Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tak Lagi di Puncak, Tesla Resmi Disalip BYD di Pasar Mobil Listrik

logo Tesla (unsplash.com/Milan Csizmadia)
logo Tesla (unsplash.com/Milan Csizmadia)
Intinya sih...
  • Penghentian insentif pajak AS mempengaruhi penjualan.
  • Polemik politik Musk memicu reaksi publik dan boikot.
  • Persaingan global yang ketat turut menekan posisi Tesla.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Tesla harus melepas status sebagai produsen kendaraan listrik dengan penjualan tertinggi di dunia setelah dikuasai BYD, pabrikan otomotif asal China. Gelar tersebut lepas untuk pertama kalinya dalam periode satu tahun penuh. Pada Jumat (2/1/2026), Tesla melaporkan penjualan sekitar 1,64 juta unit sepanjang 2025, termasuk 418.227 unit yang tercatat pada kuartal terakhir. Capaian itu mencerminkan penurunan sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menandai kemerosotan penjualan tahunan yang terjadi dua kali beruntun.

Di sisi lain, BYD melampaui Tesla dengan membukukan penjualan sekitar 2,26 juta unit kendaraan listrik. Lonjakan penjualan produsen China ini terbilang signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pergeseran posisi tersebut terasa mencolok, mengingat CEO Tesla, Elon Musk, sebelumnya pernah memandang BYD bukan sebagai pesaing yang serius.

1. Kebijakan dan kontroversi menekan kinerja penjualan Tesla

ilustrasi pajak (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi pajak (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Dilansir dari Al Jazeera, salah satu faktor utama yang membebani penjualan Tesla berasal dari penghentian insentif pajak federal Amerika Serikat (AS) sebesar 7.500 dolar AS (setara Rp125,2 juta) untuk setiap pembelian kendaraan listrik. Kebijakan itu dicabut secara bertahap oleh pemerintahan Donald Trump sejak akhir September 2025. Dampaknya langsung tercermin pada penurunan penjualan kuartal terakhir dan memperdalam pelemahan kinerja sepanjang tahun.

Tekanan juga datang dari polemik politik yang melibatkan Musk, yang memicu reaksi publik dan mendorong sebagian konsumen melakukan boikot akibat pandangan politik sayap kanannya. Sejak 2024, Musk secara terbuka menyatakan dukungan kepada Presiden AS Donald Trump dan bahkan memimpin panel efisiensi pemerintah kontroversial bernama Department of Government Efficiency (DOGE).

Keberadaan panel tersebut berujung pada pemutusan hubungan kerja massal pegawai federal, yang kemudian memicu perpecahan opini publik serta aksi protes di sejumlah fasilitas Tesla dan diikuti penurunan penjualan yang cukup tajam.

Selain itu, persaingan global yang kian ketat turut menekan posisi Tesla di pasar. Perusahaan yang berdiri sejak 2003 dan sempat melaju jauh meninggalkan produsen mobil konvensional kini harus menghadapi banyak pemain baru yang agresif. Tekanan paling besar datang dari China, serta pasar Eropa dan Asia yang berhasil menggerus laju pertumbuhan Tesla.

2. Strategi harga murah dan pergeseran fokus bisnis Tesla

Tesla Optimus Gen-2 Humanoid robot (Tesla, Creative Commons Atribusi 3.0 Tanpa Adaptasi, via Wikimedia Commons)
Tesla Optimus Gen-2 Humanoid robot (Tesla, Creative Commons Atribusi 3.0 Tanpa Adaptasi, via Wikimedia Commons)

Untuk membalikkan keadaan, Tesla mulai menawarkan varian kendaraan dengan harga lebih terjangkau. Perusahaan baru-baru ini merilis versi ekonomis Model Y dan Model 3 yang dirancang khusus untuk menantang dominasi model buatan China di Eropa dan Asia. Model Y terbaru dipasarkan di bawah 40 ribu dolar AS (setara Rp667,6 juta). Sementara itu, Model 3 versi murah dibanderol di bawah 37 ribu dolar AS (setara Rp617,5 juta). Kuartal terakhir pun menjadi periode pertama yang mencatat kontribusi penjualan dari model-model tersebut sejak diperkenalkan Musk pada awal Oktober, dilansir dari NBC News.

Pada saat yang sama, Musk berusaha menenangkan kekhawatiran investor dengan mundur dari panel DOGE pada Mei. Ia menegaskan bahwa pelemahan penjualan kendaraan saat ini bukan persoalan utama bagi perusahaan. Fokus Tesla kini diarahkan pada pengembangan layanan taksi robot otonom, ekspansi bisnis penyimpanan energi, serta robot humanoid untuk kebutuhan rumah tangga dan industri.

3. Harapan investor dan tantangan hukum membayangi Tesla

Elon Musk dan masa depan neuralink
Elon Musk dan masa depan neuralink (Steve Jurvetson, CC BY 2.0, via Wkimedia Commons)

Meski penjualan kendaraan sedang tertekan, investor tetap menaruh ekspektasi besar pada visi jangka panjang Musk. Mereka percaya Musk mampu membawa Tesla menjadi pemimpin global dalam layanan taksi robot otonom dan pengembangan robot humanoid yang menjalankan tugas harian di rumah maupun kantor, sekaligus memperkuat bisnis penyimpanan energi. Optimisme tersebut tercermin dari kenaikan nilai saham Tesla sekitar 11 persen sepanjang 2025.

Musk menyambut 2026 sebagai orang terkaya di dunia pada usia 54 tahun. Rencana penawaran saham perdana SpaceX pada akhir tahun ini diperkirakan mendorongnya menjadi triliuner pertama di dunia. Pada November, dewan direksi Tesla menyetujui paket kompensasi potensial hingga hampir 1 triliun dolar AS (setara Rp16.700 triliun) jika target kinerja ambisius tercapai, sementara pada Desember Mahkamah Agung Delaware membatalkan putusan sebelumnya sehingga Musk kembali berhak atas paket gaji senilai 55 miliar dolar AS (setara Rp918 miliar) yang sempat dibekukan sejak 2018.

Di tengah optimisme tersebut, Tesla juga menghadapi ancaman hukum yang serius. Perusahaan berisiko kehilangan izin penjualan kendaraan di California untuk sementara waktu setelah seorang hakim menyatakan Tesla telah menyesatkan konsumen terkait tingkat keamanan fitur taksi otonomnya.

Sumber referensi:

https://www.aljazeera.com/amp/news/2026/1/2/chktesla-loses-place-as-worlds-top-electric-vehicle-seller-to-chinas-byd

https://www.nbcnews.com/news/amp/rcna251932

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

AS Serang Venezuela, Harga Emas Pekan Ini Diprediksi Naik Lagi!

05 Jan 2026, 07:03 WIBBusiness