Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Kaji Pembatasan Ekspor Solar, Industri Minyak Peringatkan Risiko
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
  • Pemerintahan Trump mengkaji pembatasan hingga penghentian ekspor solar untuk menekan biaya bahan bakar menjelang pemilu tengah masa jabatan, dengan opsi pembatasan lebih diprioritaskan daripada larangan penuh.

  • Kajian muncul setelah harga solar AS mencapai rata-rata 6,52 dolar AS per galon; Gedung Putih menilai kelayakan kebijakan berdasarkan kapasitas penyulingan dan seluruh opsi penurunan harga bensin.

  • Industri dan analis memperingatkan pembatasan ekspor dapat menurunkan produksi kilang, mengganggu pasokan, serta mendorong harga bahan bakar domestik dan global; dampak penurunan harga dinilai singkat dan terbatas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat (AS) tengah mengkaji sejumlah opsi untuk membatasi hingga menghentikan ekspor solar. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan biaya bahan bakar menjelang pemilihan tengah masa jabatan, meski pelaku industri minyak dan analis memperingatkan potensi kenaikan harga.

Trump mengonfirmasi telah meminta jajarannya mempelajari kemungkinan menghentikan pengiriman solar ke luar negeri.

“Saya sudah bilang jangan kirimkan solar. Kita membuat banyak solar,” kata Trump di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9/2026), dikutip CNBC.

1. Pemerintah AS memprioritaskan pembatasan ekspor

ilustrasi pengeboran minyak di laut (pexels.com/GANESH RAMSUMAIR)

Menteri Energi AS Chris Wright menyebut pembatasan lebih dipertimbangkan pemerintah dibandingkan penghentian ekspor secara menyeluruh. Kebijakan ini diambil guna menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri tanpa merusak rantai pasok.

“Kami mencoba menghindari palu tumpul kebijakan pemerintah, dengan memahami kompleksitas penyulingan,” kata Wright kepada The Wall Street Journal.

Wright juga memperingatkan penyumbatan ekspor dapat membuat produksi kilang turun ketika tangki penyimpanan mencapai kapasitas penuh, yang kemudian berpotensi mendorong harga bensin naik. Dilansir The Hill, laporan Politico mengenai rencana larangan ekspor selama 90 hari turut membuat saham Valero, Marathon Petroleum, dan Phillips 66 merosot, meski Gedung Putih membantah klaim tersebut.

2. Lonjakan harga solar mendorong desakan embargo

ilustrasi SPBU (pexels.com/Mustafa Kurt)

Rencana pembatasan muncul setelah harga solar melonjak hingga mencapai rekor tertinggi. Senator Iowa dari Partai Republik Chuck Grassley mendorong embargo solar untuk membantu petani di wilayahnya, sementara data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) mencatat harga rata-rata solar nasional mencapai 6,52 dolar AS per galon (setara Rp114 ribu) dan bensin 4,47 dolar AS per galon (setara Rp78 ribu), naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi Gedung Putih sedang mengkaji kelayakan kebijakan tersebut berdasarkan kapasitas penyulingan. Seorang pejabat Gedung Putih juga menyampaikan bahwa Trump ingin harga bensin turun dan sedang mempertimbangkan seluruh opsi.

3. Industri minyak memperingatkan dampak pembatasan

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

Direktur Utama Institut Perminyakan Amerika (API) Mike Sommers menilai pembatasan ekspor justru dapat membebani konsumen. Seorang eksekutif industri minyak juga mengatakan kepada jurnalis Brian Sullivan bahwa larangan ekspor berpotensi menaikkan harga bahan bakar hingga 30 sen per galon.

Kepala Analisis Minyak Bumi GasBuddy Patrick De Haan, mantan pejabat pemerintahan Biden Gbenga Ajilore dari Pusat Prioritas Anggaran dan Kebijakan, serta Presiden Rapidan Energy Bob McNally menilai penurunan harga hanya akan berlangsung singkat dan terbatas di wilayah Pantai Teluk.

Sementara itu, kawasan lain dan pasar global berisiko mengalami kenaikan harga, terutama akibat hilangnya pasokan Rusia setelah serangan Ukraina. Selain itu, analis S&P Global William O’Neil dan Debnil Chowdhury menyebut pembatasan sebagian jauh lebih tak mengganggu dibandingkan larangan penuh yang menurut McNally tak didukung ekonom maupun analis minyak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article