Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Balik Upaya INA Menarik Modal Global ke Indonesia
ilustrasi semangat nasionalisme. (123rf.com/leolintang)
  • INA, sovereign wealth fund Indonesia yang didirikan pada 2020, mengelola investasi secara profesional dengan menggandeng mitra global untuk mengoptimalkan nilai investasi jangka panjang sekaligus mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia.

  • Sektor-sektor prioritas INA mencakup Transportasi & Logistik, Digital & AI, Energi Hijau, Kesehatan dan Advanced Materials.

  • Dalam lima tahun perjalanannya, INA telah memperoleh komitmen investasi sekitar USD25 miliar dari 40 mitra strategis di 15 negara dan mencatat Assets Under Management (AUM) sebesar Rp146,2 triliun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Indonesia Investment Authority (INA) mengelola investasi negara dan kemitraan co-investment untuk menarik modal ke sektor transportasi, digital, energi hijau, kesehatan, dan advanced materials di Indonesia.
  • Who?
    INA, Pemerintah Republik Indonesia, serta 40 mitra strategis dari 15 negara, termasuk ADIA, APG, DP World, Masdar, DayOne, Mitratel, Pertamina Geothermal Energy, dan Changzhou Liyuan.
  • Where?
    Investasi berlangsung di Indonesia, termasuk jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatra, Belawan New Container Terminal, Kendal di Jawa Tengah, serta sektor telekomunikasi, pusat data, kesehatan, dan panas bumi.
  • When?
    INA dibentuk pada 2020. Hingga 2025, INA mencatat AUM Rp146,2 triliun, laba bersih Rp7,4 triliun, dan investasi kumulatif bersama mitra sekitar Rp74,5 triliun.
  • Why?
    INA menjalankan mandat memperoleh imbal hasil optimal dengan risiko terukur sekaligus mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan, penguatan konektivitas, kapasitas industri, layanan kesehatan, dan transisi energi Indonesia.
  • How?
    INA membangun tata kelola, manajemen risiko, dan kemitraan co-investment dengan investor domestik maupun global. Hingga saat ini, INA memperoleh komitmen investasi sekitar USD25 miliar dari mitra strategis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah dengar istilah sovereign wealth fund atau SWF? Secara sederhana, SWF bisa dipahami sebagai lembaga investasi milik negara. Kalau seseorang bisa menabung atau berinvestasi untuk masa depan, negara juga bisa mengelola dana dan asetnya lewat lembaga khusus. Bedanya, skala dan tujuan investasinya jauh lebih besar: kemakmuran lintas generasi.

Di beberapa negara, SWF punya latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang dibentuk untuk mengelola surplus penjualan komoditas seperti minyak dan gas. Selain itu, ada yang didirikan untuk mengelola cadangan devisa negara. Para SWF tersebut mengelola dana dengan menginvestasikannya ke berbagai aset, baik di dalam maupun di luar negeri, tergantung mandat masing-masing.

Indonesia juga tidak ketinggalan. Sejak kurang lebih lima tahun lalu, Indonesia memiliki SWF pertamanya yang bernama Indonesia Investment Authority atau INA. Dalam waktu yang relatif singkat INA bergerak cepat membangun fondasi kelembagaannya, memperluas kemitraan dengan investor global, dan terus mengembangkan portofolio investasi. Dalam lima tahun, INA menjadi institusi yang diperhitungkan dalam lanskap investasi global.

INA mengelola investasi dengan pendekatan profesional dan komersial, dan dimandatkan regulasi untuk, selain mendapatkan imbal hasil yang optimal dengan risiko terukur, juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam menjalankan mandatnya, INA membangun kemitraan dengan investor global dan domestik ke sektor-sektor yang strategis bagi Indonesia. Lantas, seperti apa perjalanan INA membangun kepercayaan investor global dan mengembangkan investasi strategis? Berikut fase-fase penting yang mewarnai perjalanannya.

1. Membangun fondasi sebagai lembaga investasi negara

Ketua Dewan Direktur/CEO Indonesia Investment Authority (INA) Oki Ramadhana (kedua dari kiri) bersama Chief Financial Officer INA Eddy Porwanto (kiri), Chief Legal Counsel INA Arisia Pusponegoro (tengah), Chief Investment Officer INA Laksono W Widodo (kedua dari kanan), dan Chief Risk Officer INA Adhiputra Tanoyo (kanan) menyampaikan laporan tahunan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (1/7/2026). (dok. INA)

INA merupakan lembaga pengelola investasi yang didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang kemudian dicabut dan digantikan oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, lalu diatur lebih teknis melalui Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi. Setelah resmi berdiri, tantangan pertama INA bukan langsung memperbanyak investasi, melainkan membangun fondasi sebagai lembaga investasi negara yang kredibel.

Fondasi ini penting karena INA harus bekerja dengan standar yang bisa diterima investor global. Bagi investor besar, modal saja tidak cukup. Mereka juga melihat tata kelola, proses pengambilan keputusan, transparansi, manajemen risiko, dan rekam jejak institusi sebelum memutuskan untuk menanamkan modal.

Sebagai modal awal, pemerintah memberikan komitmen Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp75 triliun. Angka ini bukan hanya menunjukkan dukungan pemerintah, tetapi juga menjadi sinyal bahwa INA disiapkan sebagai institusi jangka panjang. Dengan modal tersebut, INA memiliki pijakan untuk mulai menjalankan mandat investasi dan membangun kepercayaan dengan calon mitra.

Pada fase awal, INA memperkuat struktur organisasi, menyusun proses investasi, dan membangun tata kelola yang menekankan profesionalisme, transparansi, akuntabilitas, serta disiplin komersial. Langkah ini menjadi penting karena INA membawa mandat yang cukup kompleks: investasinya harus layak secara bisnis, tetapi juga tetap memberi manfaat bagi Indonesia.

Fondasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi INA untuk menjalankan model co-investment. Melalui model ini, INA berinvestasi bersama mitra strategis, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mengembangkan sektor-sektor prioritas di Indonesia.

2. Menentukan sektor prioritas agar investasi lebih terarah

ilustrasi gedung perkantoran di Jakarta. (123rf.com/ximagination)

Setelah fondasi kelembagaan mulai terbentuk, INA memasuki fase berikutnya yaitu menentukan arah investasi. Pada tahap ini, INA menetapkan sektor-sektor prioritas yang dinilai penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Fokus investasi INA mencakup transportasi dan logistik; digital dan AI; energi hijau; kesehatan; serta advanced materials. Daftar ini menjadi arah penempatan modal INA, sebelum kemudian diterjemahkan ke beberapa aset dan proyek yang konkret.

Investasi INA tak hanya dilihat dari seberapa besar nilai modal yang masuk. Yang juga penting adalah ke mana modal itu diarahkan. Investasi di jalan tol, misalnya, dapat mendukung konektivitas dan mobilitas barang dan masyarakat. Investasi pada sektor digital dapat memperkuat infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan adopsi teknologi. Investasi di layanan kesehatan dapat memperkuat kapasitas layanan kesehatan sekaligus mendukung pengembangan kapabilitas kesehatan strategis di dalam negeri. Sementara investasi di advanced materials dapat memperkuat partisipasi Indonesia dalam rantai nilai industri bernilai tambah, termasuk ekosistem baterai dan kendaraan listrik. Untuk menjalankan strategi tersebut, INA makin memperluas kemitraan dengan investor domestik dan global. Model co-investment membuat INA dapat menarik modal yang lebih besar dibandingkan jika bergerak sendiri. Selain itu, mitra investasi juga dapat membawa pengalaman, jaringan, dan keahlian operasional di sektor tertentu.

Model co-investment juga membuka ruang bagi terciptanya multiplier effect. Ketika INA menggandeng mitra investasi strategis berskala dunia, manfaat yang dibawa tidak berhenti pada tambahan modal. Mitra global juga dapat membawa teknologi, keahlian sektoral, standar operasional, tata kelola, dan jaringan internasional yang dibutuhkan untuk mengembangkan aset di Indonesia. Dengan begitu, investasi yang masuk dapat ikut memperkuat kapasitas industri dan sumber daya manusia di dalam negeri, yang dapat meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia.

Pada fase ini, posisi INA di komunitas SWF global juga mulai menguat. INA menjadi anggota penuh International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF) pada 2022, setelah sebelumnya bergabung sebagai associate member pada 2021. Keanggotaan ini mencerminkan komitmen INA untuk menerapkan Santiago Principles, yaitu prinsip dan praktik yang diterima secara global terkait tata kelola, investasi, dan manajemen risiko bagi sovereign wealth funds. Berkat tata kelola yang kuat serta eksekusi investasi yang konsisten.

Sejalan dengan berkembangnya peluang investasi di Indonesia, INA telah memperoleh komitmen investasi sekitar USD25 miliar dari 40 mitra strategis di 15 negara, termasuk sovereign wealth funds, dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer aset, korporasi strategis, dan firma private equity.

3. Portofolio INA mulai masuk ke sektor yang dekat dengan kebutuhan publik

Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) yang memperkuat konektivitas di Pulau Sumatra. (dok. INA)

Seiring waktu, portofolio INA berkembang semakin beragam. Jika pada awalnya INA banyak diasosiasikan dengan infrastruktur, kini investasinya telah meluas ke konektivitas, digital, energi hijau, kesehatan, hingga advanced materials.

Di sektor infrastruktur dan konektivitas, INA bersama ADIA dan APG memiliki portofolio di sejumlah ruas jalan tol strategis, bagian dari Trans Jawa dan Trans Sumatra. Ruas-ruas ini bukan hanya aset yang menghasilkan pendapatan, tetapi juga bagian dari jaringan konektivitas yang mendukung pergerakan orang dan barang. Bagi masyarakat, dampaknya bisa terasa lewat waktu tempuh yang lebih singkat, akses yang lebih baik, dan aktivitas ekonomi yang lebih lancar.

INA juga masuk ke sektor logistik melalui investasi di Belawan New Container Terminal (BNCT) bersama DP World. Pelabuhan memiliki peran penting dalam arus barang, terutama bagi wilayah yang menjadi pusat perdagangan. Jika kapasitas dan efisiensi pelabuhan meningkat, biaya logistik dapat ditekan dan pelaku usaha memiliki akses yang lebih baik ke pasar domestik maupun global.

Di sektor digital, INA memiliki eksposur pada infrastruktur telekomunikasi dan pusat data. Melalui investasi pada Mitratel, INA memiliki eksposur pada infrastruktur menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic. Infrastruktur ini berperan penting dalam mendukung konektivitas dan kebutuhan transmisi data yang terus berkembang.

INA juga memperkuat portofolio digital melalui kemitraan strategis dengan DayOne di sektor pusat data. Kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data terus meningkat seiring pertumbuhan layanan digital, cloud computing, kecerdasan buatan, dan ekonomi berbasis data. Dalam konteks ini, investasi pada pusat data mendukung pengembangan kapasitas infrastruktur yang dibutuhkan untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan komputasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital regional.

Di sektor energi hijau dan transisi energi, INA memiliki portofolio pada panas bumi melalui investasi di Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama Masdar. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar, sehingga investasi di sektor ini dapat mendukung pasokan energi bersih sekaligus berkontribusi terhadap agenda penurunan emisi. Bagi INA, investasi ini juga menawarkan eksposur pada sumber energi terbarukan yang dapat menyediakan pasokan listrik secara stabil dalam jangka panjang.

Di sektor kesehatan, INA berinvestasi pada jaringan rumah sakit, layanan farmasi ritel, dan fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia. Investasi di sektor ini dapat mendukung penguatan kapasitas dan akses layanan kesehatan, sekaligus pengembangan kapabilitas domestik untuk memenuhi kebutuhan produk kesehatan strategis.

Salah satu investasi penting di sektor ini adalah pembangunan fasilitas fraksionasi plasma melalui PT SKPlasma Core Indonesia (SKPI). Fasilitas ini dirancang untuk mengolah plasma donor menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP), seperti albumin dan imunoglobulin. Kehadirannya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk derivat plasma impor sekaligus memperkuat kapasitas industri biofarmasi nasional.

Sementara itu, di sektor advanced materials, INA berinvestasi bersama Changzhou Liyuan dalam pengembangan fasilitas produksi material katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) di Kendal, Jawa Tengah. Proyek ini merupakan bagian dari rantai nilai baterai global, seiring meningkatnya kebutuhan LFP untuk baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Bagi Indonesia, investasi ini dapat memperkuat kapasitas pada tahapan produksi material baterai bernilai tambah dan mendukung pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik di dalam negeri.

4. Dampak investasi mulai terlihat dari konektivitas, logistik, hingga kesehatan

INA memperkuat portofolionya di sektor kesehatan melalui investasi pada fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia. (dok. INA)

Dampak investasi INA mulai terlihat tidak hanya dari nilai modal yang disalurkan, tetapi juga dari manfaat ekonomi dan sosial yang dihasilkan. Ini penting karena INA membawa mandat untuk menciptakan nilai finansial sekaligus memberi kontribusi bagi pembangunan Indonesia.

Di sektor jalan tol, misalnya, investasi pada ruas Bakauheni-Terbanggi Besar membantu memperkuat konektivitas di Sumatra. Waktu tempuh yang lebih singkat dapat membuat mobilitas masyarakat lebih mudah. Bagi pelaku usaha, konektivitas yang lebih baik dapat membantu distribusi barang dan membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Kajian independen LPEM FEB UI pada 2025 terhadap Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar (BTB) dan Belawan New Container Terminal (BNCT) menunjukkan adanya manfaat ekonomi yang signifikan. Pada ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, proyek ini diproyeksikan mendukung penciptaan lapangan kerja, menghasilkan penghematan biaya perjalanan, dan memberi manfaat lingkungan melalui efisiensi mobilitas.

Angka-angka seperti penghematan biaya atau penciptaan lapangan kerja menjadi penting karena menunjukkan bahwa infrastruktur tidak hanya dinilai dari panjang jalan atau besar investasinya. Yang lebih relevan bagi publik adalah manfaat setelah aset itu beroperasi: perjalanan lebih cepat, akses lebih terbuka, biaya lebih efisien, dan aktivitas ekonomi bergerak lebih luas.

Di BNCT, peningkatan kapasitas dan efisiensi pelabuhan diperkirakan dapat mengurangi biaya logistik dan memperkuat akses pelaku usaha domestik ke jaringan perdagangan global. Dampak ini penting karena biaya logistik yang tinggi sering menjadi salah satu tantangan bagi daya saing Indonesia. Pelabuhan yang lebih efisien dapat membantu barang bergerak lebih cepat dan biaya menjadi lebih terkendali.

Dari sisi lingkungan, efisiensi perjalanan dan operasional juga dapat berkontribusi pada pengurangan emisi. Artinya, manfaat investasi tidak hanya dihitung dari sisi ekonomi, tetapi juga dari dampaknya terhadap keberlanjutan.

Di sektor kesehatan, dampak investasi diarahkan pada penguatan kapasitas domestik. Proyek fraksionasi plasma darah, misalnya, dapat membantu Indonesia mengolah plasma darah di dalam negeri menjadi produk medis bernilai tinggi. Selama ini, seluruh kebutuhan produk derivatif plasma masih bergantung pada impor. Dengan adanya fasilitas domestik, Indonesia memiliki peluang memperkuat ketahanan pasokan dan mengurangi ketergantungan dari luar negeri.

5. INA memasuki fase yang lebih matang

ilustrasi data center. (123rf.com/creativestocks)

Setelah lima tahun berjalan, INA mulai memasuki fase yang lebih matang. Fokusnya tidak lagi hanya membangun fondasi dan memperluas portofolio, tetapi juga memperkuat manajemen risiko, tata kelola, alokasi aset, serta integrasi prinsip sustainability dalam proses investasi.

Perkembangan INA juga tercermin dari sejumlah indikator finansial. Pada 2025, INA membukukan Assets Under Management (AUM) sebesar Rp146,2 triliun dan laba bersih Rp7,4 triliun. AUM mencerminkan skala aset yang dikelola INA, sementara laba bersih memberikan gambaran mengenai kinerja finansial institusi.

Namun, makna angka tersebut tidak berhenti pada laporan keuangan. Pertumbuhan AUM mencerminkan perkembangan skala aset yang dikelola INA seiring dengan bertambahnya aktivitas investasinya. Kinerja finansial juga menjadi bagian penting dalam menjalankan mandat INA untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia dengan tetap menjaga disiplin komersial.

Sejak berdiri, INA bersama para mitra investasi telah menyalurkan investasi kumulatif sekitar Rp74,5 triliun. Angka ini mencerminkan peran INA sebagai pengungkit modal. Dengan menggandeng mitra, setiap rupiah yang ditanamkan INA dapat menarik modal tambahan ke sektor-sektor strategis di Indonesia.

Dari sisi lain, skor INA dalam Global SWF Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 mencapai 92 persen. Skor ini menempatkan INA sebagai SWF dengan skor tertinggi kedua di Asia dalam penilaian tersebut. Bagi investor global, capaian seperti ini penting karena kepercayaan tidak hanya dibangun dari potensi pasar, tetapi juga dari kualitas governance, transparansi, keberlanjutan, dan ketahanan institusi.

Sementara itu, dari sisi peringkat kredit, INA mempertahankan peringkat investment grade dari Fitch Ratings pada level BBB untuk skala internasional dan AAA(idn) untuk skala nasional. Peringkat tersebut memberikan penilaian eksternal terhadap profil kredit INA, dengan AAA(idn) merupakan peringkat tertinggi dalam skala nasional Fitch di Indonesia.

Memasuki fase berikutnya, seiring dengan semakin berkembang dan matangnya portofolio, INA akan memberikan perhatian yang lebih besar pada pengelolaan portofolio dan penciptaan nilai, di samping tetap mencari dan mengeksekusi investasi baru. Pendekatan ini mencerminkan pengelolaan investasi secara aktif sepanjang siklus investasi, sejak investasi dilakukan hingga proses realisasi nilai. Lima tahun pertama memperlihatkan bagaimana INA berkembang dari lembaga yang baru dibentuk menjadi institusi investasi dengan portofolio yang semakin luas dan jejaring mitra global yang semakin kuat. Namun, tantangan ke depan juga tidak kecil. INA perlu terus menjaga disiplin komersial, memperkuat tata kelola, dan memastikan setiap investasi tetap memberi dampak nyata bagi Indonesia.

Pada akhirnya, perjalanan INA tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang dapat dimobilisasi bersama para mitra, tetapi juga oleh ke mana modal tersebut diarahkan dan nilai yang diciptakan melalui investasi. Di tengah kompetisi global untuk menarik investasi jangka panjang, kepercayaan menjadi modal yang sama pentingnya dengan dana. Bagi INA, kepercayaan tersebut perlu terus dibangun melalui kinerja, tata kelola, serta kemampuan menciptakan nilai jangka panjang bagi mitra investasi dan Indonesia. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article