Setiap lembar uang yang keluar dari dompet,
tersenyum menatapku seolah jiwa ini harapan.
Namun diri ini hanyalah penguras isi dompet,
yang saat kecil belum tahu arti balas budi.
Namun, kala besar keadaan menghantam hebat.
Serpihan harapan tercecer tak beraturan.
Satu persatu asa terkubur realita.
Bukan kurang usaha, namun kegagalan selalu menempa.
Setiap kali menatap dompet tua itu,
Ingatan ini terbang melayang,
ayah tak pernah takut lapar.
Peluh perjuangan tak pernah dikeluhkan.
Hanya wujud nyata dan lembaran uang
yang tersenyum mengajakku balas budi.
Namun impian tak tumbuh dalam sehari.
Karena dunia begitu keras pada yang menyerah.
![[PUISI] Dompet Renta Ayah](https://image.idntimes.com/post/20260515/pexels-ahsanjaya-8719575_717274a2-493c-4aaf-97b2-3ebc9a7b0d22.jpg)