Risk Taking vs Risk Averse, Mana yang Lebih Menguntungkan dalam Bisnis

- Risk taking: kesediaan mengambil risiko tinggi untuk potensi return besar.Risk averse: fokus pada kepastian dan perlindungan modal.
- Risk taking berkorelasi dengan pertumbuhan cepat, tetapi juga berisiko kegagalan jika tidak diatur dengan baik.
- Risk averse menjaga konsistensi performa bisnis, namun bisa membatasi pertumbuhan dalam pasar dinamis.
Dalam dunia bisnis, perbedaan antara pelaku yang berani mengambil risiko dan yang cenderung menghindari risiko sering menjadi pembeda utama dalam strategi pengambilan keputusan. Sebagian pengusaha dikenal agresif, cepat berekspansi, dan siap menanggung ketidakpastian. Di sisi lain, ada pebisnis yang lebih konservatif, fokus pada stabilitas, dan meminimalkan potensi kerugian.
Pertanyaannya, pendekatan mana yang sebenarnya lebih menguntungkan secara bisnis. Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu ekstrem. Untuk memahaminya secara objektif, perlu dilihat dari sudut pandang teknis seperti manajemen risiko, arus kas, dan fase pertumbuhan bisnis.
1. Definisi teknis risk taking dan risk averse dalam bisnis

Risk taking dalam konteks bisnis berarti kesediaan menempatkan sumber daya pada keputusan dengan tingkat ketidakpastian tinggi. Ini bisa berupa ekspansi pasar baru, investasi teknologi yang belum matang, atau model bisnis yang belum teruji. Secara teknis, pendekatan ini meningkatkan potensi return, tetapi juga memperbesar varians hasil.
Sebaliknya, risk averse adalah pendekatan yang memprioritaskan kepastian dan perlindungan modal. Pebisnis tipe ini cenderung memilih proyek dengan proyeksi stabil meskipun margin lebih kecil. Fokus utamanya adalah menjaga kesinambungan bisnis dan menghindari skenario kerugian ekstrem.
2. Dampak risk taking terhadap pertumbuhan dan skala bisnis

Risk taking memiliki korelasi kuat dengan pertumbuhan cepat. Dengan masuk lebih awal ke peluang baru, bisnis berpotensi menguasai pasar sebelum kompetitor. Secara teknis, first mover advantage dapat meningkatkan market share dan valuasi dalam waktu singkat.
Namun, risiko kegagalan juga tinggi jika asumsi awal tidak akurat. Tanpa sistem kontrol dan cadangan likuiditas yang memadai, satu keputusan agresif bisa mengganggu arus kas secara signifikan. Oleh karena itu, risk taking yang menguntungkan selalu disertai dengan kalkulasi dan mitigasi risiko yang jelas.
3. Keunggulan pendekatan risk averse dalam menjaga stabilitas

Pendekatan risk averse unggul dalam menjaga konsistensi performa bisnis. Dengan memilih keputusan berisiko rendah, volatilitas pendapatan dapat ditekan. Secara teknis, ini membantu menjaga rasio keuangan tetap sehat dan memudahkan perencanaan jangka panjang.
Namun, keterbatasannya terletak pada potensi pertumbuhan yang lebih lambat. Dalam pasar yang dinamis, sikap terlalu defensif bisa membuat bisnis tertinggal dari kompetitor yang lebih adaptif. Risiko terbesar dari risk averse bukan kerugian langsung, melainkan kehilangan peluang strategis.
4. Pengaruh fase bisnis terhadap pilihan risiko

Fase bisnis sangat menentukan pendekatan risiko yang optimal. Pada tahap awal, risk taking sering kali lebih relevan karena skala kerugian masih relatif terbatas. Selain itu, bisnis baru membutuhkan diferensiasi yang sering kali datang dari keputusan berani.
Sebaliknya, pada fase matang, risk averse menjadi lebih rasional. Bisnis dengan aset besar dan banyak pemangku kepentingan perlu menjaga stabilitas. Secara teknis, kesalahan kecil pada fase ini bisa berdampak sistemik dan mahal untuk diperbaiki.
5. Pendekatan optimal: risiko terukur, bukan ekstrem

Dalam praktiknya, pendekatan paling menguntungkan jarang berada di salah satu ekstrem. Risk taking tanpa kontrol sama berbahayanya dengan risk averse yang berlebihan. Kunci utamanya adalah risiko terukur berbasis data dan analisis skenario.
Pebisnis yang efektif menetapkan batas kerugian yang dapat diterima sebelum mengambil keputusan. Dengan cara ini, potensi upside tetap terbuka tanpa mengorbankan kelangsungan bisnis. Secara teknis, pendekatan ini menggabungkan fleksibilitas risk taking dan disiplin risk averse.
Risk taking dan risk averse bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan, melainkan spektrum strategi bisnis. Keuntungan maksimal diperoleh ketika risiko dikelola sesuai konteks dan fase bisnis. Tanpa pemahaman teknis, pilihan strategi risiko sering kali didasarkan pada ego atau ketakutan.
Pada akhirnya, bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang mampu mengambil risiko dengan sadar dan menghindari risiko tanpa kehilangan peluang. Dengan pendekatan terukur, pengusaha tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga daya tahan jangka panjang.



















