Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Deadline, Kopi, dan Mimpi yang Belum Selesai
ilustrasi menulis (pexels.com/George Becker)

Malam kampus masih terjaga cahaya,
layar laptop menyala di meja sederhana.
Secangkir kopi menguap hangat di sisi,
menemani pikiran yang terus berlari,
mengejar mimpi yang belum berhenti.

Jarum jam berjalan tanpa jeda,
deadline datang seperti ombak yang tiba.
Namun di balik lelah yang terasa,
tersimpan harapan yang tetap menyala,
tentang masa depan yang sedang kita jaga.

Catatan penuh coretan dan ide,
tugas-tugas tumbuh seperti cerita baru.
Kadang mata lelah memandang layar,
namun hati tetap ingin mengejar,
mimpi yang terasa makin dekat dan besar.

Kopi kedua pun kembali diseduh,
menghangatkan malam yang hampir runtuh.
Tawa kecil muncul di sela kelelahan,
bersama teman yang berbagi perjuangan,
menguatkan langkah dalam perjalanan.

Di lorong sunyi kampus yang tenang,
pikiran melayang jauh memandang.
Setiap tugas yang selesai dituliskan,
seperti satu langkah yang ditegaskan,
menuju masa depan yang sedang dipersiapkan.

Malam perlahan berubah menjadi pagi,
lelah berganti cahaya mentari.
Deadline yang sempat terasa berat,
kini berubah menjadi cerita hangat,
tentang usaha yang tak pernah penat.

Dan ketika hari akhirnya datang,
kita tersenyum melihat jalan terbentang.
Dari kopi, tugas, dan malam yang panjang,
lahir mimpi yang semakin terang,
meski dulu terasa belum selesai diperjuangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team