sungguh aku tak tahu
bila kamu masih memujiku
dalam nyeri sekujur tubuh Bulan
yang pincang juga benderang
kupikir semua kenang telah menghilang
bersisa tulang belulang
sebelum membaur dengan tanah
yang mengaromakan kematian
dan rindu hanyalah abjad
dalam pekat kopi yang menjelma puisi
atau kesiur angin
yang diembuskan dari nestapa tempo dulu
tapi bulan nyatanya
masih mengigaukanmu, Sayang
sesekali, ia meracaukan tentangmu
hingga menjelang subuh
tak peduli jika tubuhnya telah basah oleh peluh
jika kau bertanya apakah aku merindu
bagiku pertanyaanmu hanyalah retorika
atau semata-mata hanyalah keraguanmu
sebab rindu itu nyata,
membabi buta
tak pernah ada jeda
tak tahu kapan usainya
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Abjad Rindu dan Pekat Kopi yang Menjelma Puisi
![[PUISI] Abjad Rindu dan Pekat Kopi yang Menjelma Puisi](https://image.idntimes.com/post/20260303/pexels-wassana-5959818_a996417a-c5e2-4064-89b1-2cb3bbe2c6f5.jpg)
ilustrasi perempuan bersedih (pexels.com/JangJ Atthaniti)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha