Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Berhasil Menguat, Sentuh Level Rp17.992 per Dolar AS

2 min read
Rupiah Berhasil Menguat, Sentuh Level Rp17.992 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah ditutup menguat 54 poin atau 0,30 persen ke Rp17.992 per dolar AS pada perdagangan Sabtu, dari posisi sebelumnya Rp18.046 per dolar AS.

  • Pengeluaran 80 saham berkategori High Shareholding Concentration dari perhitungan IHSG dinilai dapat memberi sentimen positif bagi pasar modal dan mendukung rupiah.

  • Rupiah masih dibayangi eskalasi konflik Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina, yang berpotensi menaikkan harga minyak, beban impor energi, dan kebutuhan valuta asing Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan, Sabtu (20/10/2026) sore. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.992 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat 54 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.046 per dolar AS.

  1. 1. Rincian mata uang di kawasan Asia yang menguat

    Sejumlah mata uang juga tercatat menguat.

    • Rupee India menguat 0,03 persen
    • Won Korea menguat 5,72 persen
    • Yen Jepang menguat 0,34 persen

  2. 2. Kebijakan pasar modal terkat HSC picu penguatan rupiah

    Pengamat pasar uang, Lukman Leong, mengatakan langkah otoritas pasar modal dalam merespons persoalan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan mengeluarkan 80 saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa memperkuat dan memberikan sentimen positif ke pasar modal.

    Dengan adanya kebijakan yang diterapkan, perubahan harga saham-saham HSC tidak lagi memengaruhi pergerakan indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut.

    "Rupiah walau masih penuh ketidakpastian, namun langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham MSC dari IHSG diharapkan bisa memberikan sentimen positif dan dukungan pada rupiah," kata Lukman.

  3. 3. Masih ada sentimen konflik Timur Tengah bayangi rupiah

    Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah. Eskalasi konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya dapat menekan rupiah.

    Kenaikan harga minyak mentah berisiko meningkatkan beban impor energi Indonesia. Kondisi tersebut dapat memperlebar tekanan terhadap neraca perdagangan dan meningkatkan kebutuhan valuta asing, sehingga turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More