Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saat Rupiah Terjun, Dunia Usaha Bertaruh pada Arus Kas
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah hingga menembus Rp18 ribu per dolar AS, memicu lonjakan biaya produksi, tekanan arus kas perusahaan, dan penurunan margin industri akibat kenaikan harga bahan baku impor.
  • Dunia usaha menunda ekspansi besar dan fokus menjaga likuiditas dengan efisiensi operasional, penggunaan lindung nilai, serta restrukturisasi utang untuk menghadapi fluktuasi kurs yang masih tinggi.
  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan total 100 bps dan melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal dan risiko perlambatan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Pelemahan mata uang rupiah kali ini bukan sekadar soal kurs yang bergerak di layar perdagangan. Bagi dunia usaha, setiap rupiah yang kehilangan nilai segera menjelma menjadi biaya produksi yang lebih mahal, bunga pinjaman yang membengkak, hingga keputusan investasi yang harus ditunda.

Sepanjang semester I-2026, tekanan terhadap mata uang Garuda semakin sulit dibendung. Dari kisaran Rp16.745 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal tahun, rupiah merosot hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS. Angka tersebut bukan hanya mencatat pelemahan terdalam dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga melewati batas psikologis yang selama ini menjadi acuan pelaku pasar.

Dampaknya menjalar cepat ke sektor riil. Industri yang masih bergantung pada bahan baku impor menjadi kelompok pertama yang merasakan tekanan. Kenaikan biaya logistik global, bunga kredit yang lebih tinggi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat perusahaan menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan.

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira mengatakan, depresiasi rupiah yang berlangsung dalam waktu lama tidak lagi hanya mempengaruhi biaya produksi. Kondisi itu mulai mengganggu kesehatan arus kas perusahaan.

"Ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya tidak hanya kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan terhadap cash flow perusahaan," ujarnya kepada IDN Times.

Tekanan tersebut muncul karena perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku impor, sementara ruang menaikkan harga jual semakin sempit. Konsumen masih sensitif terhadap kenaikan harga sehingga pelaku usaha tidak memiliki keleluasaan untuk meneruskan seluruh kenaikan biaya kepada pasar.

Kombinasi itu menciptakan tekanan yang oleh pelaku industri dikenal sebagai cost squeeze. Beban produksi meningkat, tetapi pendapatan tidak mampu mengejar laju kenaikan biaya.

"Akibatnya, margin industri tertekan dari dua sisi: biaya produksi naik, tetapi kemampuan menaikkan harga jual tetap terbatas," kata Anggawira.

1. Lebih dari gejolak global

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Menurut Anggawira, pelemahan rupiah tidak bisa dipandang semata-mata sebagai dampak gejolak eksternal. Memang, kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat, penguatan dolar AS, meningkatnya tensi geopolitik, hingga arus keluar modal dari negara berkembang menjadi faktor yang menekan mata uang berbagai negara.

Namun, persoalan domestik dinilai membuat rupiah lebih rentan dibandingkan negara lain. Ketergantungan industri terhadap bahan baku impor menyebabkan setiap depresiasi rupiah langsung diterjemahkan menjadi kenaikan biaya produksi. Di sisi lain, pasar keuangan domestik yang masih dangkal dan tingginya ketergantungan terhadap aliran modal jangka pendek membuat fluktuasi kurs lebih mudah terjadi ketika sentimen global berubah.

Belum kuatnya basis industri berorientasi ekspor bernilai tambah tinggi juga membuat Indonesia belum memiliki bantalan yang cukup ketika tekanan eksternal datang.

"Kalau persoalan struktural ini tidak dibenahi, tekanan terhadap rupiah akan terus berulang setiap kali terjadi guncangan global," ujarnya.

Karena itu, menjaga stabilitas nilai tukar dinilai tidak cukup hanya melalui intervensi di pasar keuangan. Penguatan sektor industri, diversifikasi ekspor, hingga pengurangan ketergantungan terhadap impor bahan baku menjadi pekerjaan rumah yang sama pentingnya.

2. Ekspansi ditunda, likuiditas menjadi prioritas

Ilustrasi anggaran. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam situasi seperti sekarang, strategi dunia usaha berubah. Perusahaan tidak lagi mengejar pertumbuhan secara agresif, melainkan lebih berhati-hati menjaga ketahanan bisnis.

Banyak pelaku usaha memilih menunda ekspansi berskala besar. Fokus perusahaan bergeser pada penguatan likuiditas, efisiensi operasional, mempercepat perputaran kas (cash conversion cycle), serta mengurangi eksposur utang dalam dolar Amerika Serikat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, tekanan kurs telah memaksa perusahaan memperkuat strategi mitigasi risiko. Menurut dia, perusahaan mulai meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi nilai tukar, sekaligus menata kembali struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing.

"Dari sisi operasional, perusahaan juga melakukan efisiensi melalui rasionalisasi belanja modal, optimalisasi modal kerja, serta peningkatan produktivitas di berbagai lini usaha," ujar Shinta.

Meski demikian, ruang adaptasi tersebut dinilai belum cukup untuk sepenuhnya mengimbangi tekanan eksternal yang masih berlangsung.

2. BI menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi dan naikkan bunga acuan

Ilustrasi Gambar Gedung Bank Indonesia , Sumber : Website Bank Indonesia-Publikasi Ruang Media

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama kebijakan moneter. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperketat kebijakan suku bunga secara agresif.

Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, bank sentral menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga total 100 basis poin (bps), terdiri atas kenaikan 50 bps pada Mei, disusul masing-masing 25 bps pada 9 Juni dan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18 Juni 2026. Kebijakan tersebut menunjukkan, menjaga stabilitas rupiah kini menjadi fokus utama bank sentral, bahkan di tengah risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menegaskan, bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk meredam gejolak di pasar keuangan.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas menjadi prioritas utama. BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar," ujarnya.

Selain melalui kebijakan suku bunga, BI juga terus melakukan intervensi secara konsisten di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore. Langkah ini ditempuh untuk menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan valuta asing sekaligus meredam volatilitas rupiah.

Meski demikian, Destry menilai tekanan eksternal masih akan membayangi perekonomian global. Konflik geopolitik di Timur Tengah, misalnya, memang meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Namun, bagi Indonesia, kondisi tersebut juga membuka peluang melalui kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor yang berpotensi menjadi penopang perekonomian nasional.

4. Efeknya menjalar hingga rumah tangga

Belanja (pexels.com/@gustavo-frin)

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berhenti di dunia usaha. Kajian Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty, menunjukkan pelemahan nilai tukar memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas terhadap perekonomian nasional. Dalam riset bertajuk Kupas Tuntas Rupiah, Telisa menyebut rupiah telah terdepresiasi sebesar 4,52 persen dalam enam bulan terakhir.

Dampak dari setiap 1 persen pelemahan rupiah, antara lain menurunkan daya beli masyarakat, menekan indeks manufaktur, mengurangi penjualan ritel, dan memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Setiap pelemahan satu persen nilai tukar diperkirakan menurunkan daya beli masyarakat sebesar 1,15 persen, menekan indeks manufaktur 1,19 persen, dan mengurangi penjualan ritel sekitar 0,71 persen," ujarnya.

Telisa menekankan pentingnya memperkuat mata uang nasional melalui pemahaman perilakunya, perbaikan internal, serta peningkatan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan sektor terkait.

5. Setiap pelemahan kurs Rp100 per dolar AS berpotensi menambah defisit APBN Rp0,8 triliun

Ilustrasi APBN (IDN Times/Arief Rahmat)

Tekanan juga menjalar ke fiskal karena setiap depresiasi Rp100 terhadap dolar AS diperkirakan menambah defisit APBN sekitar Rp0,8 triliun. Menurut Telisa, pelemahan rupiah memang dipengaruhi penguatan dolar AS. Namun, hasil analisisnya menunjukkan sebagian besar tekanan justru berasal dari faktor domestik dan faktor nonfundamental yang menyumbang hampir 70 persen terhadap pergerakan rupiah.

"Sementara faktor seperti terms of trade, cadangan devisa, indeks dolar AS, serta selisih suku bunga memberikan kontribusi yang relatif lebih kecil," ucapnya.

Karena itu, penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar. Perbaikan struktur ekonomi, peningkatan daya saing industri, penguatan cadangan devisa, dan koordinasi kebijakan antara pemerintah dengan otoritas moneter menjadi prasyarat agar pelemahan nilai tukar tidak terus berulang setiap kali ekonomi global bergejolak.

Bagi dunia usaha, pelemahan rupiah mungkin hanya satu variabel dalam ekonomi makro. Namun, ketika depresiasi berlangsung berkepanjangan, dampaknya merembet ke ruang produksi, meja direksi, hingga keputusan investasi. Dan ketika perusahaan mulai menahan ekspansi untuk menjaga arus kas, pelemahan kurs tidak lagi sekedar persoalan nilai tukar, melainkan sinyal bahwa denyut sektor riil mulai melambat.

Editorial Team

Related Article