Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (BTB) yang memperkuat konektivitas di Pulau Sumatra. (dok. INA)
Seiring waktu, portofolio INA berkembang semakin beragam. Jika pada awalnya INA banyak diasosiasikan dengan infrastruktur, kini investasinya telah meluas ke konektivitas, digital, energi hijau, kesehatan, hingga advanced materials.
Di sektor infrastruktur dan konektivitas, INA bersama ADIA dan APG memiliki portofolio di sejumlah ruas jalan tol strategis, bagian dari Trans Jawa dan Trans Sumatra. Ruas-ruas ini bukan hanya aset yang menghasilkan pendapatan, tetapi juga bagian dari jaringan konektivitas yang mendukung pergerakan orang dan barang. Bagi masyarakat, dampaknya bisa terasa lewat waktu tempuh yang lebih singkat, akses yang lebih baik, dan aktivitas ekonomi yang lebih lancar.
INA juga masuk ke sektor logistik melalui investasi di Belawan New Container Terminal (BNCT) bersama DP World. Pelabuhan memiliki peran penting dalam arus barang, terutama bagi wilayah yang menjadi pusat perdagangan. Jika kapasitas dan efisiensi pelabuhan meningkat, biaya logistik dapat ditekan dan pelaku usaha memiliki akses yang lebih baik ke pasar domestik maupun global.
Di sektor digital, INA memiliki eksposur pada infrastruktur telekomunikasi dan pusat data. Melalui investasi pada Mitratel, INA memiliki eksposur pada infrastruktur menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic. Infrastruktur ini berperan penting dalam mendukung konektivitas dan kebutuhan transmisi data yang terus berkembang.
INA juga memperkuat portofolio digital melalui kemitraan strategis dengan DayOne di sektor pusat data. Kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data terus meningkat seiring pertumbuhan layanan digital, cloud computing, kecerdasan buatan, dan ekonomi berbasis data. Dalam konteks ini, investasi pada pusat data mendukung pengembangan kapasitas infrastruktur yang dibutuhkan untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan komputasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital regional.
Di sektor energi hijau dan transisi energi, INA memiliki portofolio pada panas bumi melalui investasi di Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama Masdar. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar, sehingga investasi di sektor ini dapat mendukung pasokan energi bersih sekaligus berkontribusi terhadap agenda penurunan emisi. Bagi INA, investasi ini juga menawarkan eksposur pada sumber energi terbarukan yang dapat menyediakan pasokan listrik secara stabil dalam jangka panjang.
Di sektor kesehatan, INA berinvestasi pada jaringan rumah sakit, layanan farmasi ritel, dan fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia. Investasi di sektor ini dapat mendukung penguatan kapasitas dan akses layanan kesehatan, sekaligus pengembangan kapabilitas domestik untuk memenuhi kebutuhan produk kesehatan strategis.
Salah satu investasi penting di sektor ini adalah pembangunan fasilitas fraksionasi plasma melalui PT SKPlasma Core Indonesia (SKPI). Fasilitas ini dirancang untuk mengolah plasma donor menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP), seperti albumin dan imunoglobulin. Kehadirannya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk derivat plasma impor sekaligus memperkuat kapasitas industri biofarmasi nasional.
Sementara itu, di sektor advanced materials, INA berinvestasi bersama Changzhou Liyuan dalam pengembangan fasilitas produksi material katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) di Kendal, Jawa Tengah. Proyek ini merupakan bagian dari rantai nilai baterai global, seiring meningkatnya kebutuhan LFP untuk baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Bagi Indonesia, investasi ini dapat memperkuat kapasitas pada tahapan produksi material baterai bernilai tambah dan mendukung pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik di dalam negeri.