SBY Buka Rahasia Indonesia Selamat dari Krisis Keuangan Global 2008

- SBY menjelaskan Indonesia mampu bertahan dari krisis keuangan global 2008 berkat kepercayaan publik, kebijakan fiskal hati-hati, dan koordinasi ekonomi yang solid.
- SBY menyoroti rekonstruksi Aceh pascatsunami sebagai proses pemulihan martabat, kepercayaan, serta perdamaian yang melibatkan masyarakat secara aktif.
- Dalam diplomasi iklim global, SBY menegaskan pentingnya peran negara berkembang dalam solusi perubahan iklim dengan prinsip keadilan dan dukungan pendanaan memadai.
Jakarta, IDN Times - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membagikan pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan besar selama masa pemerintahannya.
Menurut dia, Indonesia mampu melewati krisis keuangan global 2008 meski turut terdampak gejolak ekonomi dunia. Hal tersebut disampaikan SBY saat berbicara dalam forum di Institut Perbanas.
"Selama masa kepresidenan saya, Indonesia menghadapi beberapa ujian besar. Ketika krisis keuangan global melanda pada 2008, Indonesia tidak kebal, tetapi kami berhasil bertahan," kata SBY di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
1. SBY sebut kepercayaan dan kehati-hatian fiskal jadi modal hadapi krisis

SBY mengatakan kemampuan Indonesia bertahan saat krisis global ditopang oleh terjaganya kepercayaan publik dan pasar, penerapan kebijakan fiskal yang hati-hati, kuatnya permintaan domestik, serta koordinasi kebijakan yang berjalan baik.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kredibilitas di tengah situasi yang tidak pasti. Dalam kondisi seperti itu, pasar disebut tidak hanya melihat data ekonomi, tetapi juga memperhatikan kualitas tata kelola pemerintahan.
"Kami belajar bahwa kredibilitas itu penting di masa penuh ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka, tetapi juga kualitas tata kelola," ujar dia.
2. SBY juga singgung upaya rekonstruksi Aceh pascatsunami

SBY juga menyinggung proses pembangunan kembali Aceh pascatsunami. Dia menilai rekonstruksi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan rumah, tetapi juga upaya yang lebih besar dari itu.
"Itu tentang memulihkan martabat, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan perdamaian. Pembangunan menjadi berkelanjutan ketika masyarakat merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses tersebut. Itu penting," paparnya.
3. Negara berkembang dinilai perlu terlibat dalam solusi perubahan iklim

SBY juga mengingat pengalaman Indonesia saat terlibat dalam diplomasi iklim global, termasuk pada Konferensi Iklim Bali 2007. Menurutnya, negara berkembang perlu mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan iklim global.
"Kami belajar bahwa negara berkembang harus menjadi bagian dari solusi. Kita tidak bisa mengatakan bahwa perubahan iklim hanya menjadi tanggung jawab negara-negara maju," kata SBY.
Meski demikian, dia menilai upaya global menghadapi perubahan iklim juga perlu berjalan secara adil, realistis, serta didukung pendanaan dan transfer teknologi yang memadai.



















