ilustrasi saham (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Popularitas IPO juga dapat memunculkan fenomena fear of missing out atau FOMO. Ketika banyak orang membicarakan sebuah saham, investor bisa merasa harus ikut membeli agar tidak melewatkan peluang. Keputusan seperti ini berisiko membuat proses analisis menjadi lebih singkat dan terlalu bergantung pada sentimen pasar.
Padahal, OJK bersama BEI dan KSEI terus mendorong transparansi dan penguatan integritas pasar modal, termasuk membantu investor mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik. Sebelum membeli IPO, investor sebaiknya memahami alasan membeli saham tersebut dan mengetahui risiko yang sanggup ditanggung, bukan sekadar mengikuti antusiasme investor lain.
Ada risiko beli saham IPO hanya karena popularitas emitennya. Hal ini membuat investor melewatkan faktor yang lebih penting seperti valuasi, kondisi keuangan, prospek bisnis, struktur kepemilikan, dan risiko perusahaan. Nama besar memang dapat menjadi informasi mengenai tingkat pengenalan sebuah bisnis, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menilai saham. Setiap IPO tetap memiliki karakteristik dan risiko yang perlu dipelajari secara individual.
Karena itu, sebelum melakukan pemesanan saham IPO, investor dapat membaca prospektus dan mencermati informasi keuangan serta penggunaan dana hasil penawaran. Perhatikan juga risiko bisnis, jumlah saham yang ditawarkan, struktur kepemilikan, dan kondisi pasar pada saat IPO. Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada seberapa populer sebuah perusahaan, tetapi juga pada informasi yang relevan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.