Jakarta, IDN Times — Pelemahan mata uang rupiah kali ini bukan sekadar soal kurs yang bergerak di layar perdagangan. Bagi dunia usaha, setiap rupiah yang kehilangan nilai segera menjelma menjadi biaya produksi yang lebih mahal, bunga pinjaman yang membengkak, hingga keputusan investasi yang harus ditunda.
Sepanjang semester I-2026, tekanan terhadap mata uang Garuda semakin sulit dibendung. Dari kisaran Rp16.745 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal tahun, rupiah merosot hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS. Angka tersebut bukan hanya mencatat pelemahan terdalam dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga melewati batas psikologis yang selama ini menjadi acuan pelaku pasar.
Dampaknya menjalar cepat ke sektor riil. Industri yang masih bergantung pada bahan baku impor menjadi kelompok pertama yang merasakan tekanan. Kenaikan biaya logistik global, bunga kredit yang lebih tinggi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat perusahaan menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira mengatakan, depresiasi rupiah yang berlangsung dalam waktu lama tidak lagi hanya mempengaruhi biaya produksi. Kondisi itu mulai mengganggu kesehatan arus kas perusahaan.
"Ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya tidak hanya kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan terhadap cash flow perusahaan," ujarnya kepada IDN Times.
Tekanan tersebut muncul karena perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku impor, sementara ruang menaikkan harga jual semakin sempit. Konsumen masih sensitif terhadap kenaikan harga sehingga pelaku usaha tidak memiliki keleluasaan untuk meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada pasar.
Kombinasi itu menciptakan tekanan yang oleh pelaku industri dikenal sebagai cost squeeze. Beban produksi meningkat, tetapi pendapatan tidak mampu mengejar laju kenaikan biaya.
"Akibatnya, margin industri tertekan dari dua sisi: biaya produksi naik, tetapi kemampuan menaikkan harga jual tetap terbatas," kata Anggawira.
