Bumantara riuh oleh bahana,
gaungnya mengguncang sukma;
kabut mengeram dalam atma,
meninggalkan buncah yang tiada reda.
Kebahagiaan yang pernah ada kian sirna,
larut bersama cakrawala yang kehilangan warna.
Ingin kutuang segala rona ke tengah dunia,
namun gamang mengekang hasrat yang membara.
Hingga kutengadah pada bentang angkasa,
ketika malam merunduk dalam hening yang lama.
Bintang berpendar di hamparan nirwana,
rembulan mengambang, teduh dalam senyapnya.
Saat itu kusadari dalam relung sukma:
kegelapan bukan selalu pertanda nestapa;
di balik pekat yang menyelimuti semesta,
cahaya justru menjelma lebih nyata.
![[PUISI] Amerta di Tengah Gelap](https://image.idntimes.com/post/20260920/photo-1693779665902-6df9cbf45206_2588ba69-0a13-4da0-ad49-e82fb5bc7482.jpeg)