Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WIKA-Waskita Belum Ikut Merger BUMN Karya, Ini Alasannya
Kantor pusat PT Wijaya Karya (Persero Tbk (WIKA). (dok. WIKA)
  • WIKA dan Waskita belum masuk konsolidasi BUMN karya tahun ini karena masalah keuangan; utang WIKA sekitar Rp34 triliun dinilai tidak sebanding dengan aset penjamin.

  • BP BUMN menyiapkan restrukturisasi utang WIKA secara menyeluruh, bukan sekadar memperpanjang tenor, sementara portofolio bisnis Waskita termasuk aset jalan tol sedang ditata ulang.

  • Konsolidasi 2026 fokus pada merger PTPP-Adhi Karya serta Nindya Karya-Brantas Abipraya, ditargetkan rampung akhir November; entitas bertahan masih dikaji dari keuangan dan kapasitas internal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dua BUMN sektor karya akan absen dalam agenda konsolidasi tahun ini karena persoalan keuangan. Adapun entitas yang dimaksud adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan, untuk WIKA, saat ini persoalannya ialah terkait jumlah utang yang sangat besar, sementara aset penjamin (underlying asset) perusahaan tak cukup menutupinya.

“WIKA ini utangnya kan besar, tapi underlying-nya enggak cukup untuk menurunkan utang. Kurang lebih utang WIKA itu Rp34 triliun. Tapi enggak ada lawannya, kalau enggak ada lawannya, ya Pak Dirut yang baru juga pusing juga, ya kan? Karena dulu ada tagihan kepada kereta cepat, macam-macam itu yang di WIKA ini,” ujar Dony di Jakarta, dikutip Jumat, (9/10/2026).

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, nilai aset WIKA sebesar Rp48,94 triliun, turun 2,39 persen dibandingkan periode sebelumnya.

1. Tak mau asal-asalan lakukan restrukturisasi

Portofolio bisnis PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON). (dok. WIKA Beton)

Dony mengatakan, dalam menyelesaikan kewajiban WIKA, salah satu yang dilakukan adalah restrukturisasi utang. Namun, dia tak mau pelaksanaannya hanya sekadar memperpanjang tenor pelunasan.

“Kan waktu kita merestrukturisasi, saya tidak mau hanya asal-asal dikumpulin terus kemudian ditarik 30 tahun, 40 tahun, enggak ada gunanya. Nanti akan menjadi problem lagi,” tutur dia.

2. Bisnis Waskita perlu ditata ulang

Kantor pusat PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). (dok. Waskita)

Terkait Waskita, dia mengungkapkan soal penataan ulang portofolio bisnis.

“Waskita itu dia punya aset jalan tol kan, Waskita Toll Road. Kita lagi melihat apakah nanti yang akan bertahan tolnya saja. Ini kan pertimbangannya enggak bisa asal-asalan, ya,” ucap Dony.

3. Empat BUMN karya bakal dilebur

Kantor Pusat PT PP (ptpp.co.id)

Dony membeberkan, untuk tahun ini pihaknya fokus melakukan  konsolidasi pada empat BUMN karya, yaitu PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) yang akan dimerger dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), serta PT Nindya Karya (Persero) yang akan dilebur dengan PT Brantas Abipraya (Persero).

“Jadi yang merger dulu yang Nindya dan Brantas, sama ADHI dan PP,” kata Dony

Dony menargetkan, proses merger itu bisa selesai pada November 2026 mendatang.

“Nah, ini kan kita harapkan nanti paling telat itu di akhir November itu sudah selesai, yang empat tadi. Yang dua ini karena restrukturisasi, saya lagi menilai lagi nih restrukturisasi itu terutama yang dua perusahaan,” ucap Dony.

Meski begitu, Dony belum membeberkan di antara empat perusahaan tersebut, BUMN mana yang akan menjadi entitas bertahan alias surviving entity. Dia mengatakan, hal itu masih dalam kajian.

“Surviving entity-nya lagi dikaji oleh teman-teman. Ya tentu dilihat dari berbagai macam aspeknya. Kita tidak terlalu fokus kepada siapa menang, dan bukan menang dan kalahnya.

Tapi bagaimana kemudian mereka bersatu menjadi perusahaan yang baik,” tutur Dony.

Menurutnya, perusahaan yang akan menjadi surviving entity itu harus dikaji dari sisi kinerja keuangan dan kapasitas internal, mencakup tata kelola organisasi hingga sumber daya manusia (SDM).

“Lagi dikaji mana dari financial aspect maupun dari internal capabilities-nya tadi. Apakah organisasinya, orangnya semua di asesmen. Nah nanti tentu akan diumumkan,” ujar Dony.

Curated For You

Editorial Team

Related Article