Rupiah Menguat Seiring Sentimen Data Inflasi AS Malam Ini

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs mata uang rupiah menguat atas mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Rabu (13/7/2022).
Dilansir Bloomberg, kurs mata uang Garuda ditutup menguat 2 poin ke level Rp14.991 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini.
1. Faktor eksternal menguatnya rupiah
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan dolar AS diperdagangkan menguat tipis terhadap euro dan sterling, tetapi melemah terhadap dolar Australia dan yen Jepang.
"Euro melemah terhadap dolar AS, dan bergerak mendekati paritas. Salah satu pendorong utama pelemahan euro adalah kekhawatiran resesi yang dipicu oleh melemahnya indikator ekspektasi investor," kata Josua pada Kamis (13/7/2022).
2. Faktor internal menguatnya rupiah
Sementara itu, obligasi acuan IDR diperdagangkan bervariasi meskipun sentimen risk-off muncul kembali di pasar Asia. Volume perdagangan obligasi pemerintah tercatat Rp11,28tn, lebih tinggi dari hari sebelumnya, Rp3,25tn.
"Pemerintah menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan menyerap Rp6,0 triliun, lebih rendah dari target indikatif Rp9 triliun. Total penawaran yang masuk dalam lelang tercatat sebesar Rp12,76tn, lebih rendah dari penawaran masuk lelang sebelumnya sebesar Rp15,78tn," katanya.
3. Penguatan rupiah ditopang investor yang masih menunggu rilis data inflasi AS
Sementara itu, analis DCFX, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah di penutupan perdagangan sore ini ditopang investor yang masih menunggu rilis data inflasi AS.
"Dengan penguatan dolar AS sudah priced in menjelang data inflasi AS malam ini, pelaku pasar cenderung wait and see, " katanya.