Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Winston Utomo Ungkap 3 Kunci Bikin Konten Lebih Hidup, Tak Sekadar Viral

4 min read
Winston Utomo Ungkap 3 Kunci Bikin Konten Lebih Hidup, Tak Sekadar Viral
Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Winston Utomo menilai konten yang kuat perlu menemukan titik temu antara data dan budaya, bukan hanya mengikuti apa yang sedang ramai.

  • Potensi karya dilihat dari jiwa yang autentik dan mampu menghubungkan audiens secara emosional.

  • Fandom dan kemampuan berkembang ke berbagai format menjadi penanda karya yang dapat bertahan lebih jauh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Founder & CEO IDN, Winston Utomo, mengungkapkan cara melihat sebuah konten agar tidak berhenti sebagai karya yang sekadar viral. Menurutnya, data dan algoritma memang bisa menunjukkan apa yang sedang ramai, tetapi belum tentu bisa menjelaskan mengapa sebuah karya mampu menyentuh audiens.

Winston mengatakan, kunci untuk membuat sebuah karya bisa berkembang lebih jauh adalah menemukan titik temu antara data dan budaya. Sebab, jika data menunjukkan apa yang sedang ramai, budaya justru menunjukkan apakah sebuah karya memiliki jiwa.

“Bagi kami, data dapat menunjukkan apa yang sedang ramai dan apa yang sedang viral, tetapi budaya memberi tahu kita apa yang memiliki jiwa. Tugas kami adalah menemukan titik temu dari kedua hal tersebut,” kata Winston saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).

  1. 1. Bukan cuma viral, konten harus punya jiwa

    IMG_20261022_155059.jpg
    Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Winston mengatakan, hal pertama yang dilihat adalah apakah sebuah konten memiliki jiwa. Menurutnya, sebuah karya harus mampu membuat orang merasa terhubung dan melihat adanya keautentikan di dalamnya.

    “Pada semua konten dan karya kreatif, kami ingin tahu apakah karya tersebut punya jiwa. Bisakah orang terhubung dengannya? Apakah karyanya autentik?” ujarnya.

    Menurut Winston, tantangan saat ini adalah banyaknya konten yang dikonsumsi masyarakat setiap hari, terutama melalui platform seperti Instagram dan TikTok. Namun, dari begitu banyak konten tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar memiliki sesuatu yang membuat audiens terhubung secara emosional.

    “Kita mengonsumsi ratusan bahkan ribuan konten setiap hari di Instagram atau TikTok, tetapi konten yang benar-benar memiliki jiwa jumlahnya tidak banyak,” katanya.

  2. 2. Fandom bikin orang mau kembali

    IMG_20261022_155510.jpg
    Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Pilar kedua yang menurut Winston penting adalah fandom. Baginya, fandom bukan sekadar jumlah pengikut, melainkan rasa memiliki yang muncul dari audiens terhadap sebuah karya.

    “Kami sangat percaya pada kekuatan fandom. Fandom adalah rasa memiliki (sense of belonging) dari para penggemar,” kata Winston.

    Ia mengatakan, keberadaan fandom bisa dilihat dari kemauan audiens untuk kembali menikmati sebuah karya. Bahkan, keterikatan tersebut bisa terlihat ketika mereka rela mengeluarkan uang dari dompet untuk mendapatkan atau menikmati karya tersebut.

    “Maukah orang kembali menikmati konten Anda? Maukah mereka menyisihkan uang dari dompet mereka untuk membeli karya Anda?” ujarnya.

    Menurutnya, pertanyaan tersebut penting untuk mengukur apakah sebuah karya memiliki basis penggemar yang kuat, bukan hanya mendapatkan perhatian sesaat.

  3. 3. Dari konten dan views menjadi IP

    IMG_20261022_155523.jpg
    Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Pilar terakhir adalah IP. Winston menilai sebuah konten baru memiliki nilai lebih ketika bisa berkembang dan merambah berbagai format.

    “Konten hanyalah sekadar konten, dan jumlah tontonan (views) hanyalah angka tontonan. Namun, jika sebuah konten mampu merambah ke berbagai format lain, barulah ia menjadi sebuah IP,” katanya.

    Winston kemudian mencontohkan Pestapora sebagai salah satu karya yang dinilai memiliki ketiga unsur tersebut. Menurutnya, festival musik tersebut memiliki “jiwa” yang membuat audiens merasa terhubung.

    “Contoh nyatanya adalah festival musik kami, Pestapora. Saat pertama kali melihat Pestapora, apakah ia memiliki jiwa? Ya, ia punya jiwa,” ujarnya.

    Dari sisi fandom, Winston menyebut antusiasme audiens terlihat dari penjualan tiket yang berlangsung jauh sebelum daftar musisi diumumkan.

    “Fandom, apakah orang akan terus kembali dan merasa memiliki? Kami berhasil menjual ribuan tiket setahun lebih awal bahkan sebelum mengumumkan daftar musisinya (line-up),” katanya.

    Bagi Winston, perjalanan Pestapora tidak berhenti sebagai festival musik. Bersama Ernest Prakasa, Pestapora juga dikembangkan menjadi film berjudul Operasi Pesta Copet.

    “Dan apakah bisa menjadi IP? Bersama Ernest, mereka membuat film yang sangat bagus yang lahir dari Pestapora berjudul Operasi Pesta Copet,” ujarnya.

    Karena itu, Winston menilai data dan algoritma tetap memiliki peran penting untuk mendatangkan perhatian. Namun, sesuatu yang mampu bertahan dan berkembang membutuhkan lebih dari sekadar angka.

    “Jadi data dan algoritma bisa mendatangkan perhatian, tetapi pada akhirnya ini adalah kombinasi antara soul, fandom, dan IP,” kata Winston.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More