Biarlah waktu merampas beberapa musim
Yang pernah mekar di taman harapanku
Aku rela melihatnya gugur bersama angin
Asal bukan diriku yang tercerabut dari akar
Biarlah namaku menjadi riak yang pudar
Di permukaan danau bernama penilaian
Aku tak ingin menjadi ombak yang dipaksa besar
Hanya untuk memuaskan pandangan
Ada jalan-jalan yang tampak bercahaya
Namun meminta jiwa sebagai ongkos perjalanan
Aku memilih langkah yang lebih sunyi
Meski harus berjalan tanpa tepuk tangan
Sebab diterima oleh seluruh dunia
Tak selalu berarti menemukan tempat pulang
Kadang yang paling menyelamatkan manusia
Adalah keberanian untuk tetap menjadi dirinya seorang
Maka jika esok aku kehilangan banyak hal
Waktu, kesempatan, bahkan nama baik sekalipun
Semoga yang tersisa di dalam dada ini
Tetaplah aku, yang tak pernah tunduk untuk menjadi siapa pun
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Menyelamatkan Akar
![[PUISI] Menyelamatkan Akar](https://image.idntimes.com/post/20260601/pexels-david-kanigan-239927285-29125088_2f48d6b3-a0a9-4204-968d-3ac7bc111014.jpg)
ilustrasi menyendiri (pexels.com/David Kanigan)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha