Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

The Fed Makin Hawkish, Rupiah Loyo Mengawali Pekan 

2 min read
The Fed Makin Hawkish, Rupiah Loyo Mengawali Pekan 
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah berada di Rp17.780 per dolar AS pada pukul 09.11 WIB, melemah 22 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya.
  • Kenaikan imbal hasil US Treasury dan prospek suku bunga The Fed yang lebih tinggi dinilai menekan rupiah.
  • Ibrahim Assuaibi dan Lukman Leong memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan rentang perkiraan yang berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (21/9/2026). Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.790 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.11 WIB, rupiah berada di level Rp17.780 per dolar AS, melemah 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.758 per dolar AS.

  1. 1. Imbal hasil obligasi AS naik bikin rupiah tertekan

    Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah terjadi seiring kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau US Treasury. Kenaikan yield tersebut dipengaruhi prospek suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed yang lebih tinggi.

    Kondisi tersebut juga menjadi perhatian dari sisi Bank Indonesia (BI), terutama menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.

    "Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang memberikan tekanan pada BI menjelang RDG BI rabu ini," katanya.

  2. 2. Sikap hawkish The Fed jadi sorotan

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi sebelumnya menyoroti keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4 persen.

    Menurut Ibrahim, Ketua The Fed Kevin Warsh juga menunjukkan sikap hawkish. Sikap tersebut mencerminkan kecenderungan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat guna menekan inflasi.

    Warsh menilai inflasi masih berada di level yang terlalu tinggi. Keputusan kenaikan suku bunga juga disebut sebagai upaya mengurangi tingkat akomodasi kebijakan moneter karena kondisi keuangan saat itu belum menunjukkan pengetatan yang signifikan.

    Ibrahim menyebut pandangan tersebut mendapat dukungan luas dari anggota Federal Open Market Committee (FOMC). Hal itu mengisyaratkan masih terbukanya ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

  3. 3. Rupiah diproyeksi bergerak di Rp17.700-Rp17.850

    Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan potensi ditutup melemah. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS.

    Sementara itu, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More