Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemerintah Ingatkan ASN Jangan Cuma Andalkan AI buat Kerja

2 min read
Pemerintah Ingatkan ASN Jangan Cuma Andalkan AI buat Kerja
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini. (IDN Times/Trio Hamdani)
  • MenPAN-RB Rini Widyantini mengingatkan ASN agar tetap memegang tanggung jawab pekerjaan dan menjadikan AI sebagai mitra kerja.

  • Kementerian PANRB mendorong kompetensi digital, termasuk kemampuan menganalisis, mengambil keputusan, dan berkolaborasi.

  • Proyeksi WEF menunjukkan porsi tugas yang melibatkan teknologi dan kolaborasi manusia-mesin meningkat hingga 2030.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini mengingatkan aparatur sipil negara (ASN) agar tidak menyerahkan tanggung jawab pekerjaan kepada mesin atau kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Teknologi harus menjadi mitra kerja yang membantu ASN meningkatkan kualitas pekerjaan dan pelayanan kepada masyarakat. Hal itu disampaikan Rini dalam Peruri Digital Summit 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut Rini, pemanfaatan teknologi dalam birokrasi tidak berarti mengalihkan tanggung jawab manusia kepada mesin. ASN tetap perlu menjalankan perannya dalam pekerjaan pemerintahan, sementara teknologi digunakan sebagai alat bantu agar pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih berkualitas.

"Jadi saya tidak ingin para ASN ini menggantungkan kepada mesin, tapi itu dijadikan mitra sebagai alat supaya dia bisa bekerja lebih berkualitas sehingga bisa memberikan pelayanan yang lebih baik," kata dia.

  1. 1. MenPAN-RB dorong peningkatan kompetensi digital ASN

    20261021_110722.jpg
    Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini. (IDN Times/Trio Hamdani)

    Rini menilai kemampuan menganalisis, mengambil keputusan, dan berkolaborasi menjadi hal penting bagi ASN dalam menyelesaikan persoalan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi digital menjadi salah satu hal yang didorong Kementerian PANRB.

    Kemampuan tersebut diperlukan agar ASN dapat menghadapi perubahan cara kerja seiring perkembangan teknologi. Penggunaan teknologi tidak cukup hanya dengan mengoperasikan perangkat atau aplikasi.

    "Inilah kenapa kami sekarang sedang mendorong dilakukannya kompetensi digital," ujar dia.

  2. 2. Teknologi bakal makin berperan dalam pekerjaan pada 2030

    ilustrasi teknologi
    ilustrasi teknologi (pexels.com/ Tara Winstead)

    Rini merujuk proyeksi World Economic Forum (WEF) mengenai perubahan pembagian tugas kerja antara manusia dan teknologi hingga 2030. WEF mencatat 47 persen tugas kerja saat ini terutama dilakukan manusia, 22 persen oleh teknologi, dan 30 persen melalui kombinasi manusia dan mesin.

    Pada 2030, tugas yang terutama dilakukan manusia diproyeksikan turun menjadi 33 persen, sedangkan tugas yang dilakukan teknologi meningkat menjadi 34 persen. Sementara itu, tugas yang menggabungkan manusia dan mesin diperkirakan mencapai 33 persen.

    "Jika kita melihat proyeksi dari World Economic Forum itu semakin banyak pekerjaan yang ke depan ini akan dilakukan oleh teknologi, maupun melalui kolaborasi antara manusia dan mesin," tuturnya.

  3. 3. Peran manusia dituntut punya kemampuan lebih tinggi

    ilustrasi teknologi AI
    ilustrasi teknologi AI (vecteezy.com/sompoch sivakosit)

    Perubahan teknologi menggeser peran manusia dalam pekerjaan. Jika sebelumnya pekerjaan lebih banyak dilakukan manusia, perkembangan teknologi membuat semakin banyak tugas yang dikerjakan mesin maupun melalui kolaborasi keduanya.

    "Ini peran manusia ini tentunya bergeser begitu ya, yang dulu kita lebih banyak kepada manusianya, tetapi sekarang manusia itu dengan adanya peran teknologi itu pekerjaannya harus diisi oleh manusia yang mempunyai kemampuan yang lebih tinggi," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More