Trump Dukung Larangan Ekspor Solar AS untuk Tekan Harga Domestik

- Presiden Donald Trump mendukung kajian larangan ekspor solar AS, penuh atau sebagian, untuk meredam harga domestik yang melampaui 6 dolar AS per galon.
- Desakan pembatasan ekspor datang dari legislator Republik demi menekan biaya bahan bakar petani dan pengemudi truk, setelah harga solar naik sekitar 76 persen setahun.
- Industri migas menolak kebijakan itu karena dinilai berisiko memperburuk kapasitas pengilangan dan pasokan; pemerintah masih menilai dampaknya terhadap pengolahan domestik.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan dukungan terhadap rencana pelarangan ekspor solar dari AS pada Selasa (22/9/2026). Dukungan tersebut disampaikan di tengah kenaikan harga solar yang telah menembus lebih dari 6 dolar AS (Rp107 ribu) per galon di pasar domestik.
Pemerintahan Trump kini mengkaji kemungkinan penerapan larangan tersebut, baik secara penuh maupun sebagian. Desakan untuk membatasi ekspor menguat setelah sejumlah legislator Partai Republik menyerukan kebijakan serupa untuk menekan biaya bahan bakar bagi petani dan pengemudi truk menjelang pemilihan umum paruh waktu November.
1. Trump dan legislator dukung larangan ekspor solar

Donald Trump (commons.wikimedia.org/Ali Shaker) Trump menyampaikan dukungannya terhadap penghentian ekspor solar sebelum bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di New York. Ia mengatakan telah meminta jajaran pemerintahannya mempertimbangkan penghentian pengiriman solar ke luar negeri.
Sejumlah legislator Partai Republik sebelumnya telah menyerukan pembatasan ekspor solar untuk membantu menekan biaya bahan bakar bagi petani dan pengemudi truk. Senator Chuck Grassley dari Iowa menjadi salah satu anggota parlemen yang mengusulkan larangan tersebut, sementara Senator Dan Sullivan dari Alaska turut menyuarakan dukungan.
"Bahan bakar Amerika harus tetap berada di dalam negeri untuk rakyat karena harga solar sudah terlalu tinggi," ujar Sullivan, dilansir CNBC.
2. Perang Iran dan Ukraina tekan pasokan energi

ilustrasi Rusia dan Ukraina (unsplash.com/Marek Studzinski) Kenaikan harga solar AS terjadi di tengah gangguan pasar energi akibat perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina. Harga solar AS telah meningkat sekitar 76 persen dalam setahun terakhir, sementara kilang domestik beroperasi mendekati kapasitas penuh sehingga ruang untuk meningkatkan produksi relatif terbatas.
Harga solar nasional AS telah menembus lebih dari 6 dolar AS (Rp107 ribu) per galon. Kondisi tersebut meningkatkan biaya operasional sektor transportasi, pertanian, dan distribusi barang, sehingga turut menambah tekanan terhadap biaya konsumen.
"Jika pemerintah dapat memberlakukan embargo cip ke China, seharusnya mereka juga bisa mengembargo solar untuk membantu petani dan pengemudi truk," ujar Senator Iowa, Chuck Grassley.
3. Industri migas menolak pembatasan ekspor

Ilustrasi industri migas (unsplash.com/@luandmario) Menyikapi desakan larangan ekspor, pemerintah AS mulai mengkaji kelayakan kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan kapasitas kilang domestik. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan pemerintah sedang menilai apakah larangan penuh atau sebagian dapat diterapkan tanpa mengganggu kemampuan pengolahan bahan bakar di dalam negeri.
Namun, American Petroleum Institute menentang pembatasan tersebut. Organisasi industri perminyakan itu menilai pembatasan ekspor berisiko memperburuk persoalan kapasitas pengilangan dan pasokan bahan bakar.
"Jawabannya adalah menambah pasokan dan meningkatkan fleksibilitas, bukan menciptakan pembatasan baru yang berisiko memperburuk situasi yang sudah sulit," kata Presiden American Petroleum Institute, Mike Sommers.
Sejumlah ekonom dan analis energi juga memperingatkan bahwa larangan ekspor dapat meningkatkan pasokan solar di AS dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menaikkan harga solar di pasar global dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian AS.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















