ilustrasi bertanya (pexels.com/MART PRODUCTION)
Perjanjian sewa beli dapat menjadi alternatif bagi perusahaan yang memiliki keterbatasan modal kerja tetapi membutuhkan aset untuk menunjang operasional. Pembayaran dalam skema ini juga dapat dicatat sebagai beban perusahaan, sehingga dalam kondisi tertentu dinilai lebih efisien dibandingkan pinjaman konvensional.
Skema tersebut kerap dimanfaatkan oleh perusahaan yang perlu menjaga ketersediaan kas namun tetap membutuhkan aset bernilai besar, seperti mesin untuk sektor konstruksi, manufaktur, maupun transportasi. Selain itu, perusahaan rintisan yang belum memiliki banyak agunan juga dapat memanfaatkan mekanisme ini untuk memperoleh aset yang dibutuhkan.
Dari sisi keuangan, penggunaan hire purchase berpotensi meningkatkan return on capital employed (ROCE) dan return on assets (ROA) karena perusahaan tidak perlu menambah utang dalam jumlah besar untuk membeli aset secara langsung.
Meski demikian, biaya keseluruhan dalam skema sewa beli umumnya lebih tinggi dibandingkan pembelian tunai karena adanya komponen bunga. Pengguna juga berisiko membeli barang yang nilainya melebihi kemampuan keuangan mereka serta menghadapi beban administrasi yang lebih kompleks.
Selain itu, pembeli dapat dikenakan tingkat bunga yang tinggi. Dalam kondisi tertentu, barang yang dibeli juga dapat dikembalikan sehingga perjanjian berakhir, selama kewajiban pembayaran minimum telah dipenuhi. Namun, pembeli tetap berpotensi mengalami kerugian karena dana yang telah dibayarkan sebelumnya tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.