizal Taufikurahman dalam peluncuran riset tersebut di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
