Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WTO: Krisis Hormuz Ancaman Terburuk Perdagangan Global dalam 80 Tahun
kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • WTO memperingatkan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz menjadi ancaman perdagangan global terburuk dalam 80 tahun, berisiko menaikkan biaya pertanian serta harga pangan dan pupuk.
  • Perdagangan barang dunia tetap tumbuh 4,6 persen, didorong lonjakan perdagangan teknologi AI dan semikonduktor, tetapi manfaatnya masih terkonsentrasi di Amerika Utara serta Asia Timur.
  • Pengalihan rute kapal menaikkan premi risiko, sementara gangguan di Laut Merah dan Bab al-Mandab menekan pasokan minyak, memicu penghentian kiriman Aramco dan lonjakan harga solar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdagangan global kini menghadapi ancaman gangguan terburuk dalam 80 tahun terakhir akibat hambatan rantai pasok di Selat Hormuz. Kemacetan pada titik sempit maritim tersebut kini mengancam stabilitas harga pangan dan pupuk dunia, sementara eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi ujian besar bagi perdagangan internasional.

Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala menyampaikan peringatan itu di sela-sela Forum Publik WTO di Jenewa, Swiss. Dia menegaskan bahwa meski sistem perniagaan internasional saat ini tetap tangguh, eskalasi konflik menghadirkan ujian besar bagi 166 negara anggotanya.

1. Harga pangan dan pupuk terancam gangguan Selat Hormuz

ilustrasi petani (pexels.com/Rattasat)

Okonjo-Iweala menjelaskan bahwa cadangan nasional negara-negara di dunia untuk sementara mampu meredam guncangan akibat gangguan di Selat Hormuz. Kendati demikian, blokade berkepanjangan pada jalur perairan strategis itu dipastikan akan menaikkan biaya sektor agrikultur dan mengganggu harga pupuk internasional.

Estimasi sebelumnya dari WTO mencatat kenaikan harga minyak mentah hingga menyentuh 90 dolar AS per barel atau setara Rp1.597.500 (kurs Rp17.750) berpotensi memangkas pertumbuhan perdagangan dunia sebesar 0,5 poin. Kondisi pasar saat ini bahkan mencatatkan harga minyak mentah internasional yang telah melampaui batas ambang perhitungan tersebut.

Pemerintah dari berbagai negara mulai merancang rencana darurat guna melindungi perekonomian domestik dari kegagalan titik sempit maritim di masa depan. Menurut Okonjo-Iweala, kombinasi ketidakstabilan rantai pasok dan pesatnya pergeseran teknologi mempercepat diskusi internal di tubuh WTO mengenai perlunya merombak aturan perdagangan global untuk abad ini, seraya menekankan pentingnya reformasi kelembagaan komprehensif agar negara berkembang tidak tertinggal.

2. Perdagangan barang dunia tertolong lonjakan industri cip

ilustrasi pabrik cip (unsplash.com/Louis Reed)

Kepada kantor berita Anadolu, Okonjo-Iweala memaparkan bahwa perdagangan barang global secara mengejutkan masih tumbuh 4,6 persen tahun ini di tengah tekanan geopolitik. Proyeksi awal untuk pertumbuhan perdagangan barang sepanjang tahun sejatinya sebesar 1,9 persen, namun laju pertumbuhan kuartal pertama sebesar 3,2 persen telah melampaui ekspektasi tersebut.

Sebagian besar momentum kenaikan tersebut disumbang oleh pesatnya pertumbuhan perdagangan teknologi kecerdasan buatan. Sektor ini ditopang oleh kesepakatan tarif nol atau rendah yang menaungi pengapalan semikonduktor serta cip dunia senilai 3 triliun dolar AS atau setara Rp53.250 triliun.

Meski begitu, dia mengingatkan bahwa keuntungan ekonomi dari ledakan perniagaan tersebut masih terkonsentrasi di Amerika Utara dan Asia Timur. Berdasarkan laporan terbaru WTO, kegagalan memodernisasi aturan perdagangan dan melemahnya kerja sama multilateral berisiko menghapus hingga 10 persen potensi pertumbuhan ekonomi global pada 2050.

3. Rute pelayaran memutar dongkrak premi risiko kapal kargo

ilustrasi kapal kargo (pexels.com/William Liu)

Para pelaku industri pelayaran laut berusaha menjaga kelancaran pasokan dengan mengalihkan kapal melewati jalur alternatif yang memutar. Kendati demikian, rute yang memakan waktu tempuh lebih panjang ini memicu lonjakan premi kapal yang tinggi sehingga meragukan kestabilan rantai pasok jangka panjang.

Dilansir The News Pakistan, Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Jassim Mohamed al-Budaiwi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak boleh dijadikan instrumen tawar-menawar. Dia menyerukan komunitas internasional untuk menjalankan tanggung jawab memulihkan stabilitas demi memastikan jalur pelayaran tetap terbuka sesuai hukum internasional. Al-Budaiwi juga mencatat bahwa Qatar dan Oman terus menjaga keterbukaan saluran komunikasi diplomatik selama konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat demi mencari solusi yang adil.

Di sisi lain, Komandan Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam Iran Mohammad Karami menyatakan negaranya siap seratus persen merespons dengan kekuatan militer terhadap setiap salah perhitungan pihak lawan.

4. Krisis kawasan hambat pasokan minyak dan kerek harga solar

Selat Bab al-Mandab (Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Tekanan maritim turut meluas ke wilayah Laut Merah dan Bab al-Mandab akibat ancaman kelompok bersenjata Houthi dari Yaman. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan, "Eropa membantu melindungi pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi," seraya mengonfirmasi peningkatan level siaga armada Operasi Aspides.

Data yang dikutip AFP menunjukkan bahwa lalu lintas mingguan kapal pengangkut ekspor Arab Saudi melalui Bab al-Mandab sejak awal Agustus merosot hingga di bawah sepertiga dari rata-rata tujuh harian tahun ini. Perusahaan minyak Saudi Aramco bahkan menghentikan pengiriman minyak mentah untuk setidaknya dua kilang di Eropa pada bulan depan menyusul serangan terhadap jalur pipa utama mereka.

Dampak krisis rantai pasok ini juga merembet ke Amerika Serikat, ditandai dengan lonjakan harga eceran bahan bakar solar hingga menembus rekor 6,44 dolar AS per galon atau setara Rp114.310. Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan pihaknya membuka peluang untuk meminjamkan minyak mentah tambahan dari Cadangan Minyak Strategis seraya berujar, "Pasar saat ini mengatakan, 'Hei, mungkin kita butuh minyak itu.' Jadi sangat mungkin kami akan merespons hal itu".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article