Cerita SBY Naikkan Harga BBM Hadapi Krisis Ekonomi 2008: Very Painful

- SBY mengenang keputusan sulit menaikkan harga BBM saat krisis ekonomi 2008 demi mencegah kolapsnya ekonomi nasional, disertai pemberian BLT untuk melindungi masyarakat kurang mampu.
- SBY menegaskan pentingnya kepemimpinan yang berani mengambil risiko dengan perhitungan matang serta mengingatkan potensi krisis global terulang akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- SBY mendoakan pemerintahan Presiden Prabowo sukses membawa Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045 dengan pembangunan yang kuat, demokrasi kokoh, dan kemajuan peradaban bangsa.
Jakarta, IDN Times - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bercerita saat harus mengambil kebijakan besar saat Indonesia dihadapkan dengan krisis ekonomi 2008.
Salah satu kebijakan SBY yang banyak ditentang saat itu adalah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) saat harga minyak dunia terus meroket di tengah gejolak krisis ekonomi global.
Hal ini disampaikan SBY saat menjadi keynote speaker dalam acara Supermentro yang diinisiasi oleh Foreign Policy Community of Indonesia di The ST Regist Jakarta, Selasa (14/4/2026).
SBY mengatakan, setiap kebijakan harus diambil dengan perhitungan yang tepat.
"Menaikkan bahan bakar, itu juga very painful, difficult. Tapi harus saya ambil. Sebab kalau tidak dinaikkan bahan bakar waktu itu, ekonomi kita collapse," kata SBY.
Namun, SBY mengatakan, pemerintah tetap memberikan bantalan ekonomi melalui bantuan langsung tunai (BLT) bagi masyarakat kurang mampu menyusul adanya kenaikan harga BBM nasional.
1. SBY kepemimpinan akan selalu dihadapkan krisis

SBY mengatakan, kepemimpinan tidak pernah lepas dari risiko dan ketidakpastian, terutama saat menghadapi sebuah krisis.
Dalam acara itu, SBY turut menegaskan pentingnya perhitungan matang dan arah kebijakan yang jelas dalam mengambil keputusan strategis negara.
Menurut SBY, risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengambilan kebijakan. Namun demikian, risiko tersebut dapat dikelola dengan baik apabila pemerintah memiliki tujuan yang jelas, memahami alasan di balik setiap keputusan, serta menjalankan langkah-langkah yang tepat melalui kebijakan yang terukur.
"Kalau itu sudah kita kalkulasikan dengan baik, dengan tujuan yang jelas, why keputusan diambil, dan action itu kita lakukan dengan policy yang tepat, pasti lebih banyak berhasilnya dibandingkan tidak berhasilnya. Ini contoh," kata dia.
2. SBY ingatkan krisis ekonomi 2008 terulang kembali

SBY mengingatkan potensi terulangnya krisis ekonomi global seperti yang terjadi pada tahun 2008, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.
SBY menilai, kondisi global sekarang mengandung risiko serius terhadap stabilitas ekonomi dunia. Apabila konflik Timur Tengah tidak terus berlarut, dampaknya dapat memicu perlambatan ekonomi global yang signifikan.
"Sekarang hati-hati. Kalau perang tidak segera berakhir di Timur Tengah, terutama perekonomian dunia akan sungguh turun. Kalau perang berakhir, today, calon deal bisa dicapai di Islamabad, tidak berarti kita sudah kembali normal. Perlu waktu sekian bulan to stabilize, to normalize our global economy," kata dia.
Dia menilai, krisis serupa dapat kembali terjadi apabila tidak ada kesadaran dan kerja sama global, serta kegagalan para pemimpin dunia dalam menjalankan tanggung jawabnya.
"Apa yang kita alami dulu, global economic crisis tahun 2008, bisa terjadi lagi kalau tidak ada kesadaran global, kalau pemimpin dunia gagal melaksanakan tugasnya," kata Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.
3. SBY doakan pemerintahan Presiden Prabowo sukses

SBY berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat menyelesaikan semua pekerjaan rumah bangsa agar negara ini dapat melaju lebih cepat menuju kemajuan.
Dia berharap tidak ada lagi persoalan mendasar yang menghambat laju pembangunan nasional.
Dalam konteks kepemimpinan nasional saat ini dan mendatang, SBY turut menyampaikan harapannya terhadap pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Dia mendoakan kepemimpinan nasional mampu membawa Indonesia menjadi negara yang lebih kuat dan maju.
SBY mengaitkan hal tersebut dengan visi besar Indonesia Emas 2045—menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi, demokrasi yang kokoh, serta peradaban yang semakin maju.
"Kita doakan pemerintahan kita, pimpinan Presiden Prabowo dan pemimpin-pemimpin siapa pun nanti makin sukses," kata dia.















