Pagi Ini Angka-Angka Kembali Berbunga,
Mekar Di Papan Harga Dan Layar Berita,
Sementara Kami Memungut Kelopaknya Satu Per Satu,
Lalu Menyebutnya Kebutuhan.
BBM Naik Seperti Doa Yang Cepat Dikabulkan,
Menular Dari Jalan Hingga Ke Meja Makan,
Dan Pasar Begitu Patuh Pada Kabar Itu,
Lebih Patuh Daripada Pada Nasib Rakyat.
Dolar Menjulang Di Langit Perdagangan,
Rupiah Berdiri Kecil Di Bawah Bayangnya,
Sedang Pidato-Pidato Terus Dilatih Terbang,
Meski Kenyataan Masih Berjalan Tertatih.
Konon Negeri Ini Sedang Baik-Baik Saja,
Barangkali Karena Laporan Lebih Rapi Dari Kenyataan,
Sebab Yang Terdengar Adalah Tepuk Tangan,
Bukan Suara Dapur Yang Mulai Pelan.
Kami Diajari Untuk Terus Optimis,
Meski Harga-Harga Tampak Lebih Optimis Dari Kami,
Naik Tanpa Ragu Setiap Musim,
Sementara Penghasilan Belajar Berdiam Diri.
Dan Ketika Semuanya Kembali Mahal,
Selalu Ada Kalimat Yang Meminta Maklum,
Seolah Kesabaran Rakyat Adalah Tambang,
Yang Tak Akan Pernah Habis Ditambang.
![[PUISI] Catatan Kecil dari Negeri yang Kian Mahal](https://image.idntimes.com/post/20260615/pexels-ahsanjaya-8764611_1c167f87-eb66-43de-8ec3-570828800210.jpg)