Usulan Downgrade Status dari MSCI Disebut Tak Terkait Akuisisi BYAN

Gede Sandra menilai rencana penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI tidak berkaitan langsung dengan akuisisi saham BYAN.
Transparansi transaksi BYAN dan kebijakan MSCI menjadi dua hal yang dinilai perlu dipisahkan.
Gede menyoroti hubungan Indonesia dengan pasar global serta dugaan kepentingan pasar AS terhadap ekonomi RI.
Jakarta, IDN Times - Peneliti sekaligus Direktur Eksekutif InFast Bestari, Gede Sandra menilai rencana MSCI Inc menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia tidak bisa langsung dikaitkan dengan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
MSCI mengusulkan pasar saham Indonesia turun dari emerging market menjadi standalone market. Menurut Gede, hal tersebut tidak bisa disimpulkan karena akuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam itu.
Gede menilai akuisisi tersebut merupakan transaksi bisnis, sedangkan rencana perubahan klasifikasi MSCI merupakan kebijakan penyedia indeks global. Dia juga menilai MSCI memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan klasifikasi suatu pasar saham.
"Tidak ada kaitannya MSCI dengan Haji Isam yang membeli saham BYAN. Itu kan murni bisnis, satunya lagi soal kebijakan internalnya (MSCI) yang punya tujuan tertentu," kata Gede pada Selasa (20/10/2026).
1. Transparansi transaksi saham BYAN

ilustrasi PT Bayan Resources Tbk (BYAN) (bayan.com.sg) Gede mempertanyakan penilaian sejumlah pihak yang menganggap proses akuisisi 30,25 persen saham BYAN tidak transparan. Dia menilai pihak bank dapat memberikan penjelasan lebih terperinci kepada pelaku pasar mengenai transaksi senilai Rp26,1 triliun tersebut.
Di sisi lain, Gede menilai rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia perlu dilihat dari kepentingan yang melatarbelakangi kebijakan penyedia indeks global tersebut.
"Zaman sekarang mana bisa tidak transparan. Tapi memang pihak bank bisa memberikan penjelasan lebih detail kepada market," ujar dia.
2. Gede singgung harapan perbaikan hubungan RI dengan pasar global

MSCI (msci.com) Gede juga menyoroti pertemuan Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dengan petinggi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam rangkaian IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026 di Bangkok, Thailand, pada 12-18 Oktober 2026.
Menurut dia, penunjukan Suahasil, yang dinilainya memiliki arah kebijakan serupa dengan mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati, diharapkan dapat memperbaiki hubungan Indonesia dengan pasar global, termasuk MSCI.
“ kemarin terpilih Menkeu Suahasil yang sealiran dengan Sri Mulyani, diharapkan bisa memperbaiki hubungan dengan pasar dunia, termasuk MSCI. Ternyata tidak demikian adanya," tuturnya.
3. Singgung kepentingan pasar AS terhadap ekonomi RI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada penutupan perdagangan Rabu, (24/6/2026) usai pengumuman terbaru MSCI Inc. (IDN Times/Vadhia Lidyana) Gede menduga pasar Amerika Serikat (AS) ingin memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dia mengaitkan dugaan tersebut dengan perkembangan terkait MSCI yang dinilainya dapat memengaruhi posisi pasar saham Indonesia di mata investor global.
Meski demikian, dugaan mengenai motif pasar AS tersebut merupakan pandangan Gede. Sementara itu, MSCI menyatakan evaluasi klasifikasi pasar Indonesia berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan di pasar modal.
"Dengan segala kejutannya MSCI ini, saya melihat pasar di AS ingin menghukum paradigma baru ekonomi pemerintahan Prabowo," kata dia.


















