Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Usulan Downgrade Status dari MSCI Disebut Tak Terkait Akuisisi BYAN
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) (bayan.com.sg)
  • Gede Sandra menilai rencana penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI tidak berkaitan langsung dengan akuisisi saham BYAN.

  • Transparansi transaksi BYAN dan kebijakan MSCI menjadi dua hal yang dinilai perlu dipisahkan.

  • Gede menyoroti hubungan Indonesia dengan pasar global serta dugaan kepentingan pasar AS terhadap ekonomi RI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
12-18 Oktober 2026

Pertemuan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dengan petinggi IMF dan Bank Dunia berlangsung dalam rangkaian IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026 di Bangkok, Thailand.

Selasa (20/10/2026)

Gede Sandra menyatakan rencana perubahan klasifikasi MSCI tidak berkaitan dengan akuisisi saham BYAN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    MSCI mengusulkan klasifikasi pasar saham Indonesia turun dari emerging market menjadi standalone market.
  • Who?
    MSCI, Gede Sandra, Haji Isam, PT Bayan Resources Tbk, serta pihak bank yang menangani transaksi saham BYAN.
  • Where?
    Pasar saham Indonesia; pertemuan IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026 berlangsung di Bangkok, Thailand.
  • When?
    Gede menyampaikan penilaiannya pada Selasa (20/10/2026). Pertemuan IMF-World Bank Group berlangsung pada 12-18 Oktober 2026.
  • Why?
    MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dalam evaluasi klasifikasi pasar Indonesia.
  • How?
    MSCI mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi, sementara Gede memisahkan kebijakan MSCI dari transaksi akuisisi saham BYAN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gede Sandra bilang rencana MSCI mengubah kelas pasar saham Indonesia bukan karena Haji Isam membeli saham BYAN. Menurutnya, pembelian saham adalah urusan bisnis, sedangkan MSCI punya kebijakan sendiri. Gede juga meminta penjelasan lebih rinci soal transaksi BYAN dan membahas hubungan Indonesia dengan pasar global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemisahan antara transaksi bisnis dan kebijakan MSCI dapat membantu pelaku pasar melihat dua persoalan secara lebih jelas. Sorotan terhadap transparansi transaksi BYAN juga membuka ruang bagi pihak bank untuk memberikan penjelasan lebih terperinci. Selain itu, pembahasan hubungan Indonesia dengan pasar global menunjukkan adanya perhatian terhadap posisi pasar saham Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Peneliti sekaligus Direktur Eksekutif InFast Bestari, Gede Sandra menilai rencana MSCI Inc menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia tidak bisa langsung dikaitkan dengan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

MSCI mengusulkan pasar saham Indonesia turun dari emerging market menjadi standalone market. Menurut Gede, hal tersebut tidak bisa disimpulkan karena akuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam itu.

Gede menilai akuisisi tersebut merupakan transaksi bisnis, sedangkan rencana perubahan klasifikasi MSCI merupakan kebijakan penyedia indeks global. Dia juga menilai MSCI memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan klasifikasi suatu pasar saham.

"Tidak ada kaitannya MSCI dengan Haji Isam yang membeli saham BYAN. Itu kan murni bisnis, satunya lagi soal kebijakan internalnya (MSCI) yang punya tujuan tertentu," kata Gede pada Selasa (20/10/2026).

1. Transparansi transaksi saham BYAN

ilustrasi PT Bayan Resources Tbk (BYAN) (bayan.com.sg)

Gede mempertanyakan penilaian sejumlah pihak yang menganggap proses akuisisi 30,25 persen saham BYAN tidak transparan. Dia menilai pihak bank dapat memberikan penjelasan lebih terperinci kepada pelaku pasar mengenai transaksi senilai Rp26,1 triliun tersebut.

Di sisi lain, Gede menilai rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia perlu dilihat dari kepentingan yang melatarbelakangi kebijakan penyedia indeks global tersebut.

"Zaman sekarang mana bisa tidak transparan. Tapi memang pihak bank bisa memberikan penjelasan lebih detail kepada market," ujar dia.

2. Gede singgung harapan perbaikan hubungan RI dengan pasar global

MSCI (msci.com)

Gede juga menyoroti pertemuan Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dengan petinggi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam rangkaian IMF-World Bank Group Annual Meetings 2026 di Bangkok, Thailand, pada 12-18 Oktober 2026.

Menurut dia, penunjukan Suahasil, yang dinilainya memiliki arah kebijakan serupa dengan mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati, diharapkan dapat memperbaiki hubungan Indonesia dengan pasar global, termasuk MSCI.

“ kemarin terpilih Menkeu Suahasil yang sealiran dengan Sri Mulyani, diharapkan bisa memperbaiki hubungan dengan pasar dunia, termasuk MSCI. Ternyata tidak demikian adanya," tuturnya.

3. Singgung kepentingan pasar AS terhadap ekonomi RI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada penutupan perdagangan Rabu, (24/6/2026) usai pengumuman terbaru MSCI Inc. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Gede menduga pasar Amerika Serikat (AS) ingin memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dia mengaitkan dugaan tersebut dengan perkembangan terkait MSCI yang dinilainya dapat memengaruhi posisi pasar saham Indonesia di mata investor global.

Meski demikian, dugaan mengenai motif pasar AS tersebut merupakan pandangan Gede. Sementara itu, MSCI menyatakan evaluasi klasifikasi pasar Indonesia berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan di pasar modal.

"Dengan segala kejutannya MSCI ini, saya melihat pasar di AS ingin menghukum paradigma baru ekonomi pemerintahan Prabowo," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article