ilustrasi negosiasi, jabat tangan (magnific.com/freepik)
Beijing juga gak hanya mengandalkan pertemuan antara Xi dan Trump. Hubungan China-AS membutuhkan komunikasi yang lebih luas karena persoalannya mencakup perdagangan, teknologi, pertanian, keamanan, hingga penegakan hukum. Karena itu, keberadaan kelompok kerja dan jalur komunikasi antarlembaga menjadi penting untuk menangani persoalan secara lebih teknis.
Pendekatan tersebut membuat penyelesaian masalah gak harus selalu menunggu pertemuan para pemimpin negara. Ketika ada persoalan perdagangan atau aturan baru, pejabat dan negosiator dari kedua pihak dapat membahasnya melalui mekanisme yang lebih spesifik. Dengan begitu, risiko kesalahpahaman atau eskalasi mendadak bisa lebih mudah dikelola.
Pada akhirnya, strategi Beijing selama periode Trump dapat dipahami sebagai perpaduan antara ketegasan dan fleksibilitas. China tetap mempertahankan kepentingan yang dianggap penting, tapi pada saat yang sama berusaha mempertahankan jalur dialog dan mencari bidang kerja sama. Pemerintah China sendiri menggambarkan hubungan kedua negara melalui gagasan bahwa kerja sama dapat membawa keuntungan bersama, sementara konfrontasi berisiko merugikan kedua pihak.
Strategi pragmatis Beijing menunjukkan bahwa meredakan ketegangan dagang gak selalu berarti salah satu pihak harus mengalah sepenuhnya. China berusaha memberikan respons terhadap tekanan AS sambil menjaga agar hubungan ekonomi dan diplomatik tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Ketergantungan ekonomi, kemampuan beradaptasi, komunikasi antarpemimpin, dan negosiasi di berbagai level menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Meski begitu, kestabilan jangka panjang hubungan China-AS masih bergantung pada bagaimana kedua negara mengelola perbedaan di bidang perdagangan, teknologi, keamanan, dan kepentingan strategis lainnya.