Survei Populix: Kepercayaan Konsumen RI Lesu, Turun 6,17 Poin

- Survei Populix terhadap 1.000 responden mencatat CCI 2026 turun 6,17 poin menjadi 48,73, terutama akibat persepsi ekonomi makro yang merosot 11,84 poin.
- Kenaikan pengeluaran rumah tangga dan ketidakpastian pekerjaan membuat konsumen lebih ketat memprioritaskan belanja; perempuan serta kelompok ekonomi atas tercatat lebih pesimistis.
- Meski kondisi saat ini dinilai memburuk, 46 persen responden optimistis ekonomi membaik dalam enam bulan, didorong harapan biaya stabil, pekerjaan membaik, dan pendapatan meningkat.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times - Kepercayaan konsumen Indonesia melemah pada 2026. Hal ini tercermin dari hasil survei Populix terhadap 1.000 responden yang menunjukkan Consumer Confidence Index (CCI) 2026 berada di level 48,73, turun 6,17 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Senior Research Director Populix Indah Tanip menjelaskan penurunan ini dipicu oleh memburuknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia secara makro. Indikator Indonesia Economic Perception Index tercatat 43,96, anjlok 11,84 poin dibandingkan 2025.
"Yang paling banyak menyebabkan penurunan confidence index 2026 adalah sentimen masyarakat terhadap ekonomi Indonesia. Secara makro, kita turun sangat tinggi, sekitar 11 poin," ujar Senior Research Director Populix Indah Tanip dalam pemaparan Consumer Confidence Index Populix 2026, Rabu (7/10/2026).
1. Ada tiga parameter yang digunakan dalam pembentukan CCI

Senior Research Director Populis, Indah Tanik. (IDN Times/Triyan). Ia menjelaskan, terdapat tiga parameter yang digunakan dalam pembentukan CCI. Pertama, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia secara makro. Kedua, personal economic index yang menggambarkan kondisi ekonomi pribadi. Ketiga, financial control index yang mencerminkan kemampuan responden dalam mengelola keuangan.
Berdasarkan hasil survei, pelemahan kepercayaan konsumen lebih banyak mencerminkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi secara umum. Sementara itu, persepsi terhadap kondisi ekonomi pribadi dan kemampuan mengontrol keuangan mengalami penurunan yang lebih terbatas.
Survei Populix dilakukan secara daring terhadap 1.000 responden, dengan komposisi laki-laki dan perempuan yang seimbang. Mayoritas responden berasal dari Pulau Jawa dan merupakan kelompok masyarakat yang sudah bekerja.
"Jadi sebenarnya lebih banyak sentimen yang terjadi di luar sana. Biaya pengeluaran rumah tangga semakin tinggi, kemudian ada ketidakpastian tentang masa depan, terutama terkait pekerjaan atau potensi kehilangan pekerjaan yang semakin tinggi. Kondisi ini menyebabkan confidence index semakin turun," kata Indah.
2. Masyarakat lebih selektif membelanjakan uangnya

Belanja (pexels.com/@gustavo-frin) Melemahnya kepercayaan konsumen turut mendorong masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang. Konsumen mulai menyusun prioritas dengan lebih ketat, termasuk memilah kebutuhan yang harus segera dipenuhi dan pengeluaran yang masih dapat ditunda.
Dari sisi demografi, perempuan tercatat lebih pesimistis terhadap kondisi ekonomi dibandingkan laki-laki. Sementara itu, kelompok ekonomi atas juga menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi dibandingkan kelompok ekonomi menengah dan bawah.
Indah menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan rumah tangga. Perempuan, terutama yang sudah berkeluarga, cenderung lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.
"Hal ini disebabkan mayoritas responden wanita bekerja dan juga sudah berkeluarga. Mereka merasa perlu berhati-hati untuk memastikan pengeluaran rumah tangganya. Apalagi, pengeluaran rumah tangga semakin tinggi sehingga mereka harus hati-hati dalam mengontrol pengeluaran tersebut," jelasnya.
3. Masih optimistis enam bulan ke depan

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern) Meski persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini memburuk, masyarakat masih menyimpan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam enam bulan mendatang.
Hasil survei menunjukkan 46 persen responden optimistis kondisi ekonomi Indonesia akan membaik dalam enam bulan ke depan. Tingkat optimisme tersebut meningkat sekitar 20 poin dibandingkan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Indah mengatakan optimisme tersebut terutama didorong oleh harapan bahwa biaya pengeluaran akan lebih stabil dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, masyarakat berharap kondisi pekerjaan semakin stabil, peluang mendapatkan pekerjaan baru meningkat, pendapatan membaik, serta kebijakan pemerintah semakin mendukung dunia usaha.
"Jadi mereka sebenarnya masih optimistis bahwa enam bulan ke depan ekonomi Indonesia akan menjadi lebih baik lagi. Kenapa mereka merasa ekonomi Indonesia akan lebih baik? Karena mereka melihat biaya pengeluaran itu akan lebih stabil," pungkasnya.






















