Nilai tukar mata uang sering dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan daya saing ekspor suatu negara. Ketika mata uang melemah, harga produk di mata pembeli luar negeri bisa menjadi lebih murah sehingga berpotensi menarik lebih banyak permintaan.
Namun, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong punya pandangan berbeda mengenai strategi tersebut. Dalam sebuah konferensi bisnis di Singapura pada 12 Oktober 2026, Wong menegaskan bahwa negaranya gak perlu sengaja melemahkan dolar Singapura hanya untuk bersaing dengan negara lain. Menurutnya, kekuatan ekonomi Singapura seharusnya bertumpu pada kualitas, kemampuan industri, stabilitas, dan nilai tambah yang ditawarkan kepada pelaku bisnis.
Sikap tersebut menarik untuk diperhatikan karena Singapura dikenal sebagai pusat perdagangan dan bisnis internasional di Asia Tenggara. Di satu sisi, mata uang yang kuat membantu menjaga harga barang impor tetap terkendali, tapi di sisi lain bisa menambah beban perusahaan yang menjual produk ke pasar luar negeri.
Lantas, apa alasan Wong menolak pelemahan dolar Singapura dan bagaimana strategi tersebut memengaruhi daya saing ekspor negaranya? Berikut lima hal yang perlu kamu pahami.
