INA Raih Skor 92 Persen di GSR Scoreboard 2026

- Indonesia Investment Authority (INA) meraih skor 92 persen pada GSR Scoreboard 2026 Global SWF, yang menilai tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan 200 investor negara terbesar.
- Skor INA naik dari 68 persen pada 2025 menjadi 92 persen, menempatkannya sebagai sovereign wealth fund dengan nilai tertinggi kedua di Asia.
- Peningkatan skor didukung pengungkapan informasi dan pelaporan, sementara INA menekankan penerapan kebijakan secara konsisten serta pembaruan tata kelola mengikuti standar global.
Jakarta, IDN Times - Indonesia Investment Authority (INA) memperoleh skor 92 persen dalam Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 yang diterbitkan Global SWF. Penilaian tahunan itu mengukur tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan 200 sovereign wealth fund (SWF) dan public pension fund (PPF) terbesar di dunia berdasarkan informasi yang dipublikasikan.
Ketua Dewan Direktur INA Oki Ramadhana mengatakan hasil penilaian tersebut menjadi pemacu bagi INA untuk terus meningkatkan kualitas lembaga.
"Pada saat yang sama, kami menyadari bahwa membangun institusi yang dipercaya merupakan sebuah perjalanan yang berkelanjutan, bukan tujuan akhir," kata dia dalam media briefing di Kantor INA, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
1. GSR Scoreboard memakai 25 indikator penilaian

Global SWF memperkenalkan GSR Scoreboard pada 2020 untuk menilai transparansi, akuntabilitas, investasi yang bertanggung jawab, serta ketahanan kelembagaan investor negara. Penilaian menggunakan 25 indikator dengan bobot yang sama pada aspek governance, sustainability, dan resilience.
Pada penilaian 2026, Global SWF memperbarui tiga indikator, yakni perbandingan imbal hasil tahunan dengan benchmark pada aspek governance, metrik ESG dan intensitas karbon pada aspek sustainability, serta investasi atau penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada aspek resilience.
Dengan metodologi terbaru tersebut, rata-rata skor GSR global menjadi 60 persen berdasarkan pendekatan like-for-like. Global SWF juga mencatat investor negara di seluruh dunia mengelola aset sekitar 62,5 triliun dolar AS. Di Asia terdapat 49 investor negara yang masuk penilaian dengan rata-rata skor 51 persen, naik dari 36 persen pada 2020.
2. Skor INA naik menjadi 92 persen

Skor GSR INA meningkat dari 68 persen pada 2025 menjadi 92 persen pada 2026. Sejak berdiri, skor INA tercatat 24 persen pada 2021, naik menjadi 52 persen pada 2022, 56 persen pada 2023, 60 persen pada 2024, dan 68 persen pada 2025.
Nilai tersebut menempatkan INA sebagai sovereign wealth fund dengan skor tertinggi kedua di Asia. Kenaikan skor itu juga diikuti perbaikan dalam pengungkapan informasi dan pelaporan lembaga, termasuk melalui Laporan Tahunan 2025 serta pembenahan pada sejumlah aspek yang sebelumnya menjadi perhatian dalam penilaian GSR.
3. Tata kelola perlu terus diperbarui

Chief Legal Counsel INA Arisia Pusponegoro mengatakan tata kelola tidak cukup hanya memiliki kebijakan. Menurut dia, yang lebih penting adalah penerapan kebijakan tersebut secara konsisten dalam pengambilan keputusan, pengawasan risiko, transparansi, dan akuntabilitas.
Dia mengatakan standar tata kelola global terus berubah sehingga kerangka kelembagaan perlu terus diperbarui agar tetap relevan, efektif, dan sesuai dengan standar internasional yang berlaku di industri.
"Seiring dengan terus berkembangnya standar tata kelola global, kerangka institusi tidak bersifat statis dan memerlukan penyempurnaan secara berkelanjutan agar tetap relevan, efektif, serta selaras dengan standar internasional yang diakui dan praktik terbaik di industri," kata dia.


















