Stasiun Jatake Hampir Rampung, Kemenhub Siap Resmikan Kapan Saja

- Seluruh fasilitas pendukung sudah rampung dibangun
- Stasiun Jatake dalam tahap finalisasi
- Progres pembangunan Stasiun Jatake
Jakarta, IDN Times - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengaku siap meresmikan Stasiun Jatake yang konstruksinya sebentar lagi rampung 100 persen. Kemenhub siap kapan saja meresmikan stasiun itu.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono menyatakan, pihaknya kini hanya menunggu kesiapan dari operator, yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Sinar Mas selaku pengembang.
"Tergantung operator dan yang bangun stasiunnya juga ya. Kalau kami mah siap anytime. Sekarang proses pengujian juga lagi berlangsung. Ya tinggal tunggu tanggal saja untuk dimulai pengoperasian," tutur Allan, kepada awak media, dikutip Kamis (1/1/2026).
1. Seluruh fasilitas pendukung sudah rampung dibangun

Allan menegaskan, pembangunan Stasiun Jatake sejatinya sudah selesai. Hal itu juga terjadi pada seluruh fasilitas pendukungnya.
"Jadi Jatake sekarang ini kan kondisi bangunan sudah siap. Teman-teman bisa ke sana, parkiran juga sudah siap, toiletnya sudah siap, eskalator, lift juga sudah siap," kata Allan.
2. Stasiun Jatake dalam tahap finalisasi

Sebelumnya, KAI memastikan kesiapan Stasiun Jatake yang berlokasi di Kelurahan Jatake-Kadusirung, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, sebagai bagian dari penguatan layanan Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Menyambut 2026, stasiun baru ini terus dipersiapkan melalui tahapan finalisasi bersama DJKA Kemenhub sebelum mulai melayani masyarakat.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan, pengembangan Stasiun Jatake merupakan bagian dari strategi peningkatan kapasitas dan kualitas layanan transportasi publik di kawasan penyangga Jakarta.
Hingga kini, lintas Rangkasbitung terus mencatat pertumbuhan pengguna yang signifikan, dari 43.317.716 pengguna pada 2022, meningkat menjadi 62.085.471 pengguna pada 2023, kemudian 69.999.362 pengguna pada 2024, dan mencapai 70.496.181 pengguna sepanjang Januari–November 2025.
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi massal yang andal terus meningkat. Stasiun Jatake dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan itu dengan menghadirkan akses yang lebih dekat, perjalanan yang lebih tertata, serta distribusi penumpang yang lebih merata,” ujar Bobby, dalam pernyataan resminya, Senin (29/12/2025).
3. Progres pembangunan Stasiun Jatake

Stasiun Jatake dikembangkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang memadukan fungsi transportasi dan aktivitas kawasan.
Stasiun tersebut berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi dengan bangunan tiga lantai seluas sekitar 3.000 meter persegi. Berada di KM 37+045 lintas Tanah Abang–Rangkasbitung, stasiun ini memiliki peron sepanjang 250 meter dengan lebar masing-masing 6 meter, serta diproyeksikan mampu melayani hingga 20.000 penumpang per hari.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, fasilitas Stasiun Jatake dirancang untuk mendukung kebutuhan pengguna Commuter Line secara menyeluruh. Di dalam gedung stasiun tersedia area aktivitas penumpang, zona komersial, serta ruang perkantoran KAI.
Adapun area luar dilengkapi fasilitas parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda, serta lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi.
“Stasiun Jatake dipersiapkan sebagai simpul layanan baru yang mendukung kelancaran naik turun penumpang sekaligus mendorong pergerakan ekonomi kawasan yang terus berkembang,” kata Anne.
Dari sisi layanan, Stasiun Jatake akan melayani Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung yang mencakup Tanah Abang, Palmerah, Kebayoran, Pondok Ranji, Jurang Mangu, Sudimara, Rawa Buntu, Serpong, Cisauk, Cicayur, Jatake, Parung Panjang, Cilejit, Daru, Tenjo, Tigaraksa, Cikoya, Maja, Citeras, hingga Rangkasbitung.
Penambahan stasiun ini diharapkan memperkuat distribusi penumpang dan meningkatkan kelancaran mobilitas harian masyarakat. Hingga akhir November 2025, progres pembangunan Stasiun Jatake telah mencapai 98,56 persen, mencakup prasarana utama dan fasilitas penunjang.


















