Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Zulhas Buka Suara soal Impor Beras 1.000 Ton dari AS: Beras Khusus
Menko Pangan RI Zulkifli Hasan meninjau harga dan stok kebutuhan pangan pokok di Pasar Pabaeng-baeng, Makassar, Jumat (6/2/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Zulkifli Hasan memastikan impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat merupakan bagian perjanjian perdagangan timbal balik dan hanya untuk jenis beras khusus, bukan konsumsi masyarakat umum.
  • Beras yang diimpor memiliki karakteristik mirip beras Jepang atau Basmati, digunakan untuk restoran dan kebutuhan medis tertentu, dengan harga tinggi jika diproduksi di dalam negeri.
  • Pemerintah menegaskan volume impor sangat kecil dibanding produksi nasional 34,69 juta ton pada 2025, sehingga tidak berdampak signifikan terhadap pasokan beras dalam negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator (Menko) Pangan Zulkifli Hasan mengonfirmasi rencana impor beras sebanyak 1.000 ton dari Amerika Serikat (AS). Dia menegaskan yang diimpor adalah beras khusus, bukan konsumsi masyarakat luas.

Itu merupakan bagian dari Agreement of Reciprocal Trade (ART) atau perjanjian perdagangan timbal balik yang ditandatangani antara Indonesia dan Amerika Serikat.

"Itu namanya 1.000 ton memang perjanjian itu mengenai beras khusus," kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026).

1. Seperti beras khusus impor dari Jepang

ilustrasi beras (freepik.com/jcomp)

Komoditas yang didatangkan merupakan jenis beras khusus, serupa dengan beras Jepang atau Basmati. Beras jenis itu memiliki segmentasi pasar yang sangat spesifik, seperti restoran maupun kebutuhan medis penderita diabetes.

"Kalau beras khusus ya memang ada termasuk perjanjian kita dengan Jepang kan ada beras Jepang tuh yang buat restoran-restoran Jepang kan dia berasnya khusus didatangkan dari sana. Ya itu kita boleh, ya," tuturnya.

2. Harga beras khusus relatif mahal

ilustrasi beras (freepik.com/jcomp)

Terkait alasan mengapa Indonesia tidak memproduksi sendiri varietas tersebut, Zulhas menyinggung faktor biaya. Dia memprediksi harga jualnya bisa menembus angka di atas Rp100 ribu per kilogram (kg) jika diproduksi di dalam negeri.

"Mahal itu, Rp100 ribu lebih satu kilo kan. Iya, siapa yang mau beli kan? Yang beli kan yang makan di restoran Jepang aja kalau yang Jepang kan, gitu," kata mantan Menteri Perdagangan tersebut.

3. Jumlah yang diimpor sangat sedikit

Ilustrasi impor beras. (dok. Bulog)

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengungkapkan impor tersebut bukan untuk beras umum dalam jumlah besar, melainkan beras dengan klasifikasi khusus dan realisasinya menyesuaikan kebutuhan dalam negeri.

"Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (22/2).

Dengan produksi nasional 34,69 juta ton pada 2025, porsi impor 1.000 ton tersebut dinyatakan sangat kecil dibanding total produksi dalam negeri.

"Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025," katanya.

Editorial Team