Kita adalah melodi yang terlalu rumpang
Meski payah kurangkai ulang nada
Suara menjelma lagu berbeda
Seolah pengarang tak lagi sama
Lalu kucoba mengisi sela irama
Tapi ketukan tak berpadu sempurna
Dan lirik menolak selaraskan rima
Hingga tak mampu menjamu seluruh pemirsa
Kini gema mulai lelah membalas sapa
Hanya derau yang mengalun bising di telinga
Barangkali memang harus diakhiri
Sebab tak semua rasa pantas hidup abadi
Jadi kubiarkan musik tak pernah rampung
Menyerah sajikan senandung lalu
Jika syair memang terlalu sumbang
Biarlah ia berhenti mengudara
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Hanya Melodi Rumpang
![[PUISI] Hanya Melodi Rumpang](https://image.idntimes.com/post/20260601/pexels-photo-9731983_2d1ff157-244e-498e-852c-9432d7d3e77b.jpeg)
ilustrasi tangan yang memegang partitur melodi di samping biola (Pexels.com/Daria Nekipelova)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha