Saham BNI Paling Tangguh Saat Bank Besar Tertekan

- Struktur pendanaan BNI lebih sehat, didorong oleh perbaikan biaya dana dan meningkatnya porsi dana murah (CASA).
- Kualitas aset BNI membaik dengan rasio kredit bermasalah stabil di 2 persen dan cost of credit terendah dalam lima tahun terakhir.
- Valuasi saham BNI termurah dengan PBV sekitar 0,98 kali, memberi bantalan risiko dan peluang revaluasi saat sektor perbankan pulih pada 2026.
Jakarta, IDN Times – Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat ketahanan paling solid di antara bank-bank besar sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Berdasarkan data perdagangan satu tahun terakhir, yakni periode 19 Januari 2025 hingga 19 Januari 2026, saham BNI masih mampu menguat tipis sebesar 0,22 persen. Sebaliknya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 16,1 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 15,42 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 8,77 persen.
Table of Content
1. Struktur pendanaan BNI sudah lebih sehat

Analis Bahana Sekuritas, Razqi M. Kurniawan, menilai struktur pendanaan BNI saat ini jauh lebih sehat, terutama didorong oleh perbaikan biaya dana seiring meningkatnya porsi dana murah (CASA).
"Kondisi ini membantu BNI menjaga margin bunga di tengah tren penurunan net interest margin (NIM) industri perbankan," jelasnya.
2. Kualitas aset BNI membaik

Dari sisi kualitas aset, BNI juga mencatat kemajuan signifikan. Setelah menjalankan strategi de-risking secara konsisten dalam lima tahun terakhir, rasio kredit bermasalah (NPL) BNI berhasil distabilkan di kisaran 2 persen.
Biaya kredit (cost of credit) pun ditekan hingga sekitar 1 persen, terendah dalam lima tahun terakhir.
"Kombinasi likuiditas yang kuat, kualitas aset yang membaik, dan fundamental yang solid membuat BNI lebih defensif dibandingkan bank-bank besar lainnya dalam menghadapi volatilitas pasar," tegasnya.
3. Valuasi saham BNI termurah

Dari sisi valuasi, saham BNI masih tergolong murah. Dengan price to book value (PBV) sekitar 0,98 kali, BNI menjadi bank besar dengan valuasi paling terdiskon, jauh di bawah rata-rata PBV bank besar lain yang berada di kisaran 2,3–2,4 kali.
"Valuasi rendah ini dinilai memberi bantalan risiko sekaligus peluang revaluasi saat sektor perbankan mulai pulih pada 2026," tegasnya.
Tak heran, konsensus 36 analis di Bloomberg mayoritas merekomendasikan beli dengan target harga rata-rata Rp5.023 untuk 12 bulan ke depan. Sejumlah sekuritas bahkan mematok target lebih tinggi, antara lain Bahana Sekuritas di Rp5.600, Ciptadana Sekuritas Rp5.275, OCBC Sekuritas Rp5.300, dan Panin Sekuritas sebesar Rp6.500.


















