Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Dorong Pengawasan Mandiri AI Bersama Para Bos Teknologi AS
Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengumumkan standar keselamatan AI sukarela yang mengandalkan evaluasi internal, audit eksternal, dan pengawasan dewan direksi, tanpa aturan federal yang mengikat.
  • Pemerintah AS mendorong pengaturan mandiri demi menjaga inovasi dan persaingan dengan China; Trump juga memerintahkan istilah artificial intelligence diganti menjadi super intelligence.
  • Kebijakan ini muncul saat ada laporan anomali sistem otonom dan pembatalan model OpenAI; Senator Mark Warner mendesak pengujian serta pelaporan wajib lewat undang-undang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar jamuan makan siang bersama para petinggi perusahaan kecerdasan buatan di Gedung Putih, Washington D.C., pada Selasa (29/9/2026). Pertemuan tersebut mengumumkan kesepakatan standar keselamatan sukarela yang akan diawasi secara mandiri oleh pihak perusahaan tanpa aturan hukum yang mengikat dari pemerintah federal.

Kebijakan pengaturan mandiri ini didorong oleh Trump sebagai langkah alternatif pengganti regulasi ketat pemerintah yang dinilai dapat menghambat inovasi teknologi. Trump memperingatkan bahwa perlambatan pengembangan kecerdasan buatan akan merugikan perekonomian AS dan membuat posisi negara tersebut tertinggal dari China.

1. Pedoman sukarela dan rencana pembentukan komite

ilustrasi AI (pexels.com/Aerps.com)

Dilansir CBS News, dokumen kesepakatan standar keselamatan satu halaman tersebut memuat empat lapisan pengendalian dan audit. Lapisan pengendalian tersebut antara lain mencakup evaluasi internal, audit oleh firma eksternal, dan peninjauan oleh dewan direksi masing-masing perusahaan. Selain itu, mereka juga sepakat untuk bertemu secara berkala guna menetapkan standar dan praktik terbaik demi meningkatkan keselamatan sistem. Dokumen yang diunggah Trump ke platform Truth Social tersebut ditegaskan tidak mengikat secara hukum, melainkan bertumpu pada komitmen perusahaan untuk mengawasi diri mereka sendiri.

Trump menyamakan dokumen prinsip sukarela tersebut dengan sebuah konstitusi yang memiliki kekuatan mengikat secara moral bagi para pengembang. "Ini hampir seperti sebuah konstitusi," ujar Trump kepada para jurnalis di Ruang Timur Gedung Putih. Trump juga menyampaikan bahwa para pemimpin AI sempat mendiskusikan pembentukan komite beranggotakan 10 orang guna mengawasi industri, serta dirinya berencana menunjuk penasihat khusus atau czar AI dalam tiga hingga empat hari mendatang.

2. Instruksi perubahan nama resmi dan persaingan global

tampilan AI Claude di smartphone (unsplash.com/Aerps.com)

Pada hari yang sama, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menginstruksikan seluruh instansi federal mengganti penyebutan kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi super intelligence. Dilansir TRT World, Trump menegaskan perubahan istilah tersebut dilakukan karena kemampuan teknologi mutakhir saat ini dinilai sudah tidak lagi bersifat artifisial. Trump juga menepis kekhawatiran ancaman eksistensial teknologi dan menyatakan bahwa AS harus memimpin perlombaan global agar posisinya tidak tersisih.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Mike Johnson turut menolak adanya penghentian sementara maupun regulasi berlebihan terhadap sektor tersebut. "Kita tidak memerlukan moratorium. Kita tidak perlu terburu-buru melakukan regulasi berlebihan, karena kita akan kalah dalam perlombaan dari China," kata Johnson dalam wawancara di Fox Business Network pada Senin. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pimpinan teknologi terkemuka, antara lain Jensen Huang dari Nvidia, Elon Musk dari SpaceX, Mark Zuckerberg dari Meta, Satya Nadella dari Microsoft, Sundar Pichai dari Google, Dario Amodei dari Anthropic, serta Greg Brockman dari OpenAI.

3. Laporan anomali model dan kritik dari parlemen

Gedung Putih, Washington D.C. (unsplash.com/Tabrez Syed)

Pertemuan di Gedung Putih tersebut berlangsung di tengah beredarnya laporan mengenai sistem model otonom yang bergerak di luar kendali. Sistem otonom milik OpenAI dilaporkan sempat bergerak di luar batasan kendali dalam insiden pembobolan platform Hugging Face pada Juli, serta mengakses situs web milik tiga lembaga federal AS dan mencoba mengakses situs otoritas Australia. Di samping itu, OpenAI pada Senin mengumumkan pembatalan peluncuran model terbarunya, Astra 6.1, akibat tidak memenuhi standar keselamatan yang ditentukan.

Mantan peneliti OpenAI dan Anthropic, Jacob Coxon, sebelumnya telah memperingatkan kepada publik bahwa kecerdasan buatan berisiko memicu ancaman kepunahan sebelum akhir dekade ini. Namun, sikap Trump yang memilih menyerahkan kendali kepada pelaku industri menuai penolakan keras dari Senator Partai Demokrat Mark Warner. "Perusahaan-perusahaan yang membangun sistem paling canggih justru memperingatkan kita bahwa teknologi ini melaju lebih cepat daripada perlindungan kita," tutur Warner yang mendesak adanya aturan pengujian dan pelaporan yang bersifat wajib melalui undang-undang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article