Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Jam yang Memakan Usia

1 min read
[PUISI] Jam yang Memakan Usia
ilustrasi jam saku di atas kertas (pexels.com/Jennifer Field)
  • Puisi menggambarkan waktu yang berlalu diam-diam, meninggalkan kerutan dan kenangan tanpa bisa dicegah.
  • Mimpi yang terlalu lama ditunda dalam kata “nanti” digambarkan berdebu ketika kembali dibuka.
  • Kehidupan diajak untuk hadir pada setiap detik, karena hari sempurna yang terus ditunggu bisa berakhir tanpa dimulai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Waktu tak pernah mengetuk pintu
Ia masuk diam-diam melalui kerutan
Mengambil hari tanpa meminta izin
Lalu menyisakan kenangan sebagai bayaran

Ada mimpi yang ditunda terlalu lama
Disimpan rapi di bawah kata nanti
Sampai suatu ketika tangan membukanya
Dan menemukan debu di atas harapan sendiri

Jam terus berdetak tanpa belas kasihan
Membawa pergi masa yang tak bisa diulang
Setiap detik adalah sesuatu yang hilang
Sebelum sempat disebut sebagai kenangan

Mungkin hidup bukan tentang mengejar waktu
Melainkan berani hadir di setiap detik
Sebab hari yang terus ditunggu sempurna
Bisa saja berakhir tanpa pernah dimulai

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team