Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Abaikan Ancaman AS, Maskapai Iran Tetap Mendarat di China

2 min read
Abaikan Ancaman AS, Maskapai Iran Tetap Mendarat di China
Maskapai Mahan Air (Unsplash.com/Alireza Akhlaghi)
  • Mahan Air dari Teheran mendarat di Guangzhou pada 23 September 2026 dan memastikan penerbangan internasional serta penjualan tiket tetap berjalan normal.
  • AS mengancam sanksi sekunder terhadap pihak yang menyediakan bahan bakar, izin pendaratan, atau tiket bagi maskapai Iran, dengan risiko kehilangan akses transaksi dolar.
  • China menolak sanksi sepihak AS yang dinilai tidak berdasar hukum internasional, sementara rute langsung maskapai Iran ke kota-kota China tetap dipertahankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pesawat komersial milik maskapai Iran, Mahan Air, mendarat di Guangzhou, China, pada Rabu (23/9/2026). Penerbangan sipil ini tetap beroperasi normal di tengah ancaman sanksi baru dari Amerika Serikat terhadap industri penerbangan Teheran.

Pendaratan tersebut menandai berlanjutnya rute langsung kedua negara meski menghadapi tekanan Washington.

  1. 1. Mahan Air tetap layani rute penerbangan ke Guangzhou

    Pesawat bernomor penerbangan IRM093 mendarat di Bandara Internasional Baiyun Guangzhou pukul 16.39 waktu setempat dari Teheran. Kedatangan pesawat berbadan lebar ini menarik perhatian karena jadwalnya tidak tercantum di situs resmi bandara.

    Pihak maskapai memastikan operasional tetap berjalan lancar. Petugas tiket Mahan Air di Shanghai menyatakan tidak menerima pemberitahuan pembatalan, dan penjualan tiket sepekan ke depan tetap normal.

    "Sejauh ini tidak ada penerbangan internasional maskapai Iran yang dibatalkan, dan seluruhnya tetap beroperasi sesuai jadwal," kata Juru Bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran, Majid Akhavan, dilansir The Standard.

    Pemerintah Iran menegaskan jadwal penerbangan terus dipertahankan demi melayani kebutuhan mobilisasi penumpang sipil dengan aman.

  2. 2. Amerika Serikat ancam putus akses transaksi dolar

    Departemen Keuangan Amerika Serikat sebelumnya menetapkan batas waktu penghentian layanan bagi maskapai komersial Teheran. Kebijakan sanksi sekunder ini menyasar fasilitas bandara, mulai dari penyedia bahan bakar avtur hingga penjualan tiket pesawat.

    Langkah Washington tersebut dirancang untuk memutus kerja sama perusahaan internasional yang memberi bantuan teknis kepada maskapai Iran.

    "Jika pesawat mendarat, Anda dilarang menyediakan bahan bakar, izin pendaratan, maupun menjual tiket jika tidak ingin dikeluarkan dari sistem transaksi dolar," kata Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent.

    Peringatan itu sempat menghentikan sementara rute penerbangan Iran ke Irak, Oman, dan Azerbaijan. Namun, Washington belum merinci mekanisme sanksi teknis bagi bandara di Asia yang tetap melayani penerbangan tersebut.

  3. 3. Pemerintah China tolak sanksi sepihak Amerika Serikat

    Pemerintah China secara tegas menolak sanksi sepihak yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap maskapai Iran. Beijing menilai kebijakan pembatasan tersebut tidak berdasar hukum serta menyalahi prinsip kerja sama internasional.

    "China secara konsisten menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar hukum internasional dan tidak disetujui Dewan Keamanan PBB," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

    Maskapai Iran selama bertahun-tahun telah melayani rute langsung ke kota-kota besar China, seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou. Pendaratan pesawat ini menunjukkan kedua negara tetap menjaga jalur penerbangan di tengah tekanan geopolitik global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More