Serapan Beras Melonjak 700 Persen, Pemerintah Buka Peluang Ekspor

- Serapan CBP awal 2026 melonjak 700 persen menjadi 112 ribu ton setara beras.
- Pemerintah menugaskan Bulog mengadakan 4 juta ton setara beras sepanjang 2026.
- Harga gabah petani berada di atas HPP dan mendukung penyerapan hasil panen nasional.
Jakarta, IDN Times — Realisasi serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada awal 2026 mencatat lonjakan signifikan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat serapan setara beras mencapai sekitar 112 ribu ton, atau meningkat sekitar 700 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut, capaian tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memasok beras ke negara lain, apabila tren serapan dan produksi nasional tetap terjaga. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Table of Content
1. Serapan CBP tertinggi di awal tahun dalam lima tahun terakhir

Bapanas mencatat realisasi serapan setara beras sebesar 112 ribu ton pada awal 2026 menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode awal tahun. Sebagai perbandingan, serapan pada periode yang sama tahun sebelumnya berada di kisaran 14 ribu ton.
“Serapan bulan ini, kami terima kasih pada Dirut Bulog dan seluruh Direksi, serapan awal tahun ini meningkat pesat. Tahun lalu itu 14 ribu ton satu bulan. Tahun ini 112 ribu ton. Laporan harian kami terima dan ini naik 700 persen di Januari,” kata Amran.
Dia menambahkan, berdasarkan laporan Bulog, serapan hingga memasuki Februari 2026 masih berada pada tren positif. Ia berharap kondisi tersebut dapat terus berlangsung secara konsisten.
“Mudah-mudahan ini bertahan, tetap konstan. Kalau kami lihat tadi, masuk Februari itu 112 ribu ton. Jadi aku hafal datanya Bulog. Ini kalau berlanjut, insya Allah hampir pasti mudah-mudahnya, kalau ada negara sahabat yang butuh beras, mungkin kita bisa supply,” ujarnya.
2. Produksi beras nasional diproyeksikan meningkat

Lonjakan serapan CBP sejalan dengan proyeksi peningkatan produksi beras nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi beras pada periode Januari hingga Maret 2026 dapat mencapai 10,16 juta ton.
Angka tersebut naik sekitar 1,39 juta ton dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun 2025. Proyeksi ini menjadi salah satu dasar pemerintah dalam memperkuat penugasan pengadaan cadangan pangan dari produksi dalam negeri.
Untuk mendukung akselerasi produksi dan penyerapan, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kepala Badan Pangan Nasional, Menteri Keuangan, dan Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara Nomor 3 Tahun 2026, Nomor 14 Tahun 2026, dan Nomor 47 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 9 Januari 2026.
3. Bulog ditugaskan serap 4 juta ton setara beras

SKB tersebut mengatur penugasan kepada BUMN bidang pangan dalam rangka penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) 2026. Salah satu mandat utama yang diberikan adalah pengadaan CBP sebesar 4 juta ton setara beras, dengan prioritas pembelian dari produksi dalam negeri.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, komitmen Bulog untuk menjalankan mandat tersebut. Hingga 2 Februari 2026, realisasi pengadaan dalam negeri telah mencapai 112.032 ton setara beras.
“Sesuai dengan mandat dalam Rakortas yang menetapkan target pengadaan sebesar 4 juta ton setara beras yang berasal dari gabah kering panen dengan catatan any quality yang memasuki usia panen, sebagai wujud komitmen tersebut, per tanggal 2 Februari 2026, realisasi pengadaan dalam negeri mencapai 112.032 ton setara beras,” kata Rizal.
Untuk mempercepat pencapaian target, Bulog mengoptimalkan tim jemput pangan di berbagai daerah sentra produksi.
“Dalam mengakselerasi target tersebut, kami mengoptimalkan tim jemput pangan untuk komoditas gabah kering panen dan jagung pipil kering. (Kami) selalu sinergi dengan TNI, Polri dan petugas PPL, petugas penyuluh pertanian, untuk memastikan serapan GKP any quality telah memasuki usia panen,” ujar Rizal.
4. Harga gabah petani terpantau stabil dan menguntungkan

Di sisi hulu, kondisi harga gabah di tingkat petani secara nasional terpantau stabil. Berdasarkan Panel Harga Pangan yang dikelola Bapanas, per 2 Februari 2026 rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani tercatat sebesar Rp6.790 per kilogram.
Harga tersebut berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi ini dinilai mendukung peningkatan minat petani untuk menjual hasil panen ke Bulog sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
Dengan kombinasi peningkatan produksi, penugasan pengadaan yang diperkuat, serta harga gabah yang stabil, pemerintah terus memantau perkembangan serapan CBP sebagai bagian dari pengelolaan stok dan stabilitas pangan nasional.
FAQ seputar serapan beras
| Berapa serapan beras pemerintah pada awal 2026? | Serapan Cadangan Beras Pemerintah mencapai sekitar 112 ribu ton setara beras. |
| Mengapa pemerintah membuka peluang ekspor beras? | Karena serapan dan produksi beras nasional menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. |
| Berapa target pengadaan beras Bulog pada 2026? | Bulog ditugaskan mengadakan 4 juta ton setara beras dari produksi dalam negeri. |















