Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Survei Ungkap Gen Z Pilih Nganggur daripada Tak Bahagia di Kantor
Ilustrasi stres bekerja (freepik.com)
  • Survei global menunjukkan lebih dari separuh Gen Z rela meninggalkan pekerjaan yang menghalangi kebahagiaan, bahkan 40% memilih menganggur daripada bertahan di kantor yang membuat stres.
  • Generasi muda menempatkan kesesuaian nilai dan budaya kerja sebagai prioritas, dengan banyak yang menolak perusahaan tanpa dukungan keberagaman, inklusi, atau nilai sosial yang sejalan.
  • Karyawan modern menuntut fleksibilitas dan peluang pengembangan diri, namun hanya sebagian kecil perusahaan yang menyediakan pelatihan serta kebijakan kerja fleksibel sesuai harapan mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia kerja sedang mengalami perubahan besar, terutama sejak pandemi mengubah cara banyak orang memandang karier, keseimbangan hidup, dan makna kesuksesan. Jika generasi sebelumnya cenderung menempatkan stabilitas pekerjaan sebagai prioritas utama, generasi muda saat ini memiliki pandangan yang berbeda. Mereka tidak lagi melihat pekerjaan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari kualitas hidup secara keseluruhan.

Sebuah survei global menunjukkan bahwa lebih dari separuh pekerja berusia 18 hingga 24 tahun atau yang termasuk dalam generasi Z bersedia meninggalkan pekerjaan yang menghalangi mereka menikmati kehidupan pribadi. Bahkan, sekitar 40 persen responden dalam kelompok usia tersebut mengaku lebih memilih menganggur daripada bertahan di pekerjaan yang membuat mereka tidak bahagia. Temuan ini menggambarkan perubahan besar dalam ekspektasi tenaga kerja modern, yang semakin menekankan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kebahagiaan dan kesesuaian nilai menjadi prioritas utama

Ilustrasi bekerja (freepik.com)

Salah satu temuan paling menarik dari survei tersebut adalah bahwa generasi muda tidak hanya berbicara soal work-life balance, tetapi benar-benar mengambil tindakan berdasarkan prinsip tersebut. Sekitar 40 persen responden dari kalangan Gen Z dan milenial mengaku pernah mengundurkan diri dari pekerjaan karena dianggap tidak sesuai dengan kehidupan pribadi mereka. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata seluruh responden yang berada di kisaran 33 persen.

Bagi banyak pekerja muda, pengalaman kerja yang memuaskan kini menjadi prioritas utama. Mereka menginginkan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka tetap memiliki waktu untuk keluarga, hobi, kesehatan mental, dan berbagai aktivitas di luar pekerjaan. Selain itu, kesesuaian nilai juga semakin penting. Sebanyak 43 persen responden menyatakan tidak tertarik bergabung dengan perusahaan yang nilai sosial dan lingkungannya bertentangan dengan keyakinan pribadi mereka. Sementara itu, 41 persen mengatakan mereka enggan bekerja di perusahaan yang tidak mendukung keberagaman dan inklusi.

Temuan ini menunjukkan bahwa reputasi perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh gaji atau posisi yang ditawarkan, tetapi juga oleh budaya dan nilai yang dijalankan dalam organisasi.

Fleksibilitas dan dukungan karier semakin dibutuhkan

Ilustrasi bekerja dengan fleksibilitas (freepik.com)

Selain mencari pekerjaan yang selaras dengan nilai hidup mereka, pekerja modern juga menginginkan fleksibilitas yang lebih besar dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari. Hampir 75 persen responden menyebut lokasi kerja yang fleksibel sebagai faktor penting, sementara 83 persen menilai jam kerja yang fleksibel sangat dibutuhkan untuk mendukung kehidupan pribadi mereka.

Namun, kenyataannya masih terdapat kesenjangan antara harapan karyawan dan kebijakan perusahaan. Hanya sekitar seperempat perusahaan yang menawarkan kombinasi kerja jarak jauh dan fleksibilitas waktu kerja secara bersamaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak organisasi masih tertinggal dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja generasi baru.

Di sisi lain, kompensasi tetap menjadi faktor yang diperhatikan. Meski pelatihan dan pengembangan diri dianggap penting, pekerja tetap mengharapkan insentif finansial yang kompetitif. Dalam setahun terakhir, hanya sebagian kecil responden yang mengaku menerima peningkatan manfaat seperti cuti tambahan, layanan kesehatan yang lebih baik, atau program pensiun yang lebih komprehensif. Sebagian lainnya mendapatkan kenaikan gaji, pelatihan, atau program pengembangan karier.

Pengembangan diri menjadi bagian dari ekspektasi karyawan modern

Ilustrasi karyawan korporat (freepik.com)

Salah satu perubahan terbesar dalam dunia kerja saat ini adalah meningkatnya keinginan karyawan untuk terus belajar dan berkembang. Banyak pekerja tidak lagi melihat pekerjaan sebagai aktivitas rutin semata, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan dan membuka peluang baru di masa depan.

Sebanyak 88 persen responden menyatakan tertarik mengikuti program pelatihan dan pengembangan jika perusahaan menyediakannya. Enam dari sepuluh responden ingin mendapatkan edukasi tentang cara meningkatkan pendapatan mereka. Selain itu, banyak pekerja juga menginginkan pelatihan mengenai keseimbangan hidup dan karier, serta strategi untuk memperoleh promosi atau jenjang karier yang lebih baik.

Sayangnya, hanya sekitar seperempat responden yang mengaku mendapatkan akses terhadap program pelatihan dan pengembangan di tempat kerja mereka. Hal ini memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara harapan karyawan dan apa yang benar-benar diberikan oleh perusahaan.

Pada akhirnya, temuan ini menunjukkan bahwa daya tarik perusahaan di mata generasi muda tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya gaji atau paket tunjangan. Generasi Z dan milenial semakin mengutamakan kebahagiaan, fleksibilitas, kesesuaian nilai, serta peluang pengembangan diri.

Bagi perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan talenta terbaik, memahami perubahan pola pikir ini menjadi langkah yang sangat penting. Di era persaingan tenaga kerja yang semakin ketat, organisasi yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan dan pertumbuhan karyawan akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article