Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saham AI Makin Bersinar, Goldman Sachs Justru Beri Peringatan Keras

5 min read
Saham AI Makin Bersinar, Goldman Sachs Justru Beri Peringatan Keras
ilustrasi teknologi AI (vecteezy.com/Daria Orehova)
  • Goldman Sachs mengingatkan hyperscaler seperti Amazon, Oracle, dan Microsoft membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk balik modal dari investasi infrastruktur AI yang sangat besar.
  • Pendapatan cloud meningkat dan backlog pesanan melampaui US$1,5 triliun, tetapi permintaan tersebut masih harus dikonversi menjadi pendapatan serta laba nyata.
  • Kenaikan saham AI mencerminkan optimisme pasar, sementara hyperscaler membutuhkan belanja aplikasi AI sekitar US$1 triliun per tahun untuk memperoleh imbal hasil investasi yang solid.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saham perusahaan teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI kembali menarik perhatian investor dalam beberapa pekan terakhir. Optimisme terhadap perkembangan AI membuat saham sejumlah perusahaan teknologi besar ikut mengalami kenaikan.

Namun di balik euforia tersebut, Goldman Sachs justru mengingatkan bahwa investasi AI membutuhkan waktu cukup panjang sebelum benar-benar menghasilkan keuntungan. Artinya, kenaikan saham AI saat ini belum tentu menggambarkan seberapa cepat investasi besar yang sudah digelontorkan perusahaan bisa balik modal. Kalau kamu sedang memperhatikan saham teknologi, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami dari peringatan tersebut.

  1. 1. Investasi AI butuh waktu untuk balik modal

    ilustrasi perusahaan Oracle
    ilustrasi perusahaan Oracle (unsplash.com/BoliviaInteligente)

    Perusahaan teknologi raksasa atau hyperscaler seperti Amazon, Oracle, dan Microsoft telah mengeluarkan investasi dalam jumlah sangat besar untuk membangun infrastruktur AI. Pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan untuk mendukung perkembangan komputasi AI dan layanan cloud. Masalahnya, investasi besar tersebut gak serta-merta menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Goldman Sachs memperkirakan perusahaan-perusahaan tersebut masih membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum investasi AI mereka bisa mencapai titik impas.

    Strategi Goldman Sachs Ryan Hammond melakukan perhitungan mengenai pendapatan yang dibutuhkan para hyperscaler agar investasi AI mereka bisa memberikan hasil yang solid. Berdasarkan perhitungannya, perusahaan seperti Amazon, Oracle, dan Microsoft perlu menghasilkan sekitar 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,9 kuadriliun pendapatan dari AI dalam beberapa tahun ke depan untuk mencapai titik impas. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya skala investasi yang sedang dipertaruhkan. Jadi, meskipun prospek AI terlihat menjanjikan, proses untuk mengubah investasi tersebut menjadi keuntungan tetap membutuhkan waktu.

  2. 2. Pendapatan cloud memang mulai meningkat

    ilustrasi teknologi cloud
    ilustrasi teknologi cloud (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

    Peringatan Goldman Sachs bukan berarti bisnis AI dan cloud gak mengalami perkembangan, lho. Justru, pendapatan cloud para hyperscaler disebut mengalami percepatan yang cukup tajam sepanjang tahun ini. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan cloud kelompok tersebut jika disetahunkan berada sekitar 70 miliar dolar AS (sekitar Rp1,15 kuadriliun) di atas tren sebelum era AI. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap layanan komputasi yang berkaitan dengan perkembangan AI.

    Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga memiliki backlog atau pesanan yang sudah diumumkan dengan nilai lebih dari 1,5 triliun dolar AS (sekitar Rp24,6 kuadriliun). Bagi kamu yang mengikuti perkembangan industri teknologi, angka tersebut menggambarkan besarnya permintaan yang sudah terlihat di depan mata. Namun, backlog tetap perlu dibedakan dari pendapatan dan keuntungan yang sudah direalisasikan. Perusahaan masih harus memenuhi pesanan tersebut dan mengubah permintaan yang ada menjadi pendapatan serta keuntungan yang cukup untuk menutup biaya investasi AI.

  3. 3. Pengguna AI perlu mengeluarkan uang lebih besar

    ilustrasi mengeluarkan uang dari dompet, dolar AS, bayar tunai, cash
    ilustrasi mengeluarkan uang dari dompet, dolar AS, bayar tunai, cash (unsplash.com/Allef Vinicius)

    Salah satu persoalan utama dalam bisnis AI terletak pada seberapa besar uang yang bersedia dikeluarkan pengguna untuk berbagai aplikasi AI. Menurut perkiraan Ryan Hammond dari Goldman Sachs, pengguna AI perlu membelanjakan sekitar 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp16,4 kuadriliun per tahun untuk aplikasi AI agar para hyperscaler bisa mendapatkan imbal hasil investasi yang solid. Pada saat yang sama, lapisan aplikasi AI juga perlu memiliki margin keuntungan yang kuat setelah membayar biaya komputasi.

    Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan penggunaan AI saja belum cukup. Kalau semakin banyak orang dan perusahaan memakai AI tapi pengeluaran mereka belum mencapai skala yang dibutuhkan, perusahaan penyedia infrastruktur tetap menghadapi tantangan untuk mendapatkan keuntungan dari investasi besar tersebut. Karena itu, kamu perlu melihat perkembangan AI dari sisi bisnis, bukan hanya dari seberapa populer teknologinya. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak orang menggunakan AI, tapi juga berapa besar nilai ekonomi yang berhasil dihasilkan dari penggunaan tersebut.

  4. 4. Kenaikan saham belum menghapus risikonya

    ilustrasi pasar saham
    ilustrasi pasar saham (freepik.com/pressfoto)

    Optimisme terhadap AI tetap terlihat jelas di pasar saham. Saham perusahaan hyperscaler kembali mendapatkan perhatian investor dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya keyakinan terhadap potensi AI. Roundhill Magnificent Seven ETF atau MAGS, yang melacak kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar yang menjadi bagian dari tren AI, tercatat naik sekitar 8 persen dalam waktu kurang dari satu bulan. Kenaikan tersebut jauh lebih besar dibandingkan kenaikan yang relatif kecil pada indeks S&P 500 dalam periode yang sama.

    Namun, kenaikan harga saham dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI merupakan dua hal berbeda. Harga saham dapat bergerak karena ekspektasi investor terhadap pertumbuhan di masa depan, sementara perusahaan tetap perlu membuktikan bahwa investasi yang sangat besar tersebut bisa menghasilkan pendapatan dan keuntungan nyata. Goldman Sachs pada dasarnya mengingatkan adanya jarak antara optimisme pasar dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jadi, kalau kamu mengikuti saham AI, penting untuk tidak hanya melihat kenaikan harga saham, tapi juga memperhatikan pertumbuhan pendapatan, kebutuhan investasi, dan kemampuan perusahaan menghasilkan pengembalian dari modal yang sudah dikeluarkan.

    Perkembangan AI memang sedang membuka peluang besar bagi perusahaan teknologi dan industri lainnya. Akan tetapi, besarnya investasi yang dibutuhkan membuat perjalanan menuju keuntungan gak bisa dianggap berlangsung dalam waktu singkat.

    Perhitungan Goldman Sachs menunjukkan bahwa para hyperscaler masih membutuhkan pendapatan AI dalam skala sangat besar agar investasi mereka bisa mencapai titik impas. Di sisi lain, meningkatnya pendapatan cloud dan besarnya backlog menunjukkan bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI memang sedang berkembang.

    Jadi, ketika kamu melihat saham AI kembali bersinar, jangan lupa bahwa di balik optimisme tersebut masih ada perjalanan panjang untuk membuktikan apakah investasi besar hari ini benar-benar bisa menghasilkan keuntungan di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More