Comscore Tracker

Biasa Urusi Event Sekelas DWP, Begini Perjuangan EO Ini saat Pandemik

Ternyata pandemik juga ciptakan peluang yang tidak terduga

Jakarta, IDN Times – Dunia event organizer (EO) juga tak luput dari dampak negatif pandemik COVID-19. Salah satu dampak tersebut adalah berkurangnya jumlah acara atau event yang dikerjakan perusahaannya.

TMP Event merasakan betul dampak itu. EO yang terkenal mengerjakan berbagai event sukses seperti Djakarta Warehouse Project (DWP). Program Director TMP Event, Oktoberi Surbakti, menceritakan bagaimana pukulan telak mereka rasakan di tengah pandemik.

“Drastis banget, hampir 80 persenlah penurunan kita secara jumlah event ataupun omzet event-nya itu sendiri,” ujar Oktoberi dalam wawancara khusus dengan IDN Times, Sabtu (1/5/2021).

Lalu, bagaimanakah cara TMP Event bertahan di tengah pandemik dan bagaimana kisah Oktoberi hingga menggeluti karir di dunia EO? Berikut kisahnya.

Baca Juga: Peluang Bisnis Aplikasi Film-Musik Makin Menjanjikan di Indonesia 

1. Tertarik pada dunia EO sejak SMA

Biasa Urusi Event Sekelas DWP, Begini Perjuangan EO Ini saat PandemikProgram Director TMP Event, Oktoberi Surbakti

Dalam wawancara dengan IDN Times, pria kelahiran Pontianak tahun 1988 ini mengaku telah tertarik pada event sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) karena pernah terlibat langsung menjadi panitia dalam acara pentas seni yang diadakan sekolahnya.

Namun demikian, ia mengaku tidak langsung menggeluti bidang itu begitu lulus kuliah dari jurusan broadcast TV di Surabaya. Ia justru memulai karir di sebuah stasiun radio di Surabaya, di mana ia banyak belajar tentang cara berkolaborasi dengan pihak sponsor dan tim kreatif untuk menggelar acara offline.

“Di radio itu pun waktu itu kan aku jadi radio coordinator, jadi asisten program director plus announcer juga. Nah disitu kita juga kan handling untuk beberapa event off-air nya yang di-support sama si sponsor-sponsor yang join di radionya kita,” jelasnya.

“Nah, di situ sudah muncul lagi tuh bikin event, create event sampai akhirnya singkat cerita ke Jakarta terus masuk ke dunia label itu juga ngurusin label recording sama artis manajemen juga, dan berhubungan sama event juga, terus dari situ barulah meng-create event karena aku merasa bahwa, wah event ini nih kayaknya peluang bisnis yang bagus,” tambahnya.

2. Mendirikan EO dan mengerjakan proyek besar

Biasa Urusi Event Sekelas DWP, Begini Perjuangan EO Ini saat PandemikTMP Event (SC: Program Director TMP Event, Oktoberi Surbakti)

Pada awalnya, ia mendirikan sebuah EO di Kota Batam, namun kemudian berpindah kerja di beberapa EO hingga akhirnya mendirikan TMP Event pada 2019 bersama dengan beberapa rekannya.

“Ini udah jalan 2 tahun,” katanya, menjelaskan tentang perusahaan EO-nya.

Namun, meski tergolong baru, EO tersebut telah menangani banyak proyek, mulai dari yang kecil hingga yang sangat besar, seperti event DWP.  Menurut Oktoberi, saat menjalankan proyek DWP, yang dimiliki Ismaya Live, salah satu event creators terbesar di Indonesia, EO-nya menangani sejumlah pekerjaan, seperti membuat konsep acara, mendesain panggung, hingga menerapkan tema dekorasinya.

“Yang kita bikin itu tuh, satu, dari concept developmentnya, habis itu creating kreatifnya. Kreatifnya mau kayak gimana nih, desainnya mau kayak gimana, terus konsepnya mau kayak gimana, habis itu sampai planning dan eksekusinya," tutur Oktoberi.

"Sampai nge-create produksinya gitulah, set panggungnya itu mau didesain nya bagaimana tahun ini, set up dekorasinya itu mau kayak gimana yang unik dan itu bisa benar-benar relate sama kebutuhannya target audiensnya kita,” sambungnya.

3. Terdampak pandemik

Biasa Urusi Event Sekelas DWP, Begini Perjuangan EO Ini saat PandemikTMP Event (SC: Program Director TMP Event, Oktoberi Surbakti)

Oktoberi lebih lanjut mengatakan bahwa pandemik juga telah mengubah banyak hal dalam pekerjaan terkait EO. Mulai dari mengurangi jumlah pekerja yang terlibat dalam mengadakan suatu event, hingga menyebabkan penurunan pendapatan perusahaan.

Menurut Oktoberi, biasanya di saat menggelar suatu event di saat kondisi normal, ada sebanyak 300 sampai 400 orang yang terlibat. Namun akibat pandemik, yang telah memaksa orang-orang untuk menjaga jarak, kini hanya sekitar 50 orang yang terlibat dalam menggelar suatu event.

“Lumayan turun drastis karena kan keterbatasan, kita nggak boleh terlalu banyak kumpul orang kan, jaga jarak, aturan yang berlaku pada saat COVID itu kita terapkan. Akhirnya mau nggak mau mengurangi lah,” jelasnya.

Dalam hal pendapatan dan pengeluaran, pandemik juga telah banyak mempengaruhi. Menurutnya, pada tahun lalu, terjadi hampir 80 persen penurunan dalam jumlah event maupun omzet yang didapat perusahaannya.

“Nah tahun ini sebenarnya merangkak lebih baik secara grafisnya pelan-pelan itu mulai naik. Tapi belum normal. Jauh dari kata normal. Karena klien-klien kita, sponsor itu mulai bisa meng-adapt secara virtual gitu, tapi masih 50 persenlah sebenarnya dari kondisi normal,” jelasnya.

“Kalau tahun pertama, tahun kemarin itu dropnya sampai 80 persen. Nah, sekarang itu 50 persen sampai 60 persen. Ini kita ngobrolin semua event yang di-handling sama TMP,” lanjutnya.

4. Menemukan peluang dan pelajaran di tengah pandemik

Biasa Urusi Event Sekelas DWP, Begini Perjuangan EO Ini saat PandemikTMP Event (SC: Program Director TMP Event, Oktoberi Surbakti)

Namun, selain menghadapi semua dampak negatif tersebut, ia juga menyebut bahwa perusahaan menemukan inovasi dari pandemik ini. Salah satunya yaitu membuat lebih melek teknologi.

Menurutnya, saat ini perusahaan sudah semakin mengenal teknologi baru seperti augmented reality dan juga virtual reality, yang mana sangat membantu dalam memaksimalkan event yang diadakan online maupun campuran online dan offline (hybrid).

“Inovasi lebih ke visualisasi event-nya berubah. Dulu kita tangkap pakai mata kita sendiri langsung di tempat, sekarang kita rubah jadi augmented reality dan virtual reality,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa pandemik telah membuat timnya belajar lebih banyak hal terkait teknologi dan juga cara beradaptasi dengan perubahan yang tak terduga dalam bisnis.

“Di internalnya kita sendiri karena kita merubah mindset itu, jadi mindsetnya itu kita paksa timnya kita itu untuk mengadopsi teknologi-teknologi yang baru, sama mengadopsi tentang dunia digital sekarang. Dulu kan event itu kan konvensional ya, sekarang tuh benar-benar timnya kita itu kita pacu untuk mereka belajar lewat pelatihan-pelatihan yang kita kasih, lewat eksperimen-eksperimen yang kita kasih ke dunia teknologi, terus digital, sama desain yang terbaru. Itu yang kita create jadi satu,” ujarnya.

Baca Juga: Meraup Cuan dari Bisnis Kue Kering Musiman

5. Tantangan dan rencana bisnis ke depan

Biasa Urusi Event Sekelas DWP, Begini Perjuangan EO Ini saat PandemikTMP Event (SC: Program Director TMP Event, Oktoberi Surbakti)

Ketika ditanya tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan di tengah pandemik, Oktoberi mengatakan bahwa salah satu yang terbesar yaitu berupa kurangnya keselarasan antara regulasi yang dibentuk pemerintah pusat dan daerah.

Sebagai contoh, katanya, di saat Kementerian Pariwisata memberikan izin untuk mengadakan konser di suatu daerah, justru pihak berwenang maupun pejabat daerah mempersulit perizinan sehingga membuat kelancaran proyek yang sedang dikerjakan EO-nya terkendala.

“Nah ini yang kadang menurut kita itu tuh belum sinkron antara pemerintah daerah, terus pihak kepolisian, sama pemerintah pusat nih. Itu yang jadi kendala buat temen-temen EO tuh yang kayak maju salah, mundur salah,” katanya.

“Karena kan kita terlalu banyak regulasi, ya. Kita mau ngikutin yang Kementerian Pariwisata, sebenarnya regulasinya cukup jelas, tapi kita mau coba adopt, tapi kan setiap daerah itu punya regulasi-regulasi sendiri, beda-beda gitu,” tambahnya.

Tantangan besar lain yang menghalangi EO-EO di indonesia, utamanya saat menggelar event online atau hybrid, menurutnya adalah ketidakmerataan akses ke internet di setiap daerah. Hal tersebut bukan hanya merugikan dari sisi bisnis, tapi juga dari sisi konsumen.

“Karena kan sinyal di Indonesia ini masih kurang kan, belum merata. Mungkin yang di Jakarta mereka bisa tangkapnya normal, tapi kan belum tentu yang di luar Jakarta ini masalah sinyal ini nih bisa mereka terima lancar. Tapi kalau secara sinyal dan pembangunan infrastruktur secara internet ini dibuat merata di Indonesia, ini cukup bisnis yang bagus untuk dunia hybrid,” jelasnya.

Saat membahas rencana bisnis kedepan, Oktoberi mengatakan apa yang telah dilakukan perusahaan saat ini, yaitu terjun ke dunia online, tentunya akan menjadi fokus perusahaan kedepannya. Ia menyebut bahwa meskipun pandemik telah berlalu dan kehidupan kembali normal, EO-nya tetap akan mengembangkan bisnis online dan hybrid yang sudah ditekuni sejak pandemik muncul.

“Dulu kan kita sebenarnya cuma offline event ya. Nah sekarang kedepannya itu kita pengen kuatin juga bisnis kita di online event karena kita sudah terlanjur belajar. Ketika nanti sudah balik ke normal pun kita nggak akan mau ninggalin online event, malah kita akan perkuat tuh secara teknologi dan digitalisasi si online event di bisnisnya kita,” ujar Oktoberi.

"Terus kedua kita mengembangin yang hybrid event, dimana kita akan kombinasikan konsep online dan yang offline-nya. Di mana penonton itu bisa datang ke event-nya, nah buat yang gak bisa datang ke event-nya bisa nonton secara online. Karena kita tahu nih online event ini nih borderless banget, tanpa batas jadi kalau kita bikin satu event festival musik yang besar di Jakarta, mereka juga bisa ngerasain dari daerah mereka masing-masing yang lain lewat online,” tambahnya.

Topic:

  • Rehia Sebayang
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya