Selain itu, pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan diumumkan pada malam hari waktu Indonesia. Data tersebut dinilai penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.
Dari sisi eksternal, Lukman menilai sentimen risk-off di pasar keuangan global juga berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi tersebut dipicu aksi jual pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar saham global.
"Sentimen eksternal lain yang bisa membuat rupiah lesu adalah meningkatnya risk-off di pasar ekuitas akibat aksi jual saham-saham AI," katanya.