Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suku Bunga Tinggi Mengancam Bisnis IPO dan Merger Perusahaan
ilustrasi mitra bisnis (pexels.com/fauxels)
  • Kenaikan suku bunga AS menaikkan biaya pendanaan, membuat perusahaan lebih hati-hati membiayai ekspansi, menerima valuasi lebih rendah, atau menunda investasi besar.
  • Kondisi pasar dan imbal hasil obligasi yang meningkat mendorong penundaan IPO, termasuk Oura, serta pembatalan IPO Firmus Grid akibat persoalan minat investor dan valuasi.
  • Nilai M&A global kuartal III 2026 turun 41% menjadi US$993 miliar, menekan pendapatan bank investasi, meski transaksi sepanjang tahun masih naik 28% menjadi US$3,9 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat mulai menjadi tantangan bagi perusahaan yang ingin mencari pendanaan melalui pasar modal. Biaya pinjaman yang lebih mahal dapat membuat rencana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) dan merger serta akuisisi (M&A) semakin sulit direalisasikan. Kondisi ini terlihat ketika sejumlah perusahaan menunda rencana pencatatan saham, sementara aktivitas transaksi merger global melambat pada kuartal III 2026.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena bisnis perbankan investasi Wall Street sempat menikmati lonjakan aktivitas transaksi pada paruh pertama tahun ini. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi dan perubahan kondisi pasar membuat perusahaan harus mempertimbangkan kembali biaya serta valuasi transaksi. Ada beberapa alasan mengapa suku bunga tinggi dapat menghambat aktivitas IPO dan merger perusahaan.

1. Biaya pendanaan yang mahal membuat perusahaan lebih berhati-hati

ilustrasi uang (pexels.com/Саша Алалыкин)

Suku bunga yang meningkat membuat biaya pinjaman perusahaan ikut berpotensi naik. Perusahaan yang ingin membiayai ekspansi melalui utang perlu memperhitungkan pembayaran bunga yang lebih besar, sehingga proyek baru bisa menjadi kurang menguntungkan. Kondisi ini juga dapat membuat manajemen menunda investasi besar sampai prospek pendapatan dan biaya pendanaan terlihat lebih jelas.

Dampaknya tidak terbatas pada perusahaan yang mengandalkan pinjaman bank. Investor juga dapat meminta imbal hasil lebih tinggi ketika membeli obligasi atau menanamkan modal pada bisnis yang dinilai berisiko. Akibatnya, perusahaan mungkin perlu menawarkan persyaratan pendanaan yang lebih menarik atau menerima valuasi lebih rendah untuk mendapatkan dana.

2. Rencana IPO bisa tertunda akibat perubahan kondisi pasar

ilustrasi investasi saham (pexels.com/RDNE Stock project)

IPO memungkinkan perusahaan menghimpun modal dengan menjual saham kepada publik untuk pertama kalinya. Namun, perusahaan perlu mempertimbangkan minat investor, valuasi yang realistis, dan kondisi pasar sebelum menentukan waktu pencatatan saham. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, sebagian investor dapat beralih ke instrumen pendapatan tetap sehingga perusahaan harus bekerja lebih keras untuk menarik minat pembeli saham.

Sejumlah perusahaan telah menunda rencana IPO di tengah kondisi pasar yang kurang mendukung. Sebagai contoh, produsen cincin pintar Oura termasuk perusahaan yang menangguhkan rencana pencatatan sahamnya, sedangkan perusahaan infrastruktur pusat data Firmus Grid membatalkan rencana IPO setelah menghadapi persoalan minat investor terhadap valuasinya. Meski demikian, suku bunga bukan satu-satunya penyebab karena penilaian harga perusahaan dan permintaan investor juga berperan dalam keputusan tersebut.

3. Aktivitas merger dan akuisisi mulai melambat

ilustrasi mitra bisnis (pexels.com/Sora Shimazaki)

Merger dan akuisisi merupakan transaksi ketika perusahaan bergabung atau membeli bisnis lain untuk memperluas pasar, memperoleh teknologi, maupun meningkatkan efisiensi. Banyak transaksi bernilai besar membutuhkan pembiayaan eksternal, sehingga kenaikan biaya pinjaman dapat mengubah perhitungan keuntungan dan risiko bagi calon pembeli. Perusahaan juga bisa memilih menunggu jika harga yang diminta penjual sudah tidak sesuai dengan prospek bisnis saat ini.

Data LSEG menunjukkan nilai transaksi M&A global mencapai sekitar US$993 miliar pada kuartal III 2026. Angka tersebut turun 41 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan menjadi pertama kalinya sejak kuartal II 2025 nilai transaksi global berada di bawah US$1 triliun. Meski aktivitas kuartalan melemah, nilai transaksi M&A global sepanjang tahun berjalan masih meningkat 28 persen menjadi sekitar US$3,9 triliun.

4. Bank investasi kehilangan momentum meski peluang belum tentu hilang

ilustrasi investor (pexels.com/Gustavo Fring)

Penundaan IPO dan melambatnya M&A dapat memengaruhi pendapatan bank investasi yang membantu perusahaan menyusun transaksi, mencari investor, dan menentukan valuasi. Jika jumlah transaksi berkurang, bank berpotensi menerima lebih sedikit biaya jasa dari penjaminan emisi saham maupun pendampingan merger dan akuisisi. Dampak ini menjadi perhatian setelah aktivitas perbankan investasi mencatat kinerja kuat pada paruh pertama 2026.

Namun, peluang bisnis belum sepenuhnya hilang, terutama dari kebutuhan pendanaan industri kecerdasan buatan AI. Pembangunan pusat data dan infrastruktur pendukung AI dapat menciptakan kebutuhan terhadap penerbitan obligasi, penghimpunan modal, serta layanan konsultasi transaksi. Keberlanjutan peluang tersebut akan bergantung pada kesediaan investor menyediakan dana dan kemampuan perusahaan membuktikan bahwa investasi besar mereka dapat menghasilkan keuntungan.

Suku bunga tinggi dapat membuat IPO dan merger lebih sulit dilakukan karena biaya pendanaan meningkat dan investor menjadi lebih selektif. Meski aktivitas transaksi global melemah pada kuartal III 2026, angka sepanjang tahun masih menunjukkan pertumbuhan sehingga belum tepat menyimpulkan bahwa pasar telah kehilangan seluruh momentumnya. Arah suku bunga, valuasi perusahaan, dan minat investor akan menjadi faktor penting bagi kelanjutan aktivitas pasar modal dan bisnis perbankan investasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article