Jakarta, IDN Times - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini bergerak di kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai memberi tekanan signifikan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, posisi rupiah saat ini sudah menyimpang cukup jauh dari asumsi dasar APBN 2026 yang dipatok di level Rp16.500 per dolar AS.
"Selisih sekitar (Rp500) setara dengan pelemahan beberapa persen dari asumsi, dan dalam konteks fiskal Indonesia, ini bukan deviasi kecil. Apalagi tekanan globalnya masih berlangsung dan dampaknya ke APBN bisa dilihat dari dua sisi, yaitu belanja dan penerimaan," ujarnya kepada IDN Times, Selasa (15/4/2026).
